(marhaban) mikail


23 mei 2013. Kamis malam menjelang bulan purnama, kau tiba dengan banyak syakwasangka dan doa. Tiga hari sebelumnya, bundamu menjerit menahan sakit di perutnya dan aku menyaksikannya. (sontak pikiranku berkata, "celakalah dunia dan akhirat orang-orang yang menyia-nyiakan atau memperlakukan ibunya tanpa hormat").
Sembilan bulan sebelumnya kami menaruhkepercayaan bahwa kali ini engkau akan tiba dengan cara yang normal. Dan semenjak itu kami berdua berupaya untuk mendekatkan diri, memantaskan diri agar kamu bisa lahir normal.
Tiga hari sebelum purnama pada bulan Rajab itu, tanda-tanda yang kau berikan tetap menyiratkan bahwa usaha kami akan menemui hasil yang sepadan. Namun tampaknya nasib (atau takdir) berkata lain, kau tampak kesulitan mencari jalan keluar. Dan bundamu mulai kewalahan dan kehabisan tenaga untuk menunggumu lebih lama lagi. Apalagi air ketubannya sudah pecah pada sekitar jam 6.30an.
Dengan keputusan yang ikhlas, aku memilih bahwa kau harus tiba dengan cara yang sama seperti kakakmu 23 bulan sebelum ini: operasi cesar. Aku pergi ke tempat perawat-perawat itu duduk, yang menjadi pusat dari ruangan itu. Aku menandatangani surat yang menyatakan bahwa aku mengizinkan bundamu diambil tindakan medis untuk mengeluarkanmu dari perutnya.
Tepat jam 8.50 tim dokter mengeluarkanmu dari perut bundamu dan 10 menit berselang  aku mengazankan dan mengiqomahkanmu. Tak ada rasa menyesal berlebihan, yang ada adalah rasa syukur teramat dalam karena kamu selamat tiba di dunia ini: berat 3 kg, panjang 49 cm dengan wajah merah.
Meskipun upaya bundamu untuk melahirkanmu secara normal pupus, namun aku yakin Allah pasti tahu bahwa kita sudah berusaha sekeras-kerasnya, sesungguh-sungguhnya. 
(repost)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase