Postingan

Menampilkan postingan dari 2009

untuk kamu

Perlu banyak ilmu untuk mengarungi ombakmu dan riak-riak kecil itu. pengetahuannku akan samuderamu cuma sejengkal, pendalamanku akan arah angin dan bintang gemintang hanya semata kaki. sejak aku injakan kaki di pantai itu, angin membisikkan sesuatu kepadaku. “Jika sudah mendapatkan yang terbaik buat apa mencari lagi yang lebih baik. sudah, tuntaskan saja pencarianmu, karena kamu sudah dipertemukan” sejak saat itu tidak ada lagi puisi yang bisa kutulis. Juga tidak ada lagi syair yang bisa kuciptakan. lidahku kelu mengucapkan pujian, tanganku keram menuliskan keindahan. karena wujudmu dan pesonamu sudah mencakup semuanya. Angin kembali membisikiku, “apalagi yang kau cari, bukanlah yang paling penting di dunia ini justru tidak berada di dunia ini?” kamu tidak hanya cantik tapi juga indah. itu bukan rayuan, itu adalah pantulan perasaan yang menyembur. aku berdoa semoga kau menyempurnakan kekuranganku dan mengendalikan kelebihanku, seumur hidup aku tetap melangkahkan kaki. ketakutanku akan ...

Membaca Pertanda

Sejak awal penciptaan, manusia memiliki rasa ingin tahu yang besar yang bahkan sering menjadi bumerang karena rasa itu juga menimbulkan keinginan untuk mendapatkan jawaban secepatnya. Ribuan tahun yang lalu Ibrahim melihat bulan, bintang dan matahari yang kemudian menyimpulkan bahwa benda-benda itu adalah penguasa alam semesta. Kemudian manusia-manusia sesudah Ibrahim mulai memperhatikan peredaran dan pergerakan benda-benda langit untuk mengampu mereka dalam menjalani kehidupan, mengelola alam. Astronomi kemudian menjadi ilmu yang paling awal disusun manusia bergandengan dengan filsafat. Namun setelah beribu-ribu tahun berlalu, hingga saat ini manusia belum bisa membaca pertanda gejala alam berupa bencana, padahal manusia sudah memetakan isi bumi ini dari teropong yang dipasang di luar angkasa. Di kalangan orang Jawa –tanpa menafikan suku-suku lain di Indonesia- dikenal banyak istilah yang mewakili kearifan masyarakatnya dalam membaca sinyal-sinyal alam. Banyak ungkapan yang mewakili k...

daya dorong keluarga pendorong gerobak

deretan kelompok-kelompok orang di pinggir jalan itu semakin rapat. Mungkin mereka sebuah keluarga mungkin hanya sanak saudara dan beberapa tampak sendirian. Dalam gelap mereka hening menunggu cahaya lampu kendaraan yang lewat menerpa wajah mereka. Tampak wajah mereka, anak-anak, dewasa, tua, lelaki perempuan terkena lampu sorot sepeda motorku yang sudah ratusan kali melewati jalur itu. mereka ada lagi jelang beberapa hari menuju Lebaran. seperti tahun lalu, berjejer bersama dan bermalam di sisi gerobak-gerobak mereka. aku ingin tahu apa yang ada dibenak mereka. Apa yang ada dalam pikiran mereka saat kendaraan-kendaran yang menderu di depan mereka hanya sekedar lewat dan hanya nafasnya saja yang sampai. tidakkah mereka berharap kendaraan, salah satu saja, berhenti di depan mereka malam itu? apakah lelah mereka –setelah menempuh perjalan dari “rumah” dan “kampung halaman” yang sebenarnya- terbayar jikalau salah satu penumpang yang ada di dalam mobil turun dan memberikan bingkisan? kenya...

Pragmatisme Puasa

Manusia memang pada dasarnya adalah makhluk pragmatis, yang nyaris untuk semua hal menggunakan kalkulasi rugi untung. Meskipun tidak semua perhitungan rugi dan untung itu harus berhubungan dengan uang atau hal-hal lain yang bersifat materi. Dalam ranah ekonomi, untung rugi ini bisa diistilahkan cost and benefit , dalam akuntansi bisa disebut profit dan loss . Dalam ranah moral-agama istilah itu kemudian menjadi mudharat dan manfaat. Mungkin karena didorong sifat pragmatis itu, memasuki bulan Ramadan yang identik dengan ibadah puasa, mesjid mendadak menjadi ramai kendati kemudian keramaian ini juga merambah ke pasar-pasar. Bukan cuma itu, televisi juga tak ketinggalan menggelar acara yang bisa menangguk untung besar dari momen puasa. Buku-buku bertema puasa puasa pun tiba-tiba saja jadi tren baru. Bahkan –meski belum ada data resmi- tingkat kejahatan biasanya berkurang karena setiap orang yang mengaku muslim berusaha menahan diri. (Tapi kemudian tingkat kejahatan biasanya meningkat jela...

menjadi hujan

hampir datang sang waktu di mana setiap desah nafas bisa menjadi pahala, setiap kedip mata menjadi kebaikan dan setiap kebajikan dilipatgandakan. waktu yang seharusnya kita rindukan. Waktu yang seharusnya berani kita tukar dengan masa kapanpun, berapapun. waktu di mana sang Penguasa Waktu mengumbar janji. waktu di mana Sang Maha Adil memberi peluang kita untuk berhitung. waktu di mana Sang Maha Kuasa pun menutup pintu amarah-NYA dan membuka lebar pintu kasih sayang. waktu di mana permadani digelar untuk kita yang berharap nikmat pahala. Waktu di mana dosa-dosa dihapuskan. waktu yang menjanjikan awan dan hujan bagi kita apabila kita bersedia menjadi air. “selamat memaksimalkan Romadhon kawan. mohon maaf jika ada kesalahan” * * * kita bisa belajar dari "kearifan air" karena sifatnya yang selalu sujud (mengalir ke bawah) maka ia ditinggikan (awan) dan menghidupi (hujan)

nasehati aku

kawan, tolong nasehati aku menyangkut kebiasaanku yang selalu menyia-nyiakan waktu dan kebiasaanku menikmati ketidakterarutan dalam hidup... sahabat, kumohon nasehati aku bahwa aku harus menyediakan sepenggal jiwa dan sebentuk raga yang sehat dan fit untuk pasanganku kelak, tidak melulu untuk pekerjaanku... saudaraku, tolong nasehati aku untuk selalu bersyukur dan melihat ke bawah. aku baru bisa bersyukur melihat kesusahan dan derita orang lain karena tidak menimpa kepadaku. aku belum bisa bersyukur atas kesenangan dan kebahagiaan orang lain meskipun belum juga menghampiriku. nasehati aku untuk tidak sombong dan selalu jumawa terhadap siapapun. kumohon, sekali lagi kumohon, nasehati aku untuk tidak terlalu mencintai dunia...

selamat datang

berdegup dadaku menanti kedatanganmu. kau yang menghapus luka, membasuh perih dan menyirnakan dosa berdegup dadaku menanti kedatanganmu, dalam hitungan hari. Kau yang menelanjangiku, membuatku tak punya apa-apa sekaligus punya segalanya Berdegup hatiku menanti kedatanganmu di gerbang waktu. rasa terima kasihku, kau beri kesempatan lagi untuk bertemu. namun sekali lagi maafkan karena persiapanku tak layak berdegup dadaku menanti kehadiranmu kali ini. datanglah, singgahlah di rumahku biarkan wewangianmu bersemayam di hatiku biarkan aku mencintaimu

simbol

kau mengajariku menjadi aku aku melihatmu riang dengan kegembiraanmu kau memberikan peta yang seharusnya aku berikan kepadamu, agar kita tak salah membaca arah kau membuktikan kefanaan matematika dan kegagalan proses kimia satu tambah satu bukan dua. aku, kamu tak pernah menjadi satu dan perasaan ini bukan hasil dari ionisasi. aku, kamu tak pernah melebur kau tak pernah memaksaku melihat dari matamu dan harus mendengar dari telingamu, kau menunjukkanku siasat menggunakan mataku dan cara terbaik mendengar suara-suara kau berikan simbol dan kubaca sebagai rambu. Kau hamparkan sinyal dan kubaca sebagai petunjuk

mengunjungimu

Gambar
Menyapamu dari jarak sedekat ini menyadarkanku bahwa aku terlalu cepat dijemput rindu. Aku sudah pernah memiliki kehilangan, beberapa kali bahkan. Namun ketika mata ini memandang ke arah lain, dan tak ada kamu di situ, kehilangan memaksaku ke arahnya. Kotamu yang dingin menyemangatiku seperti kakakmu yang menggebu-gebu menggelar kisah tentangmu. Aku dan kawanku yang berkunjung –setelah sehari sebelumnya menjejakkan kaki di bumi yang telah menyumbang segelembung emas di puncak monas- terkesima dengan cerita itu. Minimal kakakmu telah membukakan beberapa halaman pertama dari buku berjudul “kamu”. Pedalamanku masih segar, meskipun perutku sempat mual ketika berkendara melewati berpuluh-puluh kelokan, di sisi ngarai, jurang sebelum akhirnya sampai di kota persinggahanmu. Kenapa aku sebut persinggahan? Karena itulah yang kamu katakan padaku sebelumnya. Karena hingga kini kau masih menghitung hari di mana kamu ingin menikmati waktumu di kota yang lain. Aku melihatmu dari jarak sedekat ini, s...

spasi

aku tersungkur, dan aku bersyukur kamu kembali untuk meraih tanganku. kugenggam tanganmu dan bangkitkan aku. namun kau meneruskan perjalanan tanpa menoleh. langkah-langkah berikutnya mungkin akan berat karena kakiku tertahan lidahku.

alumni?

Sebuah keluarga mengunjungiku. bersama ketiga anaknya, suami istri itu menceritakan pengalaman yang dialami hampir sembilan tahun belakangan. Idham sang anak tertua menderita penyakit mengenaskan, pembuluh darah merahnya pecah sejak usianya tiga bulan. “Kulitnya kuning semua saat itu,” kata Septian, sang ayah. sejak itu, Idham harus selalu ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan rutin. cuci darah, terapi dan lain-lain. aku menoleh ke anak itu, dengan seluruh iba yang aku punya. Tubuhnya lemas tak berdaya. “Dia tida bisa berdiri,” tambah sang ayah dengan kesedihan yang ditahan. Memang bocah sembilan tahun itu kulihat hanya bisa rebah, jika harus duduk, sepertinya tulang belakangnya tidak kuat menahan tubuhnya berlama-lama. anak itu juga hanya bisa bergerak dengan pantatnya jika ingin berpindah tempat, kemudian harus segera bersandar. Dia harus dipapah untuk sekedar menegakkan badannya dan itu harus dilakukan sang ayah karena ibunya sudah tidak kuat lagi. Tangannya tergulung, jemarinya...

(tanpa) sesal

seperti melumuri seluruh badan dengan kotoran seperti menyirami seluruh lantai rumah dengan air comberan, aku merobohkan bangunan yang aku susun selama ini, dalam sehari

adikku

menjadi yang lebih tua, seharusnya menjadi lebih arif dan penyabar. dalam rumah yang nyaris semua anggotanya adalah lelaki, emosi seringkali menyambar-nyambar seperti petir yang mangawali hujan lebat. kemarahan mudah sekali tersulut hal-hal yang menyangkut ego kelelakian. aku akui, pertengkaran itu sudah aku persiapkan, setelah melihat sepatuku tidak ada di tempatnya. mudah sekali aku keluarkan kata kasar itu, dan adikku –yang memang keras kepala- menyambut dengan kegarangan yang tak mau kalah. selanjutnya mudah ditebak. suara-suara keras menggema di dalam rumah yang tak seberapa besarnya itu (aku yakin suara-suara itu sampai juga ke pintu-pintu rumah kiri-kanan tempat tinggal kami). adikku pergi, aku ke meja makan. aku makan masakan yang disiapkan ibuku yang memang ada di situ dan mendengar pertengkaran kami. ibu mendekat dan bercerita soal adikku. adikku dulu sempat mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak sadarkan diri selama berjam-jam. “Waktu itu duit tinggal 1.500, ayah engga b...

terima kasih

terima kasih untuk perubahan itu. saat kamu memutuskan untuk keluar dari pintu halte, hariku berubah sempurna. saat kau memutuskan untuk menunggu di ujung jalan itu, gaun putihmu memandu langkahku. terima kasih untuk senyummu. saat aku melihatmu dari sudut mataku yang sempit ini, tidak ada yang lebih menenangkan kecuali pantulan sepotong wajah itu. terima kasih untuk perasaan itu. saat kau persilakan aku masuk. tak ada yang lebih menggetarkan dari itu. terima kasih untuk hari yang indah

perempuan dan periuk nasi

Suara perempuan itu selalu kudengar beberapa hari belakangan, di pagi saat mata ingin melanjutkan ketidakberdayaannya menahan kantuk. Aku terbiasa melanjutkan tidurku yang tak sempurna setelah sholat shubuh yang beberapa tahun ini selalu kalah cepat dengan sinar matahari yang menembus jendela kamarku. Suara itu juga kudengar melalui jendela kamar yang jarang dibersihkan. Perempuan itu tampak kerepotan. Tangan kanan menenteng kantong plastik seukuran tasku di lipatan jemarinya, tangan kanan menenteng wadah plastik tepat diantara pergelangan tangan dan sikutnya. Sementara dia juga harus menggendong anaknya yang masih balita. “Nasi uduk…gorengan…” lantang teriakannya masih asing di telingaku. Mungkin dia baru beberapa hari berkeliling di sekitar lingkungan tempat tinggalku. “Nasi uduk bu…gorengan bu…” dia sapa setiap orang yang ditemuinya. Beberapa kali dia hilir mudik lewat depan rumahku dengan tekanan suara yang sama. Setelah itu sunyi, mungkin karena aku sudah melanjutkan tidurku yang ...

terkecoh

Nice to know you, seems like a goodbye-phrase to me. yang aku takutkan tidak terjadi. ternyata, bahasa pesan singkat seringkali menjebak perasaan untuk menyangka sesuatu yang bahkan jauh dari yang dimaksud. syukurlah pesan singkat dan responsnya tidak berakibat fatal karena aku selalu membayangkan ekspresi seseorang saat membaca sepotong pesan di layar ponsel. seringkali pikiranku yang tak seberapa luas ini langsung mengartikan kemarahan pada beberapa kata singkat yang ada dalam inbox . perempuan memang selalu punya seribu bahasa untuk mengecoh perasaan kaum adam yang selalu menafsirkan segalanya dari permukaan. Lelaki seringkali tidak sadar bahwa hati seorang perempuan kadang lebih dalam dari samudera. ocean sizes a woman’s heart . namun di atas semua itu perempuan juga punya seribu keunikan untuk mempesonaku, salah satunya yang sering kudengar dari ujung telepon genggamku.

resensi

aku membacamu lembar demi lembar, halaman demi halaman. menurutku kamu adalah buku yang paling menarik di dunia. Kamu bilang, “don’t judge a book from its cover,” dan kau tunjukkan aku baris demi baris kata yang ada di sekujurmu, di pedalamanmu agar aku bisa lebih adil. kali ini kau ajari aku membaca bahasamu setelah kemarin kau temani aku memilih judulnya. aku, kamu membaca dalam halaman yang sama. membalik halaman berikutnya ketika sampai pada kalimat terakhir. tapi jangan dulu kau suruh aku meresensi, tidak, sebelum aku selesai membaca. sampai aku mengerti isimu.

story

I've traded off my time and its worth. she was sitting in a canopy halt, reading a black-red book's cover with calm. I stopped by and reached her hand to walk along side by side. I pointed to the way ahead with light sparkling. “Having you beside never made me afraid to get through the darkside around,” I said. Our stony path was not wide enough for us to walk side by side, so we walked in sequence. But I still got her finger clasped. We surrounded by thousand of flowers, one of them named after her. And my story has just began. I started have a braveheart to get happiness

harapan lagi

terantuk pada langkah pertama, namun aku bangkit lagi. nyaris dijemput kekhawatiran karena praduga yang tak beralasan tetapi untungnya aku bertanya. ternyata buat dia itu bukan masalah. tampaknya akan makin banyak kata “maaf” yang akan aku ucapkan karena ketidaktahuanku atas gestur kata-katanya yang ranum. Namun hari ini aku bahagia mendengar senyumnya dari seberang gagang telepon. renyah tawa kecilnya berbalut pesan bahwa aku tak bisa menemuinya lagi sebelum dia kembali ke kota B, tak terlalu aku sesali. aku mulai menaruh harapan pada perempuan ini, sesuatu yang mungkin tidak pada tempatnya karena kami baru saja kenal. waktu dan jarak akan menjelaskan padaku apakah harapan itu bisa datang menghampiri dan perempuan itulah yang akan membukakanku pintu saat aku pulang larut.

13

tanggal 13, ketika merpati membisikkan namamu empat elemen jadi satu, menanti satu unsurmu aku tak mau lagi menunggu, izinkan aku menjemputmu tapi aku tak membawa apa-apa tanggal 13, saat sauh makin terasa berat untuk diangkat angin barat membawa berita yang menggentarkan aku mencoba mengayuh tapi aku belum paham gesturmu tanggal 13, saat kota itu mulai kauresapi kau kunjungi aku saat seharusnya aku bersimpuh aku membauimu, meresapimu … semoga seekor burung tak lagi sekedar membawa kabar semoga ulat yang tengah mengumpulkan keberanian ini, mampu keluar dari rongganya

inbox

message sent . I wish I had a same dream . Entah apa yang ada dipikiranku saat mengirim pesan itu. aku baru bangun tidur saat membaca pesan singkatmu. kau bilang tadi malam bermimpi tentangku: semalam mimpi mas ip sama cewek berjilbab naik motor. cantik de ceweknya. tiba-tiba mimpi gitu. mudah-mudahan bener dan kesampaian ya. Amin. pesan itu sampai di saat aku tengah dikenalkan teman kepada seorang perempuan, berjilbab. aku tak mau menebak-nebak. aku juga tak ingin berharap terlalu banyak. tapi aku harus berani berbahagia. aku memang pernah berhutang kebahagian kepada seorang perempuan, tapi tampaknya aku tidak akan melunasi hutang itu kepadanya. dia (mungkin) sudah berbahagia dengan orang yang lebih berani berbahagia ketimbang aku. belakangan kata itu memang sedang kuhafalkan, kueja betul tiap hurufnya, kuresapi setiap kali menyebutnya.

melangkah

akan kulalui juga jalan itu. akan kulucuti pakaianku satu per satu seiring langkahku meniti jalan itu. dan akan kukenakan helai demi helai busana yang baru seirama dengan pijakan yang kubuat. kupilih jalan itu, tanpa bekal, tanpa peta, hanya ada petunjuk-petunjuk tersembunyi yang harus kudapatkan sendiri. mungkin tak bakal kudapat uluran tangan. Tapi aku akan menari bersama iramamu. Gesturku akan mengacu lentur gesturmu. mungkin jalan terjal itu akan melahapku, mengikis kulitku sampai tersisa tulang. namun aku punya doa. aku tahu diujung jalan ada setitik cahaya yang akan membuatku tenang. yang perlu kulakukan hanya melangkah. melangkah untuk menenangkan hati yang belakangan dipenuhi lamunan tentang masa depan. tentang rumah di tempat tenang dengan halaman luas untuk berlari-larian. rumah yang menjadi tempatku kembali setelah menjalani kerumitan hidup.

kisah seorang teman

Aku terhenyak saat seorang teman memintaku menuliskan sebuah kisah untuknya. tapi kulakukan juga karena hari ini dia sedang berbahagia. sebenarnya tak ada yang istimewa pada hari ini kecuali panasnya yang masih menyengat dan parade orang-orang berbendera warna-warni. namun bagi dia, hari ini hari yang penting dalam hidupnya. waktu yang telah mengantarkannya menjalani seperempat abad lebih kehidupan, memaksanya untuk berhenti sejenak. bagai spasi dalam kalimat, dia merasa perlu berpikir: kata apa yang harus dia tulis kemudian, huruf apa yang harus diletakkan di awal kata itu. lalu kutuliskan juga kata-kata untuk dia. kehidupan itu lebih tua dari segala benda hidup, seperti keindahan yang sudah ada sebelum benda yang indah lahir di muka bumi. juga seperti kebenaran yang sudah ada sebelum diungkapkan. dan kukatakan padanya juga soal usia (yang aku berharap mendapat nasehat juga mengenainya). “usia tidak merefleksikan apa-apa, kecuali angka-angka itu sendiri. kesabaran, kedewas...

hujan...hujan...jangan maraah...

mungkin ini pertama kali setelah sekian lama tidak menikmati butir-butir hujan yang menerpa wajahku. hujan yang muncul tiba-tiba dan menghilang seenaknya seringkali menjadi sasaran keluhan bahkan makian orang-orang. kalau boleh kasih saran, nikmati saja air hujan itu yang menyentuh kulit-kulit kita, rasakan indahnya. Aku biarkan saja butir-butir uap yang mencair sebesar biji padi menyerang wajahku. Aku nikmati saja dia merembas ke dalam jaketku bahkan jauh ke dalam kulit ariku. Tak ada yang tahu bahwa aku menikmati hujan seperti masa-masa kecil dulu.

hajar bleh

aku tak bisa menahan senyum, ketika seorang kawan tengah merintis jalan kebahagian aku tak kuasa menyembunyikan senyum, saat kawan menemukan jejak yang akan membawanya ke jalan itu aku akhirnya tersenyum dan hanya bisa bilang “sikat bleh”* *hajar Bleh, exactly

waktu

waktumu tidak bisa menungguku, pun waktuku tidak bisa menunggumu, tapi aku memutuskan untuk menunggumu di pinggir waktu. (...)

saya kira kita butuh sistem

Apa penyebabnya karyawan baik berubah menjadi karyawan buruk, pegawai rajin iri dengan pegawai malas, pegawai penuh komitmen tiba-tiba kehilangan semangat kerja? dan lambat laun semua prestasi kerja jadi memburuk. Apa yang membuat orang enggan meningkatkan potensi kerjanya atau memperbaiki kinerjanya di kantor? Sistem. Pemimpin tidak cukup membanggakan dirinya (dahulu) sangat hebat, bisa diandalkan dan meminta bawahan untuk meniru dirinya. Orang-orang masa lalu, tidak lagi cukup membanggakan masa keemasannya untuk membangun semangat teman-teman sekerja yang masuk dalam orang-orang masa kini. Butuh sistem. Bagaimana seseorang mengejar tujuan institusi tempatnya bekerja, jika tujuannya sendiri tidak dipahami. Bagaimana seseorang bisa berkontribusi maksimal memajukan perusahaan jika visi yang harus dia terapkan selama bekerja, dia tidak mengerti. Saya kira harus ada sistem. Sistem ada untuk menghindari mekanisme reward and punishment yang keliru. agar orang yang dihukum merasa...

simpul suram

Kadang aku merasa ingin menghilangkan sebagian periode dalam hidupku yang aku anggap tak menyenangkan. Itu adalah suatu periode ketika aku bertemu dengan seseorang di suatu simpul kehidupan dan menganggapnya sebagai pengalaman yang –kalau boleh memilih- tidak ingin aku ulangi lagi. Periode tersebut bukanlah sebuah pengalaman pahit. Hanya saja pertemuanku dengan seseorang atau kelompok, atau pengalamanku berada dalam sebuah institusi, dalam suatu waktu tersebut, aku rasakan tidak cocok dengan sifatku. Sehingga aku buru-buru menutup kemungkinan untuk bersama mereka lagi. Aku dilahirkan dalam lingkungan di mana tutur kata menjadi pedoman dan ukuran kesombongan seseorang. Tingkah laku menjadi acuan dari kejujuran. (Meski keberterusterangan tidak selalu muncul untuk memutuskan masalah, atau mencoba mengetahui masalah). Aku tak terbiasa merasakan intimidasi dari orang-orang yang berkuasa dan sok berkuasa. Suatu waktu menjilat pantat atasan dan waktu lain menginjak kepala bawaha...

tahun ini

Waktu selalu genting karena menyerupai pedang Waktu selalu mewah karena juga menyerupai uang. Waktu saat ini memberiku tiga kesempatan menyerupai angan-angan, Impian di rumah, impian di langit dan impian di surga. semua atau salah satu bisa didapatkan tahun ini

aku yang aneh

kadang aku sendiri menganggap diriku aneh. aku menyayangi, sangat menyayangimu lebih dari perasaan sayangku kepada siapapun. mungkin perasaan yang berlebih itulah yang membuatku berat berpisah denganmu. sangat berat. Mengapa justru saat kita dekat, aku kehilangan bagian dariku yang kukenal. Bagian yang seringkali menjadi penting itu tidak muncul. Saat kau butuh teman, justru sisi diriku yang oleh teman yang lain dianggap menyenangkan, ragu-ragu untuk menampakkan bentuknya: aku lupa cara menghiburmu. Memang aneh! Berbeda jika yang kuhadapi bukan kamu. Lelucon itu mengalir saja tanpa memikirkan risiko tak mendapat respons senyuman atau tertawa cekikikan. Aku ingin bilang padamu bahwa aku juga tidak mengerti mengapa demikian. Mengapa justru kata-kata hilang pada saat seperti itu? saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasihat bijak atau sekedar humor segar yang bisa mengungkap senyummu. Yang aku tahu adalah aku telah jatuh hati padamu. Jika hati adalah air maka aku barangkal...

anak-anak

hari ini hujan turun malas-malasan, aku bersyukur. rintik-rintiknya terasa lebih dingin akhir-akhir ini. awan putih menutupi langit, tak ada tersisa warna biru. sebelum menyalakan roda dua kulihat alvin , keponakanku yang berumur lima tahun bersepeda di depan rumah. Sepeda mungil warna pink dikayuhnya hilir mudik di jalan beraspal. tapi tidak begitu yang terjadi di Palestina. rintik-rintik hujan di sana adalah rintik-rintik kembang api dari mortir dan rudal-rudal yang berseliweran. rasanya pasti lebih panas. anak-anak kecil termangu di samping jenazah ibunya bersama beberapa korban kebiadaban Israel lainnya. atau orang tua yang menangis menggendong jenazah anak-anaknya. anak-anak kecil dibantai, jutaan keluarga diusir dari rumahnya, kampung halamannya; tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. berdasarkan data, pada 2008 sudah 4,62 juta warga dipaksa keluar dari Palestina. Israel sedang menjalankan rencana sistematis menguasai wilayah Palestina dengan cara keji. tahun...

mengawasi pengawas

Sejak ditetapkannya beberapa petinggi Bank Indonesia menjadi tersangka pada kasus hukum, otoritas moneter terlihat mulai goyah dalam menjalankan peran-perannya sebagai pengawas perbankan, last of the lender resort atau penstabil ekonomi nasional. Oleh karena itu, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono lah yang kemudian dipilih menjadi Gubernur BI pada April 2008. Figur Boediono yang kalem dan jauh dari kontroversi dianggap cocok untuk menjalankan misi utama memulihkan reputasi dan memperbaiki moral para pegawai BI. Dua bulan pasca Boediono resmi berkantor di Kebon Sirih, dua orang pegawai senior BI didakwa atas tindak korupsi dan penyelewengan kekuasaan. Dua bulan setelah itu, bencana mulai datang berurutan sejak pemerintah AS mengumumkan keadaan sistem keuangan darurat dan mengumumkan rencana penyelamatan senilai 700 miliar dollar AS. Bantuan yang besarnya lebih dari lima kali nilai inventarisasi aset Indonesia ini sontak menyedot perhatian dunia yang sejak sebulan cem...

new year

The year has gone but made us strong. The path was long but we walked with an enchanted song. There were tears and fears but we also had reasons to cheers God doesn’t require us to “be the best”, but He rather want us to “do our best” and He will take care of the rest