tangis ibu, tangisku
wrote, Wednesday, December 20, 2006
pasti kepulanganku membangunkan beliau dari tidurnya. maklum, pintu pagar yang tak berapa panjang itu selalu berdenyit ketika harus digeser. aku biasa sampai di rumah cukup larut jika diukur jam pulang kerja seorang pegawai yang normal.
selesai ganti pakaian, beliau terlihat akan menyiapkan makan malam, buat aku tentunya. matanya terlihat memang masih mengantuk.
aku memang tidak berniat untuk makan malam saat duduk di meja makan, dihadapan beliau. aku mendengarkan beliau yang mulai berbicara. jumlah tahun yang beliau jalani makin tampak di wajahnya. aku lupa kapan terakhir kali memandang wajah beliau sedalam ini (mungkin waktu lebaran kemarin).
malam itu makin aku sadari bebannya selama ini tidak pernah berkurang, malah makin menumpuk. abangku yang mulai mengkhawatirkan, adikku yang selalu mengganggu pikirannya dan suaminya –atau ayahku– yang sering tak membantu meringankan bebannya, dituturkannya padaku malam itu. cerita itu memang selalu kudengar saat beliau menumpahkan perasaannya. aku hanya bisa mendengar.
aku mendengar sambil menahan air mata (yang akhirnya tumpah juga saat dia bercerita tentang keadaan di rumah saat aku kuliah di Semarang dulu). aku pun melempar pandang ke arah TV yang menyala, hanya agar supaya beliau tak melihatku menangis.
kulihat beliaupun mulai menangis. aku tak pernah bisa tahan jika melihat orang yang paling aku sayangi dan hormati menangis. semua yang menyakitkan masih bisa aku tahan asal bukan ibuku yang menangis. aku merasa berdosa sekali jika membiarkan sesuatu membuatku ibuku mengeluarkan air mata.
setelah beliau memutuskan untuk tidur, waktu itu sudah tengah malam, aku merenung sendiri. aku menyadari bahwa tidak ada seharipun terlewat bagi ibuku kecuali untuk memikirkan anak-anaknya. sedangkan anak-anaknya mungkin tidak setiap hari memikirkan perihal ibunya. cintanya tak pernah berhenti meski dirinya tertidur. sedang aku, kerap lalai untuk mengingat betapa beliau mencintaiku. aku hanya bisa menulis ini, walaupu rasanya tak cukup untuk menunjukkan betapa aku juga mencintainya.
cintaku ke beliau…selamat hari ibu…Ibu
Komentar