241209
aku mencium tangan ibumu dengan khidmat karena dia akan jadi ibuku juga, tak lama lagi. setelah dua gelas air putih hangat dan obrolan penting malam itu, hatiku jauh lebih tenang. hari itu, hari yang sama setiap pekannya di mana aku biasa terserang lelah, badanku terasa ringan belaka. jarak timur dan barat serta berpuluh-puluh angka yang berganti dari pencatat jarak di motorku serasa hanya sepelemparan batu. sebelum sampai di hadapan ibumu, kuperlukan waktu berkeliling untuk menenangkan hati meski kata-kata belum juga bisa kususun hingga akhirnya aku tiba di rumahmu. kau duduk di sampingku, sambil tepekur mendengar percakapan aku dan ibumu. kita bertiga di ruangan itu: ibumu yang bersahaja, aku yang berusaha menyembunyikan kegugupanku dan kamu yang siap membelaku dari pertanyaan-pertanyaan sulit ibumu. malam itu aku meminta kamu dari ibumu. tak ada kata-kata manis dan janji muluk. setelah ibumu mengiyakannya, aku merasa menjadi seorang lelaki. aku merasa menjadi seorang lelaki yang san...