Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2009

menjadi hujan

hampir datang sang waktu di mana setiap desah nafas bisa menjadi pahala, setiap kedip mata menjadi kebaikan dan setiap kebajikan dilipatgandakan. waktu yang seharusnya kita rindukan. Waktu yang seharusnya berani kita tukar dengan masa kapanpun, berapapun. waktu di mana sang Penguasa Waktu mengumbar janji. waktu di mana Sang Maha Adil memberi peluang kita untuk berhitung. waktu di mana Sang Maha Kuasa pun menutup pintu amarah-NYA dan membuka lebar pintu kasih sayang. waktu di mana permadani digelar untuk kita yang berharap nikmat pahala. Waktu di mana dosa-dosa dihapuskan. waktu yang menjanjikan awan dan hujan bagi kita apabila kita bersedia menjadi air. “selamat memaksimalkan Romadhon kawan. mohon maaf jika ada kesalahan” * * * kita bisa belajar dari "kearifan air" karena sifatnya yang selalu sujud (mengalir ke bawah) maka ia ditinggikan (awan) dan menghidupi (hujan)

nasehati aku

kawan, tolong nasehati aku menyangkut kebiasaanku yang selalu menyia-nyiakan waktu dan kebiasaanku menikmati ketidakterarutan dalam hidup... sahabat, kumohon nasehati aku bahwa aku harus menyediakan sepenggal jiwa dan sebentuk raga yang sehat dan fit untuk pasanganku kelak, tidak melulu untuk pekerjaanku... saudaraku, tolong nasehati aku untuk selalu bersyukur dan melihat ke bawah. aku baru bisa bersyukur melihat kesusahan dan derita orang lain karena tidak menimpa kepadaku. aku belum bisa bersyukur atas kesenangan dan kebahagiaan orang lain meskipun belum juga menghampiriku. nasehati aku untuk tidak sombong dan selalu jumawa terhadap siapapun. kumohon, sekali lagi kumohon, nasehati aku untuk tidak terlalu mencintai dunia...

selamat datang

berdegup dadaku menanti kedatanganmu. kau yang menghapus luka, membasuh perih dan menyirnakan dosa berdegup dadaku menanti kedatanganmu, dalam hitungan hari. Kau yang menelanjangiku, membuatku tak punya apa-apa sekaligus punya segalanya Berdegup hatiku menanti kedatanganmu di gerbang waktu. rasa terima kasihku, kau beri kesempatan lagi untuk bertemu. namun sekali lagi maafkan karena persiapanku tak layak berdegup dadaku menanti kehadiranmu kali ini. datanglah, singgahlah di rumahku biarkan wewangianmu bersemayam di hatiku biarkan aku mencintaimu

simbol

kau mengajariku menjadi aku aku melihatmu riang dengan kegembiraanmu kau memberikan peta yang seharusnya aku berikan kepadamu, agar kita tak salah membaca arah kau membuktikan kefanaan matematika dan kegagalan proses kimia satu tambah satu bukan dua. aku, kamu tak pernah menjadi satu dan perasaan ini bukan hasil dari ionisasi. aku, kamu tak pernah melebur kau tak pernah memaksaku melihat dari matamu dan harus mendengar dari telingamu, kau menunjukkanku siasat menggunakan mataku dan cara terbaik mendengar suara-suara kau berikan simbol dan kubaca sebagai rambu. Kau hamparkan sinyal dan kubaca sebagai petunjuk