Teka-Teka dan Misteri
Banyak sudah drama yang kita semua saksikan di layar
televisi, halaman-halaman koran dan majalah dalam enam bulan belakangan ini.
Hiruk pikuk dan keributan yang sudah terjadi haruslah menjadi pelajaran,
seperti yang didapat oleh sopir taksi. Kisah ini diceritakan oleh seorang teman
saat menumpang taksi sepanjang Kuningan-Merdeka Barat, Jakarta. Sang supir
membuka percakapan soal demokrasi dan rakyat setelah mendengar siaran langsung
di sebuah radi tentang pelantikan anggota DPR. “Benar enggak pak, anggota DPR itu kan
wakilnya rakyat kaya kita ini. Kan 1 suara rakyat cuma memilih 1
anggota DPR,”
Sang penumpang awalnya cuma ngangguk-ngangguk saja, menyangka ini hanya obrolan selintas, jadi
hanya menjawab sekenanya. “Ya Benar pak,”
Sopir taksi itupun makin bersemangat melanjutkan diskusi. “Jadi
kan anggota DPR itu mewakili suara
rakyat masing-masing yang pilih mereka. Terus engggak bisa juga gebyah uyah
terus mengaku-ngaku mewakili semua suara rakyat Indonesia. Salah sendiri rakyat
yang memilih anggota DPR yang kalah suara.”
Diskusi dengan nuansa semacam ini bisa jadi mulai banyak
terdengar di meja-meja kantin, warung kopi, halte bis dan tempat-tempat lain
masyarakat saling berinteraksi. Ya, perbincangan demokrasi menjadi trending topic, di sekitar kita.
Demokrasi sejatinya adalah menerima perbedaan dengan damai
tanpa ada niat merusak kedamaian itu sendiri. Ia juga menjadi alat untuk
mencapai tujuan sebuah negara. Ibarat kita ingin menaiki atap rumah, kita bisa
menggunakan meja bertumpuk, bertumpu pada beberapa orang, atau menggunakan
tangga. Selain itu, bahkan masih banyak cara lain.
Pemilihan alat itu tentu mempertimbangkan keselamatan,
efisiensi dan ketersediaan sarana itu sendiri. Maka dari itu, ribut-ribut soal
pemilihan umum dan langsung seharusnya bisa dijelaskan dengan pendekatan
‘merakyat’ seperti itu juga.
Rakyat sebenarnya tidak mau ambil pusing apa alat yang
diambil asal mereka bisa sejahtera, bisa mencari nafkah, dan diberi kesempatan
yang sama guna memenuhi kebutuhan hidup.
Akan tetapi, orang bisa mengatakan, rakyat yang seperti itu
tidak paham pentingnya demokrasi untuk mencapai kesejahteraan. Sama seperti,
suara sebagian orang yang mengatakan bahwa demokrasi langsung juga ternyata
tidak berhasil mencapai tujuan.
Diskusi dan debat kusir mengenai siapa rakyat dan mana
rakyat terus bergulir hingga kini, bahkan oleh rakyat itu sendiri. Jadi menurut
saya, apa yang dilontarkan oleh rakyat yang menjadi supir taksi itu banyak
benarnya. Rakyat memilih wakilnya dalam satu coblosan, lalu menjadi anggota DPR
menjadi wakil mereka. Dan sangat legal jika anggota DPR itu mengatakan bahwa
mereka wakil rakyat.
Masalah yang muncul adalah ketika keputusan DPR tidak
berkenan bagi sebagian masyarakat yang juga mengaku rakyat. Rakyat golongan ini
kemudian menyebut anggota parlemen itu sebagai perampas hak demokrasi rakyat
dan beragam predikat lain, hanya karena wakilnya kalah dalam membawa suara
mereka. Padahal dalam demokrasi hal-hal itu seperti itu lazim terjadi.
Dalam demokrasi hal-hal itu seperti teka-teki akan tetapi
jika menyangkut pencapaian tujuan hal itu seperti misteri. Apa bedanya
teka-teki dan misteri. Mungkin jawaban, Malcolm Gladwel dalam bukunya “What The Dog Saw”, bisa menjawab. Kata
dia, ketika pemerintah AS melalui seluruh ‘tangan-tangan’-nya mencari Osama Bin
Laden, keberadaan musuh AS nomor satu itu adalah teka-teki. Dia ada, tapi tidak
diketahui tempatnya.
Akan tetapi, ketika pemerintah AS menyerang Irak karena
menganggap negara itu memiliki senjata pemusnah massal, hal itu dianggap
misteri. Karena sampai kini dunia tidak pernah tahu apakah senjata itu ada atau
tidak.
Jadi apakah demokrasi, melalui pemilihan langsung bisa
mencapai tujuan negara? Saya kira itu masih menjadi misteri.
Komentar