Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2008

in sequence

ku datangi kamu di pagi tak cerah lewat kata serapah kau kirim keramahan yang tak dinyana lalu kitapun berbincang dengan arah mata angin yang tak kuhapal sebelumnya terlihat lebih jelas, atau cuma perasaanku saja aku ingin kau kirimkan harapan dengan tanda baca lalu kan ku berikan sepotong daging di dalamku

in sequence

ku datangi kamu di pagi tak cerah lewat kata serapah kau kirim keramahan yang tak dinyana lalu kitapun berbincang dengan arah mata angin yang tak kuhapal sebelumnya terlihat lebih jelas, atau cuma perasaanku saja aku ingin kau kirimkan harapan dengan tanda baca lalu kan ku berikan sepotong daging di dalamku

pesan yang pertama

pesanmu datang setelah beberapa lama alpa menanyakan sepotong waktu yang telah kita rekam dan meminta mengirimkannya lewat kotak maya kusanggupi butuh waktu menyadari waktu yang telah lewat karena kenangan itu sudah cukup mengikatku untuk tetap bergeming tak berpaling

menuju hari pertama

mendadak sekaligus tidak. berita tentang waktu pasti diterbitkannya media yang sudah hampir empat bulan dipersiapkan ini datang. tanggal terakhir yang kuterima 12 Mei. namun sang pemred mengumumkan bahwa tanggal akan dimajukan: 28 April. semua deg-degan, excite dan harap-harap cemas. maklum aku sendiri waktu mendengar tanggal itu rada panik. bukan apa-apa, sebelumnya waktu jadwal penerbitan diundur ada rasa kecewa karena tementemen dan juga kolega sudah kadung mengetahui. mereka langsung konfirmasi, “kapan sebenarnya koran lo terbit?.” pertanyaan yang belakangan ini makin hatihati kujawab, kalau dijawab pun harus sedikit diplomatis. “waktunya tinggal sebentar lagi, tunggu aja. tapi pasti terbit kok.” sekarang keadaan agak beda, aku cemas kalaukalau pada saat hari H nanti ternyata berita atau artikel yang kutulis malah tak memuaskan. padahal sewaktu dua bulan ini simulasi, semuanya ok. mulai sekarang juga, narasumber yang tadinya baru mau dihubungi dua minggu menjelang terbit jadi...

hari kemarin

Thursday, September 29, 2005 jika kau dijenguk rindu, berikan tanganmu. kibaskan sayapnya agar anginnya menyapamu. masihkah? biarkan pula ingatan itu datang. saat kita rebah, mengempas penat lalu kita bicara tentang esok yang cemerlang sempat kita rapatkan kaki dan akupun bercinta dengan hari denganmu, tanpamu

melalui sebuah waktu

wrote, Thursday, July 14, 2005 melalui sebuah waktu ya...melalui sebuah waktu, yang bersinggungan dengan kenyataan. keadaan memang tidak bisa dibohongi. aku mati kutu. sepatu dan jas yang necis yang kuidamkan, tidak cocok di tubuhku. bukan tempat mereka di sini. aku ingin meniti jalan hidup yang biasa saja, hidup yang sederhana. dengan hati sekaya Sulaiman dan seluas Muhammad. pikiran yang tidak terancam, jiwa yang tidak tercampur dengan debu jalan yang kotor. modernitas yang najis.

[belajar] bahagia

wrote, Wednesday, October 11, 2006 beberapa bulan ini Jakarta panas bukan kepalang. hujan yang dirindukan, kelihatannya mulai lupa untuk singgah. (mudah-mudahan ia tidak selingkuh). tambah lagi di bulan suci ini, makin terasa matahari seakan sedang mengeluarkan amarahnya. sejak awal puasa, agak siang aku mulai keluar rumah menuju ‘tempat kerja’. pingin cepat-cepat rasanya sampai kantor atau sampai tempat tujuan. karena biasanya di sana sudah ada angin sepoi-sepoi yang bersedia membasuh wajah tanpa diminta. lumayan sejuk setelah beberapa saat di bakar panas. jika sedang antri karena lampu jalan berwarna merah, sering juga membayangkan kalau punya mobil ber-AC, dengan sopir. enak pastinya, puasa lebih nyaman rasanya. tapi khayalan itu terhenti jika sudah ada bunyi klakson, pertanda lampu merah sudah siap berubah warna. seringkali jika sedang melaju di jalan, terlihat motor yang lainnya lebih enak dipakai, lebih resi, lebih kin...

bukan siren

wrote, Sunday, December 10, 2006 ingin menyatakan hari-hari ini tidak berbeda dengan sebelumnya sebulan, setahun lalu tapi aku bukan pembohong. ingin mengakui suara-suara itu sudah hilang tapi itu bukan aku. aku mendengar suara lebih indah dan jernih kali ini seperti orpheus mendengar nyanyian bidadari di seberang lautan. namun tak terbius

tangis ibu, tangisku

wrote, Wednesday, December 20, 2006 pasti kepulanganku membangunkan beliau dari tidurnya. maklum, pintu pagar yang tak berapa panjang itu selalu berdenyit ketika harus digeser. aku biasa sampai di rumah cukup larut jika diukur jam pulang kerja seorang pegawai yang normal. selesai ganti pakaian, beliau terlihat akan menyiapkan makan malam, buat aku tentunya. matanya terlihat memang masih mengantuk. aku memang tidak berniat untuk makan malam saat duduk di meja makan, dihadapan beliau. aku mendengarkan beliau yang mulai berbicara. jumlah tahun yang beliau jalani makin tampak di wajahnya. aku lupa kapan terakhir kali memandang wajah beliau sedalam ini (mungkin waktu lebaran kemarin). malam itu makin aku sadari bebannya selama ini tidak pernah berkurang, malah makin menumpuk. abangku yang mulai mengkhawatirkan, adikku yang selalu mengganggu pikirannya dan suaminya –atau ayahku– yang sering tak membantu meringankan bebannya, ditut...

pulang

sebenarnya aku tak ingin balik badan tapi jalan itu sudah tertutup buatku ada portal dengan lingkaran merah bergambar garis datar putih di tengahnya sebenarnya ingin mencari jalan lain tapi waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam jika tak terhalang mungkin akan ada satpam yang melarang