Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

13

tanggal 13, ketika merpati membisikkan namamu empat elemen jadi satu, menanti satu unsurmu aku tak mau lagi menunggu, izinkan aku menjemputmu tapi aku tak membawa apa-apa tanggal 13, saat sauh makin terasa berat untuk diangkat angin barat membawa berita yang menggentarkan aku mencoba mengayuh tapi aku belum paham gesturmu tanggal 13, saat kota itu mulai kauresapi kau kunjungi aku saat seharusnya aku bersimpuh aku membauimu, meresapimu … semoga seekor burung tak lagi sekedar membawa kabar semoga ulat yang tengah mengumpulkan keberanian ini, mampu keluar dari rongganya

inbox

message sent . I wish I had a same dream . Entah apa yang ada dipikiranku saat mengirim pesan itu. aku baru bangun tidur saat membaca pesan singkatmu. kau bilang tadi malam bermimpi tentangku: semalam mimpi mas ip sama cewek berjilbab naik motor. cantik de ceweknya. tiba-tiba mimpi gitu. mudah-mudahan bener dan kesampaian ya. Amin. pesan itu sampai di saat aku tengah dikenalkan teman kepada seorang perempuan, berjilbab. aku tak mau menebak-nebak. aku juga tak ingin berharap terlalu banyak. tapi aku harus berani berbahagia. aku memang pernah berhutang kebahagian kepada seorang perempuan, tapi tampaknya aku tidak akan melunasi hutang itu kepadanya. dia (mungkin) sudah berbahagia dengan orang yang lebih berani berbahagia ketimbang aku. belakangan kata itu memang sedang kuhafalkan, kueja betul tiap hurufnya, kuresapi setiap kali menyebutnya.

melangkah

akan kulalui juga jalan itu. akan kulucuti pakaianku satu per satu seiring langkahku meniti jalan itu. dan akan kukenakan helai demi helai busana yang baru seirama dengan pijakan yang kubuat. kupilih jalan itu, tanpa bekal, tanpa peta, hanya ada petunjuk-petunjuk tersembunyi yang harus kudapatkan sendiri. mungkin tak bakal kudapat uluran tangan. Tapi aku akan menari bersama iramamu. Gesturku akan mengacu lentur gesturmu. mungkin jalan terjal itu akan melahapku, mengikis kulitku sampai tersisa tulang. namun aku punya doa. aku tahu diujung jalan ada setitik cahaya yang akan membuatku tenang. yang perlu kulakukan hanya melangkah. melangkah untuk menenangkan hati yang belakangan dipenuhi lamunan tentang masa depan. tentang rumah di tempat tenang dengan halaman luas untuk berlari-larian. rumah yang menjadi tempatku kembali setelah menjalani kerumitan hidup.

kisah seorang teman

Aku terhenyak saat seorang teman memintaku menuliskan sebuah kisah untuknya. tapi kulakukan juga karena hari ini dia sedang berbahagia. sebenarnya tak ada yang istimewa pada hari ini kecuali panasnya yang masih menyengat dan parade orang-orang berbendera warna-warni. namun bagi dia, hari ini hari yang penting dalam hidupnya. waktu yang telah mengantarkannya menjalani seperempat abad lebih kehidupan, memaksanya untuk berhenti sejenak. bagai spasi dalam kalimat, dia merasa perlu berpikir: kata apa yang harus dia tulis kemudian, huruf apa yang harus diletakkan di awal kata itu. lalu kutuliskan juga kata-kata untuk dia. kehidupan itu lebih tua dari segala benda hidup, seperti keindahan yang sudah ada sebelum benda yang indah lahir di muka bumi. juga seperti kebenaran yang sudah ada sebelum diungkapkan. dan kukatakan padanya juga soal usia (yang aku berharap mendapat nasehat juga mengenainya). “usia tidak merefleksikan apa-apa, kecuali angka-angka itu sendiri. kesabaran, kedewas...

hujan...hujan...jangan maraah...

mungkin ini pertama kali setelah sekian lama tidak menikmati butir-butir hujan yang menerpa wajahku. hujan yang muncul tiba-tiba dan menghilang seenaknya seringkali menjadi sasaran keluhan bahkan makian orang-orang. kalau boleh kasih saran, nikmati saja air hujan itu yang menyentuh kulit-kulit kita, rasakan indahnya. Aku biarkan saja butir-butir uap yang mencair sebesar biji padi menyerang wajahku. Aku nikmati saja dia merembas ke dalam jaketku bahkan jauh ke dalam kulit ariku. Tak ada yang tahu bahwa aku menikmati hujan seperti masa-masa kecil dulu.

hajar bleh

aku tak bisa menahan senyum, ketika seorang kawan tengah merintis jalan kebahagian aku tak kuasa menyembunyikan senyum, saat kawan menemukan jejak yang akan membawanya ke jalan itu aku akhirnya tersenyum dan hanya bisa bilang “sikat bleh”* *hajar Bleh, exactly

waktu

waktumu tidak bisa menungguku, pun waktuku tidak bisa menunggumu, tapi aku memutuskan untuk menunggumu di pinggir waktu. (...)