Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

umur untuk berbahagia

Umur adalah penanda, bahkan bisa menjadi pertanda. (Perbedaan antara keduanya tidaklah begitu penting). Sebagian orang mungkin malah menganggap umur adalah milestone atau sebuah benchmark, di saat sebagian lainnya menganggap umur adalah mercusuar. Bagi saya umur adalah bahagia. Umur, berapapun tahun yang dilewati, dan angka yang berderet sesudah Anda dilahirkan, haruslah mengandung kebahagiaan. Sejatinya konsep ini baru saja saya resapi. Bertahun-tahun lamanya, umur saya jadikan sebagai penanda untuk hidup yang lebih panjang, lebih dewasa, dan “lebih-lebih” lainnya. Saya tanamkan pada diri ini, bahwa ketika kita bangun tidur harus ada niat untuk berbahagia, bangun dengan senyuman bukan dengan kening mengkerut mengingat masalah yang bakal dihadapi atau yang disisakan semalam sebelumnya. Ketika saya memiliki seorang istri yang cantik dan membahagiakan, serta dua anak laki-laki yang membanggakan, saya selalu menanamkan bahwa bangunlah dari tidur dengan kebahagiaan, dengan senyuman...

Pokemon

Sebulan ini (Juli 2016) kita heboh dengan kemunculan game baru: Pokemon Go. Permainan sontak menjadi viral karena sejak satu pekan setelah Nintendo dan Niantic Labs merilis game tersebut lewat salah satu media sosial,Pokemon Go telah diluncurkan di 26 Negara di Eropa. Permainan ini mengajak para penggunanya yang disebut trainer untuk mencari monster virtual yang sudah disebar dan berseliweran di berbagai tempat, dengan mengaktifkan kamera di ponsel pintarnya. Meski di Indonesia permainan ini belum resmi ditawarkan –setidaknya hingga pertengahan Juli ini sudah banyak orang Indonesia yang memainkannya tentu dengan mengunduh aplikasi yang belum disebut resmi. Berbagai dampak ikutan pun langsung muncul mengikuti kemunculan permainan ini. Salah satunya adalah bisnis transportasi online. Kini banyak poke trainer yang memesan Gojek atau Grab Bike hanya sekedar untuk mencari pokemon di jalan-jalan dan di tempat-tempat tertentu yang disebut dengan poke stop. Bahkan munculnya Pokemon d...

Riset

Indonesia memang negeri yang minim peneliti. Menurut data dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia  jumlah peneliti Indonesia hanya 90 peneliti per satu juta penduduk (data pada pertengahan Agustus tahun lalu. jumlah yang sangat minim dibandingkan jumlah peneliti Brasil yang mencapai 700 orang per 1 juta penduduk, Rusia 3.000 peneliti, India 160 peneliti, Korea 5.900 peneliti, Tiongkok 1.020 peneliti, dan Amerika Serikat yang memiliki 3.000 peneliti. Meneliti kemungkinan bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi orang Indonesia, atau bisa jadi pekerjaan menjadi periset bukanlah profesi yang menjanjikan untuk dapat dikatakan hidup layak di atas rata-rata kebanyakan penduduk. Itulah yang membuat Indonesia hanya memiliki 22.900 peneliti aktif hingga akhir tahun lalu. Presiden Joko Widodo pun mahfum dengan kondisi itu. Itulah sebabnya, ketika baru saja terpilih menjadi orang nomor satu di Indonesia, mantan Gubernur DKI Jakarta itu segera berkunjung ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indon...

Receh

Ada kalanya memang kita harus mengakui bahwa mimpi besar itu harus dimulai dengan mimpi-mimpi kecil. Hal-hal besar harus dimulai dengan hal-hal kecil. Mirip dengan yang dikatakan Leonardo da Vinci bahwa “Sukses besar adalah suatu proses dan kumpulan dari sukses-sukses kecil. Karena itu, untuk mencapai sukses besar janganlah meremehkan hal-hal kecil.” Seniman serba bisa sekaligus insinyur dan arsitek dari Italia yang hidup 1452-1519, mungkin akan memuji langkah pemerintah yang mengincar dana-dana kecil dari wajib pajak dalam program pengampunan pajak yang sudah berjalan hampir tiga bulan ini. Karena menurut Leonardo, “janganlah meremehkan hal-hal kecil”. Akan tetapi, jika Leonardo tahu bahwa sejak program itu masih jadi wacana, ketika pemerintah sudah memproklamirkan akan mengincar wajib pajak besar, mungkin dia juga akan bersalin pendapat. Kini kondisinya memang demikian. Orang-orang biasa dengan pendapatan semenjana–bukan termasuk konglomerat yang biasa menyembunyikan pajak d...

Gagal Moral

Program Tax Amnesty periode pertama yang sudah lewat sekilas mirip acara di televisi yang menawarkan properti miliaran, dengan menyebut harganya sangat murah jika dibandingkan dengan nilai lokasi strategisnya. Kemudian di ujung acara, host biasanya berkata, “Senin, harga naik.” Atau mirip pusat perbelanjaan yang menawarkan ‘diskon gila-gilaan di bulan promosi’, yang menggarisbawahi penawarannya hanya untuk bulan ini. Karena tawaran diskon gila-gilaan di tambah ‘ancaman’ “Senin harga naik”, masyarakat pun berbondong-bondong membeli yang ditawarkan itu dengan dua alasan itu, karena diskon dan karena nantinya harga naik. Fenomena munculnya puluhan konglomerat yang berturut-turut mendatangi Kantor Pajak untuk melaporkan asetnya dan membayar tunggakan pajaknya, tidak bisa dilepaskan dari alasan diskon gila-gilaan dan “Senin harga naik”. Sebut saja, pengusaha kakap James Riyadi, bos Lippo Grup bersama saudara iparnya Dato Sri Tahir pendiri Grup Mayapada. Atau Aburizal Bakrie, bo...

Disrupsi

Semua yang ada di sekeliling kita tampaknya berubah begitu cepat. Persiapan atau antisipasi yang sudah kita kantongi juga makin tidak lagi relevan, karena cepatnya perubahan. Yang mendesak dan paling tepat dilakukan adalah bergerak dan menyesuaikan. Seperti yang terjadi di bidang ekonomi. Cara kita bertransaksi sekarang ini sudah banyak berubah dibanding yang pernah kita lakukan lima sampai sepuluh tahun lalu. Bahkan seringkali kita belum sempat menyesuaikan diri dengan perubahan, sudah ada perubahan yang lain dan menyusul yang lain lagi. Hal itu makin membuat rencana-rencana dan persiapan-persiapan yang kita buat menjadi out of date . Mungkin inilah era yang dinamakan ekonomi disruptif, setelah sebelumnya berkembang istilah teknologi disruptif. Kemunculan era ini tidak bisa dilepaskan dari fenomena berkembangnya teknologi digital ketika Internet telah menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi digital itulah yang pada akhirnya mencip...

Terbaik

Tahun baru memang (harus) selalu diawali dengan optimisme baru. Optimisme baru bisa dimulai dengan semangat baru. Dan semangat baru itu bisa disulut dengan bahan bakar prestasi bagus yang telah dicapai di tahun sebelumnya. Terlihat sangat logis, dan memang itu yang harus dilakukan untuk berbuat lebih baik dan mencapai prestasi lebih baik lagi. Oleh karena itu, berita awal tahun yang menyebut Presiden Joko Widodo dinobatkan menjadi pemimpin terbaik di Asia Pasifik, bisa dilihat dari konteks tersebut. Tak tanggung-tanggung, yang menerbitkannya adalah Bloomberg, sebuah kantor berita ternama dan bisa dibilang memiliki reputasi baik. Berita soal Jokowi yang menjadi pemimpin terbaik sejatinya bisa kita kritisi dengan membuka naskah atau wawancara asli dari media global tersebut. Atau ketika kita memiliki keterbatasan dalam memahami bahasa negara lain, setidaknya kita bisa mencari sumber lain yang memberitakan hal yang sama. Kita, akan tetapi memilih jalan pintas. Di zaman digital ini ...

Boikot

Pameo pembeli adalah raja adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar di dunia bisnis. Bahkan ungkapan itu sudah menjadi hukum tak tertulis bagi produsen di mana pun di seantero dunia ini. Menurut Wikipedia motto itu muncul di awal 1914 dengan kemunculan pandangan bahwa konsumen tidak pernah salah, tidak mungkin bohong dan mempunyai ekspektasi yang tidak realistis. Jika perusahaan tetap nekat menyakiti perasaan konsumen dengan mengadopsi kebijakan yang mengakui klaim apapun yang membuat pelanggan tersinggung atau tersakiti maka bersiaplah untuk menerima kerugian yang tak terelakkan. Di belahan dunia barat, pameo itu muncul dengan istilah “The customer is always right” yang dipopulerkan oleh pengusaha-pengusaha ritel asal Amerika Serikat seperti Harry Gordon Selfridge, John Wanamaker dan Marshall Field. Mereka menganjurkan bahwa keluhan pelanggan harus ditangani secara serius sehingga mereka tidak harus merasa ditipu atau tertipu. Di Perancis istilah ini dikenal dengan “le klien n...

Jadilah Tenang

“Di dunia yang ingar bingar ini, jadilah tenang”. Cuplikan pariwara tersebut sempat sering muncul di televisi. Dan ketenangan memang sangat dibutuhkan, terutama dalam zaman yang hampir semua orang merasa berhak untuk berbicara bahkan berteriak. Zaman sekarang, terutama setelah informasi makin deras mengalir seperti tidak terkendali, hampir semua orang merasa berhak untuk berbicara dan merasa berhak berteriak-teriak. Era Globalisasi, kemudian kemunculan Internet, memang telah memudahkan praktik-praktik bisnis dan melancarkan jalannya perekonomian. Perkembangan itu, akan tetapi, juga sudah mengubah orang-orang menjadi makin berani bicara serta makin bebas bertukar informasi. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang kita rasakan kemudian arus informasi itu seperti tidak terbendung dan kita seakan tidak bisa menyaring semuanya. Ibarat makan ikan bakar, kita tidak bisa membedakan lagi mana daging yang enak dimakan dan tulang yang akan menyakiti kerongkongan. Parahnya lagi, sebagian dari k...

Jebakan

Dunia ini memang penuh ujian, dan jebakan. Soal ini, orang Indonesia punya ketabahan yang luar biasa hingga pada akhirnya muncullah apa yang sering diistilahkan oleh orang Jawa dengan “ nrimo ing pandhum ”. Saat ini Indonesia tengah terjebak dalam pertumbuhan 5,01 persen. Saya bilang terjebak, karena angka pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sama persis dengan angka itu. Jadi saya bilang, kita seolah-olah terperangkap tidak bisa tumbuh lebih tinggi dari angka itu. Padahal dilihat dari potensinya, Indonesia bisa lebih dari itu. Malahan banyak pengamat yang bilang, pertumbuhan di angka tersebut otomatis sudah bisa dapatkan meski kita tidak berbuat apa-apa, alias ekonomi dalam keadaan auto-pilot . Perihal pertumbuhan yang stagnan itu, kita juga bisa mengaitkannya dengan jebakan yang lain: jebakan pendapatan kelas menengah ( middle-income trap ). ‘Mesin’ konsumsi yang selalu dibanggakan menjadi motor pertumbuhan, ditengarai kini tengah ‘ngadat’. Dalam bahasa resmi dikatakan, daya bel...

Musuh

  Akhir-akhir ini pemerintah tampaknya mulai melupakan salah satu kewajiban dari amanat yang diberikan rakyat padanya. Alih-alih memastikan rasa aman, Pemerintah kelihatannya lebih memilih untuk menciptakan kecemasan dan ketakutan. Pemerintah melakukannya dengan menciptakan sosok dan pihak yang digambarkan sebagai musuh-musuh yang harus dihadapi orang banyak. Kegentingan demi kegentingan diterbitkan pemerintah dalam bentuk aturan. Akhir-akhir ini pemerintah terkesan getol meruncingkan perbedaan-perbedaan, padahal tadinya bukan merupakan masalah besar di tengah-tengah masyarakat. Alih-alih merangkul semua pihak yang ada, pemerintah terlihat malah membangun jurang pemisah antara kelompok yang satu dengan yang lain. Seharusnya pemerintah –seperti sudah sering diusulkan oleh banyak pihak fokus pada inti masalah di Indonesia: keadilan sosial dan ketimpangan ekonomi. Dalam bidang sosial seperti kasus hukum, berkali-kali  pemerintah menunjukkan standar ganda dalam meng- appr...

Manis dan Pahit

Ketika pemerintah sekarang memutuskan untuk menaikkan tarif listrik, untuk yang kesekian kalinya, kita patut berprasangka baik bahwa hal itu demi kemaslahatan bangsa. Saking bermanfaatnya, tidak ada satupun demonstrasi, bahkan yang paling kecil sekalipun yang digelar untuk memprotes (rencana) kebijakan ini. Kalaupun ada yang protes, itu hanya ‘buih-buih’ air di lautan media sosial. Itupun langsung diredam oleh oleh ‘ombak-ombak’ yang berasal dari mereka yang tidak sepakat dengan yang protes.                 Sebaliknya, ketika pemerintah sekarang mengumumkan prestasinya dalam menyelesaikan sebagian ruas jalan tol Trans-Jawa yang sudah dimulai 20 tahun lalu, kita harus mengapresiasinya. Bahkan kita tidak boleh mengkritisi, misalnya bahwa ruas jalan yang diperpanjang 110 kilometer dari Brebes Timur hingga Gringsing, Jawa Tengah, statusnya masih ‘tol fungsional’. Jalan tol fungsional dibuat dengan lapisa beton m...

Mengeluh

Seorang petugas kebersihan yang biasanya menyapu daun-daun yang berserakan di halaman sebuah kantor, sesekali mengeluh. “Setiap hari pekerjaanku hanya membersihkan daun-daun ini. Kalau saja pohon-pohon di sini ditebangi semuanya, tentu pekerjaanku akan lebih ringan.” Banyak di antara kita yang mengeluhkan pekerjaan atau bahkan meningkatnya kapasitas pekerjaan yang harus kita selesaikan. Kita seringkali mengeluh, “andai saja hari ini tidak ada kewajiban untuk membuat laporan tentu saya akan lebih santai, dan bisa cepat pulang.” Akan tetapi tahukah kita jika nantinya khayalan itu terwujud maka kita sendiri yang akan merugi? Jika pohon-pohon di halaman kantornya ditebang dan tidak ada lagi daun-daun kering yang tertiup angin berserakan, maka apakah perusahaan akan membutuhkan penyapu halaman? Jika tidak ada laporan yang harus dibuat seorang karyawan, maka buat apa perusahaan meng- hire Anda? Kita tidak sadar, seringkali, bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Akan tetapi...

Baru

Sesuatu yang baru biasanya selalu diekspektasikan dengan sesuatu yang lebih baik, lebih berkualitas. “Yang baru” itu, akan tetapi, biasanya juga akan mendapatkan beban tambahan: ekspektasi besar karena diperbandingkan dengan yang lalu. Seperti halnya waktu, “yang baru” itu selalu diperbandingkan dengan masa lalu, agar masa depan bisa menjadi lebih baik dari masa-masa itu. Perbandingannya biasanya menggunakan sebuah alat yaitu perolehan, achievement , atau kesuksesan. Akan tetapi “yang baru” itu biasanya hampir selalu dekat dengan kenyataan, karena ia selalu merepresentasikan masa kini, masa sekarang. Dan masa sekarang itu menjadi penting untuk membangun masa yang akan datang, masa yang seharusnya lebih baik, lebih berkualitas. Memang tidak selamanya ia yang baru itu pasti lebih baik, bahkan tidak seluruhnya ia lebih baik. Namun, yang baru itu selalu membawa harapan bahwa ia lebih baik, bisa mendekatkan kita ke tempat dan kondisi yang lebih baik. Sebagaimana yang dihadapi oleh Ot...

Merawat

Satu kata yang belakangan tengah menjadi perbincangan adalah soal merawat. Kata itu juga ber- sliweran di pikiran saya. Bermula dari mobil kepresidenan yang diberitakan mogok yang akhirnya menyeret perseteruan nama mantan presiden. Alih-alih akan membahas detail masalah itu, saya memilih membicarakan mengenai kata ‘merawat’.                 Ya, merawat. Bagaimana mungkin –meski tetap ada kemungkinan– mobil orang nomor satu di Indonesia bisa mogok? Padahal keselamatannya menjadi prioritas nomor satu negara ini. Orang biasa saja, seperti saya dan Anda, meski memiliki mobil yang usianya sudah 10 tahun sejak dibeli, jika mendapatkan perawatan atau servis rutin tentu kecil kemungkinan kendaraan kita itu mogok.                 Kata merawat juga muncul ketika Presiden joko Widodo tampil di media tengah mendatangi peliharannya yaitu kambing...

semestamu dan semestaku

Hati ini ternyata terlalu rapuh untuk menerima kalimatmu. Tapi saat ini semestamu jauh lebih penting dari semestaku. Tiga kali lipat lebih penting. Sejatinya juga di saat-saat lainnya. Hari ini tidak ada “tetapi” kekasih, tidak dari mulutku. Hanya di hatiku saja yang menyebut nama Tuhanmu, Tuhanku dengan istighfarku. Sampai saat ini kekasih, hanya kau buluh perinduku, yang membuat getaran di dadaku.

Butuh Insentif

Ekonomi seringkali dijalankan dengan insentif atau dengan disinsentif. Dan insentif atau disinsentif itu biasanya dikeluarkan oleh pemerintah atau sebuah lembaga pemilik otoritas. Akan tetapi ketika berhadapan dengan kenyataan tidaklah sesederhana itu. Tengok saja paket kebijakan yang sudah berjumlah selusin yang disodorkan pemerintahan Joko Widodo ke publik. Kebijakan yang berisi ratusan deregulasi yang sudah terbit sejak tahun lalu itu ternyata belum mampu menggerakkan mesin-mesin perekonomian secara optimal. Sepanjang kuartal pertama lalu, berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,92 persen, lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal keempat 2015 yang sebesar 5,04 persen. Memang pendapat itu bisa saja dimentahkan dengan alasan bahwa efektifitas paket kebijakan membutuhkan waktu tidak hanya setahun, bahkan bisa bertahun-tahun. Alasan itu memang masuk akal, namun demikian, setidaknya ada beberapa aturan dari selusin paket ...