untuk kamu
Perlu banyak ilmu untuk mengarungi ombakmu dan riak-riak kecil itu. pengetahuannku akan samuderamu cuma sejengkal, pendalamanku akan arah angin dan bintang gemintang hanya semata kaki. sejak aku injakan kaki di pantai itu, angin membisikkan sesuatu kepadaku. “Jika sudah mendapatkan yang terbaik buat apa mencari lagi yang lebih baik. sudah, tuntaskan saja pencarianmu, karena kamu sudah dipertemukan” sejak saat itu tidak ada lagi puisi yang bisa kutulis. Juga tidak ada lagi syair yang bisa kuciptakan. lidahku kelu mengucapkan pujian, tanganku keram menuliskan keindahan. karena wujudmu dan pesonamu sudah mencakup semuanya. Angin kembali membisikiku, “apalagi yang kau cari, bukanlah yang paling penting di dunia ini justru tidak berada di dunia ini?” kamu tidak hanya cantik tapi juga indah. itu bukan rayuan, itu adalah pantulan perasaan yang menyembur. aku berdoa semoga kau menyempurnakan kekuranganku dan mengendalikan kelebihanku, seumur hidup aku tetap melangkahkan kaki. ketakutanku akan ...