Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

cemas

Ada saat-saat di mana aku datang ke kantor dengan penuh kecemasan, tapi bukan sekarang. Dulu, ketika aku pertama kali mengecap pengalaman bekerja. ketika itu, hari sabtu dan minggu merupakan hari-hari yang sangat aku nantikan, dan kemudian mulai dijemput kekhawatiran ketika senin menjelang.Saat itu bekerja –di sebuah media, terasa begitu deg-degan. Setiap akan berangkat, perasaan selalu cemas. Sekarang perasaan itu muncul lagi dengan intensitas yang lebih ringan. Bekerja, seharusnya seperti belajar juga. Ia seharusnya memunculkan potensi-potensi diri untuk meninggikan pencapaian seseorang demi kebaikan perusahaan. Akan tetapi kalau bekerja jadi ajang unjuk kekuasaan si senior kepada yang junior, atau si bos kepada bawahan, yang muncul adalah kecemasan setiap masuk ke ruang kerja. Padahal kecemasan malah menutup potensi seseorang, menghalangi kemampuan terbaiknya untuk muncul. Jika kondisi itu berlangsung terus menerus, perusahaanlah yang akan merugi karena hanya mendapat efek dari...

Anomali

Inilah zaman anomali. Ketika sebuah kesalahan di sebuah zaman berbuah kritikan pedas dan cacian,  kesalahan yang sama saat ini mendapat dukungan hangat. Ketika keterpurukan ekonomi di sebuah zaman berbuah pemakzulan, keterpurukan yang sama kini mendapatkan pembelaan dan pujian. Kita bisa membayangkan, di zaman sebelumnya, ketika nilai tukar rupiah terperosok sampai melewati Rp13.000 per dollar AS, maka akan ada gelombang protes di jalanan, di parlemen di ruang-ruang opini media bahkan di warung-warung kopi. Kini, pejabat dengan enteng bilang bahwa pelemahan rupiah akan membuat banyak investor asing tertarik ke Indonesia. Teman-teman kuliah saya, dari statusnya di media sosial, bertanya: pejabat tersebut kuliahnya di mana? Memang itu merupakan pertanyaan retoris, yang tidak perlu dijawab, namun menyederhanakan masalah pelemahan nilai tukar bukanlah hal sepele. Pelemahan nilai tukar suatu negara, di satu sisi memang membuat barang-barang yang diproduksi suatu negeri akan lebih...

Lazimnya Pejabat

Akhir-akhir ini pejabat dan politisi adalah dua pekerjaan yang ramai dibicarakan. Pejabat dan politisi sejatinya bukanlah sebuah sebutan orang yang mengerjakan sesuatu atau profesi , seperti dokter, guru, pilot atau apoteker . Pejabat, adalah orang yang menjabat di pemerintahan, atau seseorang yang memiliki posisi penting . Atau menurut Kamus Besar  Bahasa Indonesia adalah pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur pimpinan). Sedangkan politisi atau politikus tepatnya, adalah orang yang berkecimpung di bidang politik. Akan tetapi, masyarakat kadung melabeli kedua profesi itu sebagai orang-orang yang pandai dalam menggeser makna dari kata-kata karena seringnya mereka mengganti arti sebenarnya dari kata-kata . Misalnya, jika ada pejabat yang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa diintervensi, maka pikiran kita langsung menyusuri sebuah kesimpulan bahwa baru saja dia mendapatkan intervensi dari pihak lain. Mereka dianggap terlalu sering mengumbar bahasa politik dan b...