perempuan dan periuk nasi
Suara perempuan itu selalu kudengar beberapa hari belakangan, di pagi saat mata ingin melanjutkan ketidakberdayaannya menahan kantuk. Aku terbiasa melanjutkan tidurku yang tak sempurna setelah sholat shubuh yang beberapa tahun ini selalu kalah cepat dengan sinar matahari yang menembus jendela kamarku.
Suara itu juga kudengar melalui jendela kamar yang jarang dibersihkan. Perempuan itu tampak kerepotan. Tangan kanan menenteng kantong plastik seukuran tasku di lipatan jemarinya, tangan kanan menenteng wadah plastik tepat diantara pergelangan tangan dan sikutnya. Sementara dia juga harus menggendong anaknya yang masih balita.
“Nasi uduk…gorengan…” lantang teriakannya masih asing di telingaku. Mungkin dia baru beberapa hari berkeliling di sekitar lingkungan tempat tinggalku. “Nasi uduk bu…gorengan bu…” dia sapa setiap orang yang ditemuinya. Beberapa kali dia hilir mudik lewat depan rumahku dengan tekanan suara yang sama. Setelah itu sunyi, mungkin karena aku sudah melanjutkan tidurku yang terpotong.
Hari ini hujan bertahan cukup lama sejak matahari belum memberikan cahayanya hingga jam di meja kamarku menunjuk angka 8, namun aku belum juga mendengar suara itu.
Kemarin sempat terbesit keinginan untuk menghentikan langkahnya dan membeli apa yang ditawarkan. Tapi pikiranku berargumen…membeli karena butuh lebih baik dari pada membeli karena kasihan. Tak tahu kenapa hatiku sempat beradu mulut dengan pikiranku. Salahkah bila kita membeli sesuatu karena ingin menolong sang penjual, atau karena kasihan?
Adam Smith menulis dalam bukunya bahwa supply creates its own demand dan menurutku demand yang muncul karena kasihan tidak akan merusak pasar. Ah persetan teori ekonomi, aku cuma merasa bahwa hari ini sang ibu yang menggendong anaknya terpaksa tak bisa berdagang karena tak memiliki tangan ketiga untuk memegang payung. Dan itu sangat-sangat buruk buat urusan periuk nasinya.
Suara itu juga kudengar melalui jendela kamar yang jarang dibersihkan. Perempuan itu tampak kerepotan. Tangan kanan menenteng kantong plastik seukuran tasku di lipatan jemarinya, tangan kanan menenteng wadah plastik tepat diantara pergelangan tangan dan sikutnya. Sementara dia juga harus menggendong anaknya yang masih balita.
“Nasi uduk…gorengan…” lantang teriakannya masih asing di telingaku. Mungkin dia baru beberapa hari berkeliling di sekitar lingkungan tempat tinggalku. “Nasi uduk bu…gorengan bu…” dia sapa setiap orang yang ditemuinya. Beberapa kali dia hilir mudik lewat depan rumahku dengan tekanan suara yang sama. Setelah itu sunyi, mungkin karena aku sudah melanjutkan tidurku yang terpotong.
Hari ini hujan bertahan cukup lama sejak matahari belum memberikan cahayanya hingga jam di meja kamarku menunjuk angka 8, namun aku belum juga mendengar suara itu.
Kemarin sempat terbesit keinginan untuk menghentikan langkahnya dan membeli apa yang ditawarkan. Tapi pikiranku berargumen…membeli karena butuh lebih baik dari pada membeli karena kasihan. Tak tahu kenapa hatiku sempat beradu mulut dengan pikiranku. Salahkah bila kita membeli sesuatu karena ingin menolong sang penjual, atau karena kasihan?
Adam Smith menulis dalam bukunya bahwa supply creates its own demand dan menurutku demand yang muncul karena kasihan tidak akan merusak pasar. Ah persetan teori ekonomi, aku cuma merasa bahwa hari ini sang ibu yang menggendong anaknya terpaksa tak bisa berdagang karena tak memiliki tangan ketiga untuk memegang payung. Dan itu sangat-sangat buruk buat urusan periuk nasinya.
Komentar