Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Kebenaran Vs Pseudo Kebenaran

Zaman sekarang, ketika masyarakat tidak henti-hentinya dijejali dengan teknologi baru terutama di bidang informasi, butuh kepala yang ‘berisi’ dan hati yang jernih. Kepala yang berisi dan hati yang jernih dibutuhkan dalam menerima informasi yang belum tentu sebuah fakta dan fakta juga belum tentu kebenaran. Dalam beberapa literatur, fakta (bahasa latin: factus) adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia. Fakta seringkali diyakini oleh orang banyak sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat, maupun karena mereka dianggap telah melaporkan pengalaman orang lain yang sebenarnya. Sedangkan kebenaran adalah suatu sifat kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan antara suatu kepercayaan dan fakta. Atau dengan kalimat lain, kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan dengan fakta-fakta itu sendiri atau pertimbangan ( judgment ) dan situasi yang dipe...

Perubahan dan Penyangkalan

Jika sepuluh atau dua puluh tahun lalu kita masih jarang merasakan adanya perubahan besar, maka saat ini perubahan itu bisa terjadi setiap bulan bahkan setiap pekan. Perubahan yang saya maksud adalah perubahan yang memaksa kita mengubah, minimal membuat kita menyesuaikan cara hidup kita. Teknologi informasi adalah perubahan yang terjadi dalam hitungan tahun bahkan bulan. Beberapa dari kita yang mungkin baru memahami secara dangkal apa itu teknologi digital sudah harus disuguhi oleh financial technology . Belum sempat kita mengerti atau mencoba apa itu fintech, kini sudah muncul lagi teknologi blockchain (yang sebelumnya sudah didahului oleh mencuatnya mata uang digital yang bernama Bitcoin). Pemahaman kita soal perubahan seringkali tidak sejalan dengan perubahan itu sendiri. Apalagi jika menghitung bagaimana respons kita terhadap perubahan. Kadang masih terpaku untuk memilih apakah perubahan yang sedang terjadi itu merupakan sesuatu yang ‘menetap’ atau ‘akan pergi begitu saja’. ...

Empati dan Pemimpin

Dalam sebuah workshop kepemimpinan yang saya pernah ikuti, saya sempat mengambil kesimpulan bahwa setiap pemimpin itu memiliki keunikan masing-masing. Tapi ia sudah dibentuk sedari awal melalui didikan dan pengalaman, plus proses pengayaan dari diri sendiri. Setiap pemimpin itu memang berbeda-beda, tapi ada ciri-ciri umum yang bisa diketahui dan dirasakan orang banyak: dia bisa merasakan masalah yang dirasakan orang banyak dan berusaha tidak menambah bebannya. Singkatnya, pemimpin itu pasti punya sifat empati yang tinggi. Empati memang bukan syarat utama seseorang itu bisa menjadi pemimpin atau tidak, namun setidaknya jika sifat itu tidak ada maka orang itu tidak bisa disebut sebagai pemimpin. Dia harus memiliki empati ketika orang banyak, atau rakyatnya kesusahan maka dia bisa merasakan kesusahan itu sehingga tidak mau menambah kesusahan, apalagi menciptakan kesusahan baru buat rakyatnya. Ibu saya, sewaktu saya masih kecil seringkali memberi nasehat, “Jika kamu tidak mau dicu...

Disrupsi (Lagi)

Disrupsi menjadi kata yang makin lazim diucapkan banyak orang. Kata ini bisa berarti hal yang tercabut dari akarnya, seperti dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata ini juga bisa diartikan sebagai gangguan, atau masalah yang menyela suatu kejadian, kegiatan atau proses. Sejatinya kata ini lebih banyak disematkan pada perkembangan teknologi yang mengganggu status quo lembaga-lembaga keuangan. Perbankan, utamanya, langsung merespons karena khawatir (dan banyak juga analisis yang memprediksikan) bahwa lembaga itu akan digantikan dengan layanan teknologi. Dan pada akhirnya menghapus keberadaan bank. Hal itu disimpulkan dari pengalaman , misalnya, produsen fotografi film yang pada awal-awal 80-an menguasai lebih dari separo market dunia. Kemudian pada pertengahan 90-an muncul teknologi digital. Saat itu Kodak menganggap digital sebagai teknologi yang amatir dan tidak bakal bisa menggantikan keindahan dan ketajaman foto manual, karena saat itu resolusinya masih 0,1 Mega Pixe...

Resolusi

Setiap tahun baru datang, satu kata yang banyak digunakan orang adalah resolusi. Kata itu mengacu pada janji, rencana, tekad bulat yang ingin diwujudkan di tahun baru. Hal itu bisa dimaklumi, pasalnya setiap waktu berganti harapan selalu akan disematkan. Keyakinan kita bahwa bahwa besok matahari tetap akan terbit di tempat yang sama adalah pangkal dari terbitnya harapan, keinginan, rencana dan lainnya. Akan tetapi ketika resolusi sudah ditorehkan maka segenap energi kita semestinya mendukung dan siap mencapai apa yang direncanakan. Kita tidak pernah tahu dalam 365 hari ke depan kita bisa menjaga kebulatan tekad kita saat menetapkan resolusi tersebut. karena tidak ada satu jaminan pun yang mengatakan bahwa resolusi itu akan bertahan sepanjang tahun. Ada kalanya kita ter-distraksi dengan keinginan, rencana, ataupun janji lain yang tiba-tiba saja muncul di tengah jalan. Jika itu terjadi, bisa jadi kita mengubah keinginan dan janji kita itu di tengah jalan. Hal itu bukanlah sebuah tind...

Evaluasi dan Energi “Ngeles”

Menjelang akhir tahun, menjelang lembar terakhir kalender akan disobek, isu yang sering muncul adalah evaluasi. Evaluasi bukanlah kata yang mati, ia sejatinya terus bergerak sejak awal, tidak hanya menjelang suatu batas waktu tertentu. Namun sepertinya evaluasi itu seringkali menjadi semacam ritual akhir tahun yang diwarnai oleh hura-hura, atau minimal liburan yang berbungkus rapat kerja. Banyak cara untuk mengevaluasi diri. Di antaranya adalah dengan sikap jujur menilai diri sendiri. Kita tidak bisa mengevaluasi diri atau perusahaan kita jika kita menilai terlalu tinggi diri atau perusahaan kita, sikap yang sebaliknya juga tidak bisa.   Saat kita membaca ulang terhadap apa yang sudah kita lakukan sebelumnya, atau setahun ke belakanga, sikap jujur harus muncul menjadi pelaku utama. Ketika kita merasakan (dan juga ada fakta lapangan) bahwa sebuah proyek yang kita kerjakan tidak berhasil, bahkan gagal, atau sebaliknya belum sempurna, bahkan menimbulkan dampak yang merugikan, ...

Dari Andalan Jadi Ancaman

Sektor infrastruktur sepertinya sangat melekat dengan pemerintahan saat ini. Setelah digenjot di dua tahun awal sejak Presiden Joko Widodo berkantor di Istana Negara, tahun ini pemerintah meneruskan kerjanya mendorong beragam proyek infrastruktur. Proyek pemerintah pada 2017 tercatat berjumlah 245 proyek yang dituangkan dalam Proyek Strategis Nasional. Dana pendukung untuk mewujudkan program massal itu pun terus mengalir. Jika pada 2014 porsi belanja infrastruktur hanya 8,7 persen dari total APBN, angkanya kemudian dilipatduakan pada 2017 menjadi 18,6 persen. Memasuki tahun ketiga pemerintahan, sektor itu mulai menjadi ancaman bagi perekonomian. Bukan untuk mengatakan bahwa ini adalah kebijakan yang salah, hanya saja kebijakan yang membutuhkan dana yang sangat besar itu sayangnya tidak bisa dipenuhi oleh kantong sendiri. Walhasil, utang dan juga rekayasa anggaran menjadi jurus yang dipakai oleh pemerintah. Strategi itu, meski begitu, tidak steril dari risiko. Satu persatu risik...

Jebakan

Dunia ini memang penuh ujian, dan jebakan. Soal ini, orang Indonesia punya ketabahan yang luar biasa hingga pada akhirnya muncullah apa yang sering diistilahkan oleh orang Jawa dengan “ nrimo ing pandhum ”. Saat ini Indonesia tengah terjebak dalam pertumbuhan 5,01 persen. Saya bilang terjebak, karena angka pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sama persis dengan angka itu. Jadi saya bilang, kita seolah-olah terperangkap tidak bisa tumbuh lebih tinggi dari angka itu. Padahal dilihat dari potensinya, Indonesia bisa lebih dari itu. Malahan banyak pengamat yang bilang, pertumbuhan di angka tersebut otomatis sudah bisa dapatkan meski kita tidak berbuat apa-apa, alias ekonomi dalam keadaan auto-pilot . Perihal pertumbuhan yang stagnan itu, kita juga bisa mengaitkannya dengan jebakan yang lain: jebakan pendapatan kelas menengah ( middle-income trap ). ‘Mesin’ konsumsi yang selalu dibanggakan menjadi motor pertumbuhan, ditengarai kini tengah ‘ngadat’. Dalam bahasa resmi dikatakan, daya be...

Musuh

Akhir-akhir ini pemerintah tampaknya mulai melupakan salah satu kewajiban dari amanat yang diberikan rakyat padanya. Alih-alih memastikan rasa aman, Pemerintah kelihatannya lebih memilih untuk menciptakan kecemasan dan ketakutan. Pemerintah melakukannya dengan menciptakan sosok dan pihak yang digambarkan sebagai musuh-musuh yang harus dihadapi orang banyak. Kegentingan demi kegentingan diterbitkan pemerintah dalam bentuk aturan. Akhir-akhir ini pemerintah terkesan getol meruncingkan perbedaan-perbedaan, padahal tadinya bukan merupakan masalah besar di tengah-tengah masyarakat. Alih-alih merangkul semua pihak yang ada, pemerintah terlihat malah membangun jurang pemisah antara kelompok yang satu dengan yang lain. Seharusnya pemerintah –seperti sudah sering diusulkan oleh banyak pihak fokus pada inti masalah di Indonesia: keadilan sosial dan ketimpangan ekonomi. Dalam bidang sosial seperti kasus hukum, berkali-kali   pemerintah menunjukkan standar ganda dalam meng- approach ...