Lazimnya Pejabat
Akhir-akhir ini pejabat dan politisi adalah
dua pekerjaan yang ramai dibicarakan. Pejabat dan politisi sejatinya bukanlah sebuah sebutan orang yang mengerjakan sesuatu atau profesi, seperti
dokter, guru, pilot atau apoteker. Pejabat, adalah
orang yang menjabat di pemerintahan, atau seseorang yang memiliki posisi
penting. Atau menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur
pimpinan). Sedangkan politisi atau politikus tepatnya, adalah orang yang
berkecimpung di bidang politik.
Akan tetapi, masyarakat
kadung melabeli kedua profesi itu sebagai orang-orang yang pandai
dalam menggeser makna dari kata-kata
karena seringnya mereka mengganti arti sebenarnya dari
kata-kata. Misalnya,
jika ada pejabat yang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa diintervensi, maka
pikiran kita langsung menyusuri sebuah kesimpulan bahwa baru saja dia
mendapatkan intervensi dari pihak lain.
Mereka dianggap terlalu
sering mengumbar bahasa politik dan bukan bahasa sebenarnya yang dipahami
khalayak banyak.
“Bahasa politik",
tulis sebuah ulasan di Majalah Economist terbitan pertengahan Juli 2013, “dirancang
untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan menjadi terhormat, dan
untuk memberikan penampilan yang terkesan solid.”
Politisi, oleh karena
itu, selalu menghasilkan tabir eufimisme. Jika kita mendengar dari mulut
pejabat atau politisi ‘kinetic action’
itu artinya ‘membunuh orang-orang’, kalau
kita mendengar kata ‘collateral damage’,
maka itu berarti ‘membunuh orang secara tidak sengaja’.
Dalam tulisan itu,
dikatakan, bahwa politisi biasanya menggunakan kata "membunuh" hanya
untuk menggambarkan apa yang musuh mereka lakukan untuk mereka, namun tidak apa
yang mereka lakukan terhadap pihak yang disebut musuh.
Di Indonesia, kejadiannya
juga serupa. Mereka menyebut ‘situasi yang mengancam’ sebagai ‘kondisi yang dinamis’. Lalu mereka sering
menyebut ‘penyesuaian
harga’ untuk
menggantikan kebijakan mereka yang ‘menaikkan harga’.
Pejabat dan politisi juga dikenal sebagai dua
makhluk yang paling lihai dalam mencari-cari alasan dari suatu kenyataan yang
dihadapinya, yang lain adalah ekonom. Ironisnya, alasan itu dikemukakannya
untuk menyembunyikan kegagalannya. Memang, tidak ada satu pun yang bisa
memastikan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Memprediksi pun tidak.
Bulan lalu Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo menyatakan
bahwa pihaknya tidak bisa diintervensi, menanggapi suku bunga acuan yang sebelumnya diturunkan bank
sentral. Sementara itu, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, bahwa
beberapa negara sengaja melemahkan nilai tukar mata uang mereka terhadap dollar
AS, terkait terus melemahnya kurs rupiah atas mata uang Negara Paman Sam itu.
Tentu kita tidak boleh
langsung tidak percaya 100 persen
(tetapi juga tidak boleh percaya seluruhnya) kata-kata yang diutarakan oleh
pejabat. Namun demikian, yang menyedihkan adalah ketika mereka yang awalnya
sangat yakin dengan kata-katanya,
prediksinya,
janjinya; kemudian tergagap melihat kenyataan yang
terjadi. Akhirnya, untuk menyembunyikan kegagalannya itu, mereka mulai mencari-cari alas an ‘logis’
yang bisa menjelaskan situasi. Dan
karena seringnya mereka mencari-cari alasan atas situasi yang ada itulah
kemudian, maka kini kedua profesi itu menjadi buah
bibir.
Komentar