Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

alumni?

Sebuah keluarga mengunjungiku. bersama ketiga anaknya, suami istri itu menceritakan pengalaman yang dialami hampir sembilan tahun belakangan. Idham sang anak tertua menderita penyakit mengenaskan, pembuluh darah merahnya pecah sejak usianya tiga bulan. “Kulitnya kuning semua saat itu,” kata Septian, sang ayah. sejak itu, Idham harus selalu ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan rutin. cuci darah, terapi dan lain-lain. aku menoleh ke anak itu, dengan seluruh iba yang aku punya. Tubuhnya lemas tak berdaya. “Dia tida bisa berdiri,” tambah sang ayah dengan kesedihan yang ditahan. Memang bocah sembilan tahun itu kulihat hanya bisa rebah, jika harus duduk, sepertinya tulang belakangnya tidak kuat menahan tubuhnya berlama-lama. anak itu juga hanya bisa bergerak dengan pantatnya jika ingin berpindah tempat, kemudian harus segera bersandar. Dia harus dipapah untuk sekedar menegakkan badannya dan itu harus dilakukan sang ayah karena ibunya sudah tidak kuat lagi. Tangannya tergulung, jemarinya...

(tanpa) sesal

seperti melumuri seluruh badan dengan kotoran seperti menyirami seluruh lantai rumah dengan air comberan, aku merobohkan bangunan yang aku susun selama ini, dalam sehari

adikku

menjadi yang lebih tua, seharusnya menjadi lebih arif dan penyabar. dalam rumah yang nyaris semua anggotanya adalah lelaki, emosi seringkali menyambar-nyambar seperti petir yang mangawali hujan lebat. kemarahan mudah sekali tersulut hal-hal yang menyangkut ego kelelakian. aku akui, pertengkaran itu sudah aku persiapkan, setelah melihat sepatuku tidak ada di tempatnya. mudah sekali aku keluarkan kata kasar itu, dan adikku –yang memang keras kepala- menyambut dengan kegarangan yang tak mau kalah. selanjutnya mudah ditebak. suara-suara keras menggema di dalam rumah yang tak seberapa besarnya itu (aku yakin suara-suara itu sampai juga ke pintu-pintu rumah kiri-kanan tempat tinggal kami). adikku pergi, aku ke meja makan. aku makan masakan yang disiapkan ibuku yang memang ada di situ dan mendengar pertengkaran kami. ibu mendekat dan bercerita soal adikku. adikku dulu sempat mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak sadarkan diri selama berjam-jam. “Waktu itu duit tinggal 1.500, ayah engga b...

terima kasih

terima kasih untuk perubahan itu. saat kamu memutuskan untuk keluar dari pintu halte, hariku berubah sempurna. saat kau memutuskan untuk menunggu di ujung jalan itu, gaun putihmu memandu langkahku. terima kasih untuk senyummu. saat aku melihatmu dari sudut mataku yang sempit ini, tidak ada yang lebih menenangkan kecuali pantulan sepotong wajah itu. terima kasih untuk perasaan itu. saat kau persilakan aku masuk. tak ada yang lebih menggetarkan dari itu. terima kasih untuk hari yang indah

perempuan dan periuk nasi

Suara perempuan itu selalu kudengar beberapa hari belakangan, di pagi saat mata ingin melanjutkan ketidakberdayaannya menahan kantuk. Aku terbiasa melanjutkan tidurku yang tak sempurna setelah sholat shubuh yang beberapa tahun ini selalu kalah cepat dengan sinar matahari yang menembus jendela kamarku. Suara itu juga kudengar melalui jendela kamar yang jarang dibersihkan. Perempuan itu tampak kerepotan. Tangan kanan menenteng kantong plastik seukuran tasku di lipatan jemarinya, tangan kanan menenteng wadah plastik tepat diantara pergelangan tangan dan sikutnya. Sementara dia juga harus menggendong anaknya yang masih balita. “Nasi uduk…gorengan…” lantang teriakannya masih asing di telingaku. Mungkin dia baru beberapa hari berkeliling di sekitar lingkungan tempat tinggalku. “Nasi uduk bu…gorengan bu…” dia sapa setiap orang yang ditemuinya. Beberapa kali dia hilir mudik lewat depan rumahku dengan tekanan suara yang sama. Setelah itu sunyi, mungkin karena aku sudah melanjutkan tidurku yang ...

terkecoh

Nice to know you, seems like a goodbye-phrase to me. yang aku takutkan tidak terjadi. ternyata, bahasa pesan singkat seringkali menjebak perasaan untuk menyangka sesuatu yang bahkan jauh dari yang dimaksud. syukurlah pesan singkat dan responsnya tidak berakibat fatal karena aku selalu membayangkan ekspresi seseorang saat membaca sepotong pesan di layar ponsel. seringkali pikiranku yang tak seberapa luas ini langsung mengartikan kemarahan pada beberapa kata singkat yang ada dalam inbox . perempuan memang selalu punya seribu bahasa untuk mengecoh perasaan kaum adam yang selalu menafsirkan segalanya dari permukaan. Lelaki seringkali tidak sadar bahwa hati seorang perempuan kadang lebih dalam dari samudera. ocean sizes a woman’s heart . namun di atas semua itu perempuan juga punya seribu keunikan untuk mempesonaku, salah satunya yang sering kudengar dari ujung telepon genggamku.