Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

(marhaban) mikail

23 mei 2013. Kamis malam menjelang bulan purnama, kau tiba dengan banyak syakwasangka dan doa. Tiga hari sebelumnya, bundamu menjerit menahan sakit di perutnya dan aku menyaksikannya. (sontak pikiranku berkata, "celakalah dunia dan akhirat orang-orang yang menyia-nyiakan atau memperlakukan ibunya tanpa hormat"). Sembilan bulan sebelumnya kami menaruhkepercayaan bahwa kali ini engkau akan tiba dengan cara yang normal. Dan semenjak itu kami berdua berupaya untuk mendekatkan diri, memantaskan diri agar kamu bisa lahir normal. Tiga hari sebelum purnama pada bulan Rajab itu, tanda-tanda yang kau berikan tetap menyiratkan bahwa usaha kami akan menemui hasil yang sepadan. Namun tampaknya nasib (atau takdir) berkata lain, kau tampak kesulitan mencari jalan keluar. Dan bundamu mulai kewalahan dan kehabisan tenaga untuk menunggumu lebih lama lagi. Apalagi air ketubannya sudah pecah pada sekitar jam 6.30an. Dengan keputusan yang ikhlas, aku memilih bahwa kau harus tiba dengan c...

Teka-Teka dan Misteri

Banyak sudah drama yang kita semua saksikan di layar televisi, halaman-halaman koran dan majalah dalam enam bulan belakangan ini. Hiruk pikuk dan keributan yang sudah terjadi haruslah menjadi pelajaran, seperti yang didapat oleh sopir taksi. Kisah ini diceritakan oleh seorang teman saat menumpang taksi sepanjang Kuningan-Merdeka Barat, Jakarta. Sang supir membuka percakapan soal demokrasi dan rakyat setelah mendengar siaran langsung di sebuah radi tentang pelantikan anggota DPR. “Benar enggak pak, anggota DPR itu kan wakilnya rakyat kaya kita ini. Kan 1 suara rakyat cuma memilih 1 anggota DPR,” Sang penumpang awalnya cuma ngangguk-ngangguk saja, menyangka ini hanya obrolan selintas, jadi hanya menjawab sekenanya. “Ya Benar pak,” Sopir taksi itupun makin bersemangat melanjutkan diskusi. “Jadi kan anggota DPR itu mewakili suara rakyat masing-masing yang pilih mereka. Terus engggak bisa juga gebyah uyah terus mengaku-ngaku mewakili semua suara rakyat Indonesia. Salah sendiri ...

preferensi

preferensi seringkali menjebak akal sehat. Kita selalu enggan menerima kenyataan bahwa yang lain ternyata sama saja, atau bisa jadi lebih baik.  atau hal lain.  seringkali kita tersadarkan bahwa pola pikir kita atau pendapat yang kita akui benar itu ternyata salah. tapi kita hampir selalu mengacuhkannya, karena pingin dianggap konsisten atau malah sengaja karena sudah terlanjur.  preferensi mengantarkan seseorang menjadi konsisten, namun untuk soal lain selain agama, hal itu tidak seharusnya tetap dan mati.

siaran tv

Kedua mataku tiba-tiba terasa panas. Pedas seperti sedang menelan sesuatu semacam cabe. Tiba-tiba lagi, terasa ada air bah yang luruh, menyentuh dinding bagian dalam kelopak mataku. Terasa sekali, karena mataku saat itu sedang tertutup. Air bah itu tak dapat aku tahankan. Siaran televisi itulah yang menjadi sumber pemicunya. Ketika salah satu saluran menyiarkan kisah tentang anak-anak yang memiliki kekurangan fisik. Bahkan setiap anaknya tidak hanya memiliki satu cacat, tetapi dua-tiga!!! Siaran itulah yang menyergap perhatianku, menabrak rasa nyaman kehidupanku, menasehati aku. Betapa aku dan anak-anakku sangat sangat sangat beruntung.