Manusia dibekali oleh Sang Pencipta dengan panca indera dan juga –yang terpenting–dengan hati dan pikiran. Dengan bekal itu pula, sepanjang kehidupan bergulir, manusia belajar memahami yang telah terjadi, dan mengerti yang sedang terjadi, dan mengetahui yang akan terjadi. Namun bekal itu tidak akan memberikan arti apa-apa ketika manusia tidak mau menggunakannya. Ketika ada peristiwa yang lewat di hadapannya, sejatinya sebuah pesan sedang dipersiapkan oleh Yang Maha untuk bisa diambil manusia. Namun seringkali, karena ketidaktahuan, keegoisan, atau kesombongan manusia, pesan itu ditolaknya. Ketika pesan itu akhirnya diambil, tantangan kepada diri sendiri tidak lah berhenti. Dua bekal terpenting –hati dan akal, dengan kesadaran penuh kita, seringkali beradau argumen mengenai pesan tersebut. Benak adalah ladang pergulatan dari kedua bekal itu. Mereka bisa berdebat berjam-jam atau bahkan berhari-hari di dalamnya, mengenai pesan apa yang seharusnya diambil. Di sinilah nilai-nil...
Komentar