Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Antara Sentimen dan Fundamental

Malang benar nasib Bank Indonesia. Sejak tahun lalu otoritas moneter ‘disindir-sindir’ pemerintah, pengamat, serta pelaku pasar karena tidak mau menurunkan suku bunga acuan untuk mendorong perekonomian. Bahkan pada rapat dewan gubernur, beberapa kali menjelang akhir tahun lalu, ketika BI mengatakan ada ruang untuk pelonggaran moneter, suku bunga acuan alias BI Rate tidak juga diturunkan. Hal itu menambah tekanan kepada bank sentral yang dianggap tidak peduli mengenai sektor riil. Januari lalu, giliran Bank Indonesia merealisasikan pernyataannya mengenai tersedianya room untuk pelonggaran dengan menurunkan BI Rate, publikasi itu ‘termakan’ hingar bingar berita mengenai teror yang menimpa Ibu Kota. Sejak menjelang siang hari, media –terutama televisi dan daring –tak henti-hentinya menyampaikan setiap detik perkembangan serangan teroris yang terjadi di kawasan bisnis dan pemerintahan, Jalan MH Thamrin, Jakarta. Akan tetapi apakah ini berarti dampak kebijakan ini akan tertelan deng...

Gaduh Freeport

Kita harus naik ke bangunan yang lebih tinggi agar kita dapat melihat keadaan sekitar lebih baik dan lebih luas. Kita harus membuat sekat-sekat rumah yang tembus pandang agar kita bisa melihat gerak-gerik orang di dalamnya. Setelah semuanya terlihat jelas, akan mudah untuk membuat rencana atau skenario untuk memuluskan kepentingan kita. Dua kondisi itu sepertinya terjadi di Indonesia, setidaknya itulah dugaan sementara saya. Lihat saja, banyak kegaduhan yang ada di Indonesia yang kerap kali membuat publik atau masyarakat menjadi alpa dan abai terhadap masalah besar yang sedang terjadi. Mari kita tidak usah melihat kegaduhan yang lalu, lihat saja yang tampak di depan mata kita saat ini. Ketika drama ‘Papa Minta Saham’ menyedot perhatian publik sedemikian rupa hingga banyak energi tersalurkan ke sana, masalah utama pun jadi terlupakan. Seharusnya pada Oktober 2015 lalu, Freeport sudah harus melepas 10,64 persen sahamnya ke pemerintah sesuai dengan komitmen divestasi. Tetapi karena k...

Krisis dan Teror

Krisis ekonomi dunia dan terorisme. Tak pernah dunia menanggung sedemikian berat seperti yang dialami belakangan ini. Di tengah pelemahan ekonomi global, beberapa kali –jika tidak mau disebut berulang-ulang kali, dunia disajikan aksi teror yang menggemparkan. Akan tetapi, kini kata ‘menggemparkan’ tampaknya sudah dimonopoli dan dikuasai oleh penguasa media. Karena sebelum serangan Jumat yang menewaskan ratusan orang di Paris, Prancis, teroris juga membombardir negara Suriah dan juga Palestina. Namun media menutupinya. Dan kita yang hanya tahu dari media mainstream seketika itu gempar melihat kejadian yang melukai rasa kemanusiaan kita. Teroris seperti namanya, memang memiliki tujuan untuk menebarkan teror, menebarkan ketakutan. Karena hanya itulah yang mereka mampu. Maka ketika orang-orang mulai terteror dan panik sehingga melakukan sesuatu dengan amarah dan tanpa pikir jernih maka salah satu tujuannya sudah tercapai. Orang-orang beradab seharusnya bisa membedakan respons terukur...

Tut Wuri Handayani

Bisa jadi rakyat memang sejenis makhluk yang bisanya mengeluh. Bisa jadi dari sananya dia hanya diberi sifat pengeluh. Apalagi jika berhadapan dengan yang namanya pemerintah. Oleh karenanya, pemerintah kemudian menjadi tempat mereka meluapkan keluhan. Pemerintahan sekarang –seperti yang lalu-lalu–juga  tidak steril dari keluhan, kritikan bahkan caci maki. Jadi jangan terlalu percaya diri menganggap bahwa segala keluhan dan kritikan baru marak terjadi kali ini. Memang harus diakui, jika melihat berjalannya pemerintah sekarang, tidak sulit menemukan para pengeluh, atau pengkritik. Apalagi setelah pengalaman perlombaan menjadi orang nomor satu di pemerintahan yang berlangsung tahun lalu. Tetapi munculnya keluhan dan kritik dari rakyat, jika mau disimak masak-masak, selalu berdasarkan fakta, meski besar kecilnya masalah bisa diperdebatkan. Karena rakyat terbiasa bersabar dan berdiam, kecuali jika memang benar-benar terpaksa. Nah , situasi terpaksa itu kemudian muncul ketika di...

Obat Kuat Nilai Tukar

Penguatan nilai tukar rupiah atas dollar AS yang terjadi sepekan pertama Oktober setelah diluncurkan paket kebijakan pemerintah. Seiring dengan penguatan itu, cadangan devisa yang dikelola Bank Indonesia harus tergerus lebih dari 9 miliar dollar AS. Sejak pekan pertama Oktober, nilai tukar rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah sebelumnya pemerintah meluncurkan dua paket kebijakan dari tiga yang dijanjikan untuk menangkal pelemahan ekonomi. Pada 9 Oktober rupiah berada di kisaran Rp13.400 an, padahal pada awal Oktober nilainya masih berada di level Rp14.600 per dollar AS. Tiga paket kebijakan yang dirilis memang memiliki tujuan berbeda-beda. Namun boleh dibilang, baru pada dua kebijakan terakhirlah nilai tukar rupiah baru mau beranjak dari posisi terlemahnya sejak krisis ’98. Lalu apakah memang penguatan nilai tukar rupiah merupakan imbas dari diluncurkannya paket-paket kebijakan itu? Jika dilihat dari runutan waktunya, jawaban dari pertanyaan di atas adalah iy...

Kapal Layar

Seorang ekonom menganalogikan ekonomi Indonesia –terkait pelemahan kurs yang saat ini terjadi, sebagai kapal besar yang terombang-ambing di tengah laut dan hanya mengandalkan layar. Ekonomi RI, bergerak sesuai mata angin kebijakan moneter global yang dihembuskan negara lain. Untuk membeli mesin pendorong kapal, di saat nilai tukar anjlok, tentu membutuhkan duit yang besar. Sejatinya pada saat nilai tukar rupiah menguat di level Rp9.000 per dollar beberapa tahun lalu, pemerintah bisa membeli mesin pendorong kapal, namun tidak dilakukan. Ketika rupiah melorot ke level 14.000-an per dollar AS belakangan semua pihak mengeluh karena harga mesinnya bisa dua kali lebih mahal dibanding sebelumnya. Dan kini, ekonomi kita tetap saja mengandalkan layar yang anginnya berasal dari kebijakan moneter negara lain. Sejak 2013, angin dari barat selalu menggoyang-goyangkan layar ketika The Federal Rerserve berniat untuk menaikkan suku bunganya sebagai tanda berakhirnya masa krisis AS yang sudah be...