[belajar] bahagia
wrote, Wednesday, October 11, 2006
beberapa bulan ini Jakarta panas bukan kepalang. hujan yang dirindukan, kelihatannya mulai lupa untuk singgah. (mudah-mudahan ia tidak selingkuh). tambah lagi di bulan suci ini, makin terasa matahari seakan sedang mengeluarkan amarahnya.
sejak awal puasa, agak siang aku mulai keluar rumah menuju ‘tempat kerja’. pingin cepat-cepat rasanya sampai kantor atau sampai tempat tujuan. karena biasanya di sana sudah ada angin sepoi-sepoi yang bersedia membasuh wajah tanpa diminta. lumayan sejuk setelah beberapa saat di bakar panas.
jika sedang antri karena lampu jalan berwarna merah, sering juga membayangkan kalau punya mobil ber-AC, dengan sopir. enak pastinya, puasa lebih nyaman rasanya. tapi khayalan itu terhenti jika sudah ada bunyi klakson, pertanda lampu merah sudah siap berubah warna.
seringkali jika sedang melaju di jalan, terlihat motor yang lainnya lebih enak dipakai, lebih resi, lebih kinclong. apalagi kalau ditambah yang ada diatasnya adalah pasangan yang mesra. sang perempuan memegang erat pinggang ataupun perut pasangannya, yang mungkin juga sedang membayangkan hal lain. kelihatannya indah sekali. belum lagi kalau diantara mereka ada seorang anak kecil yang asyik tidur bersandar di tengah. what a happy family.
jika mereka terlihat sepasang, kadang aku berusaha memacu kendaraanku untuk tetap berada di sisi mereka. untuk sekedar melihat kebahagian di raut wajah mereka. (atau cuma ingin melihat si perempuannya). tak apalah pikirku. siapa tahu saja aku kenal dia, khan bisa kusapa, begitu belaku.
selintas aku jadi teringat bahwa ternyata aku sudah lupa rasanya memboncengkan seorang gadis di jok belakang. dipeluk dari belakang. merasakan angin jalanan berdua, sambil melihat rambut kita berkibar-kibar. ah…indahnya. mengantar ke rumah, bertemu dengan ibunya, basa-basi sebentar kemudian pamit pulang dengan mencium tangan ibunya.
sudah lupa bagaimana rasanya melontarkan kata-kata manis dan sanjung puji. kata-kata bersayap. sudah lupa…karena sudah lama sekali rasanya.
tapi tak apalah. aku masih punya adik-adik yang kusayangi, yang bisa ku sanjung puji, aku masih punya orang tua untuk berbakti yang tangannya selalu kucium setiap mau berangkat atau setibanya di rumah.
aku masih punya pekerjaan yang halal yang tidak mencemari darah yang mengalir di badan ini. aku masih punya waktu untuk menuliskan ini semua. aku masih diberi perasaan untuk merasai semua. dan aku bersyukur...sanga bersyukur
(seperti yang terlontar dalam dialog di sebuah film yang kutonton di TV: hidup memang tidak selalu seperti yang kita inginkan. berbahagialah dengan apa yang kita miliki)
Komentar