cemas
Ada saat-saat di mana aku datang ke kantor dengan penuh
kecemasan, tapi bukan sekarang. Dulu, ketika aku pertama kali mengecap
pengalaman bekerja. ketika itu, hari sabtu dan minggu merupakan hari-hari yang
sangat aku nantikan, dan kemudian mulai dijemput kekhawatiran ketika senin
menjelang.Saat itu bekerja –di sebuah media, terasa begitu deg-degan. Setiap akan
berangkat, perasaan selalu cemas. Sekarang perasaan itu muncul lagi dengan
intensitas yang lebih ringan.
Bekerja, seharusnya seperti belajar juga. Ia seharusnya
memunculkan potensi-potensi diri untuk meninggikan pencapaian seseorang demi
kebaikan perusahaan. Akan tetapi kalau bekerja jadi ajang unjuk kekuasaan si
senior kepada yang junior, atau si bos kepada bawahan, yang muncul adalah
kecemasan setiap masuk ke ruang kerja. Padahal kecemasan malah menutup potensi
seseorang, menghalangi kemampuan terbaiknya untuk muncul.
Jika kondisi itu berlangsung terus menerus, perusahaanlah
yang akan merugi karena hanya mendapat efek dari rutinitas kerja dari
pegawainya.
Komentar