Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2015

cemas

Ada saat-saat di mana aku datang ke kantor dengan penuh kecemasan, tapi bukan sekarang. Dulu, ketika aku pertama kali mengecap pengalaman bekerja. ketika itu, hari sabtu dan minggu merupakan hari-hari yang sangat aku nantikan, dan kemudian mulai dijemput kekhawatiran ketika senin menjelang.Saat itu bekerja –di sebuah media, terasa begitu deg-degan. Setiap akan berangkat, perasaan selalu cemas. Sekarang perasaan itu muncul lagi dengan intensitas yang lebih ringan. Bekerja, seharusnya seperti belajar juga. Ia seharusnya memunculkan potensi-potensi diri untuk meninggikan pencapaian seseorang demi kebaikan perusahaan. Akan tetapi kalau bekerja jadi ajang unjuk kekuasaan si senior kepada yang junior, atau si bos kepada bawahan, yang muncul adalah kecemasan setiap masuk ke ruang kerja. Padahal kecemasan malah menutup potensi seseorang, menghalangi kemampuan terbaiknya untuk muncul. Jika kondisi itu berlangsung terus menerus, perusahaanlah yang akan merugi karena hanya mendapat efek dari...