adikku
menjadi yang lebih tua, seharusnya menjadi lebih arif dan penyabar. dalam rumah yang nyaris semua anggotanya adalah lelaki, emosi seringkali menyambar-nyambar seperti petir yang mangawali hujan lebat. kemarahan mudah sekali tersulut hal-hal yang menyangkut ego kelelakian.
aku akui, pertengkaran itu sudah aku persiapkan, setelah melihat sepatuku tidak ada di tempatnya. mudah sekali aku keluarkan kata kasar itu, dan adikku –yang memang keras kepala- menyambut dengan kegarangan yang tak mau kalah. selanjutnya mudah ditebak. suara-suara keras menggema di dalam rumah yang tak seberapa besarnya itu (aku yakin suara-suara itu sampai juga ke pintu-pintu rumah kiri-kanan tempat tinggal kami).
adikku pergi, aku ke meja makan. aku makan masakan yang disiapkan ibuku yang memang ada di situ dan mendengar pertengkaran kami. ibu mendekat dan bercerita soal adikku.
adikku dulu sempat mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak sadarkan diri selama berjam-jam. “Waktu itu duit tinggal 1.500, ayah engga bisa berbuat apa-apa.” kakakku yang tertua pingsan saat menggotong adikku yang waktu itu masih duduk di kelas 3 SD, karena shock merasakan adikku lemas tidak bergerak.
hampir tengah malam pada hari nahas itu, adikku tersadar. ibuku memegangi tangannya dan mengusap-usap kepalanya, setelah sebelumnya membacakan surat-surat Al Quran yang diyakininya bisa memberi kekuatan apapun pada adikku. aku lupa pada hari itu aku ada di mana.
adikku itu sangat susah belajar. ketertinggalannya pada pelajaran-pelajaran sekolah, kata ibu, kemungkinan akibat dari kecelakaan yang dialaminya itu. “Mungkin dengan itu dia melampiaskan ketidakmampuannya pada hal-hal yang membuat orang lain, bahkan saudara-saudaranya kesel, marah.” (aku mengingat-ingat kejadian dulu yang aku rasa membuatku kesal pada adikku).
aku tak sanggup menatap mata ibuku –seperti yang biasa kulakukan jika beliau bercerita, cerita yang membuatnya sedih. dan aku mendengar beliau mulai terisak. pada saat bercerita tentang aku, giliran aku yang mulai terisak. kututupi mataku dengan jari jemari, sambil sesekali menghapus air mata.
aku –sejak kakakku menikah tahun lalu- menjadi lelaki paling tua di rumah. namun menjadi orang yang paling tua tidak sepatutnya membuatku merasa berhak mengeluarkan kata kasar meski pada adikku.
kemudian saat menulis ini, sms dari adikku yang lain sampai. Kak, tadi sepatunya sam yang pake. maafin sam soalnya ga bilang.
perasaanku terhuyung-huyung memikirkan apa yang aku lontarkan pada adikku beberapa jam lalu. tak ada sedikitpun dari kata-kata itu yang bisa mendekatkan aku pada kata “bijak” dan “penyabar”.
aku akui, pertengkaran itu sudah aku persiapkan, setelah melihat sepatuku tidak ada di tempatnya. mudah sekali aku keluarkan kata kasar itu, dan adikku –yang memang keras kepala- menyambut dengan kegarangan yang tak mau kalah. selanjutnya mudah ditebak. suara-suara keras menggema di dalam rumah yang tak seberapa besarnya itu (aku yakin suara-suara itu sampai juga ke pintu-pintu rumah kiri-kanan tempat tinggal kami).
adikku pergi, aku ke meja makan. aku makan masakan yang disiapkan ibuku yang memang ada di situ dan mendengar pertengkaran kami. ibu mendekat dan bercerita soal adikku.
adikku dulu sempat mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak sadarkan diri selama berjam-jam. “Waktu itu duit tinggal 1.500, ayah engga bisa berbuat apa-apa.” kakakku yang tertua pingsan saat menggotong adikku yang waktu itu masih duduk di kelas 3 SD, karena shock merasakan adikku lemas tidak bergerak.
hampir tengah malam pada hari nahas itu, adikku tersadar. ibuku memegangi tangannya dan mengusap-usap kepalanya, setelah sebelumnya membacakan surat-surat Al Quran yang diyakininya bisa memberi kekuatan apapun pada adikku. aku lupa pada hari itu aku ada di mana.
adikku itu sangat susah belajar. ketertinggalannya pada pelajaran-pelajaran sekolah, kata ibu, kemungkinan akibat dari kecelakaan yang dialaminya itu. “Mungkin dengan itu dia melampiaskan ketidakmampuannya pada hal-hal yang membuat orang lain, bahkan saudara-saudaranya kesel, marah.” (aku mengingat-ingat kejadian dulu yang aku rasa membuatku kesal pada adikku).
aku tak sanggup menatap mata ibuku –seperti yang biasa kulakukan jika beliau bercerita, cerita yang membuatnya sedih. dan aku mendengar beliau mulai terisak. pada saat bercerita tentang aku, giliran aku yang mulai terisak. kututupi mataku dengan jari jemari, sambil sesekali menghapus air mata.
aku –sejak kakakku menikah tahun lalu- menjadi lelaki paling tua di rumah. namun menjadi orang yang paling tua tidak sepatutnya membuatku merasa berhak mengeluarkan kata kasar meski pada adikku.
kemudian saat menulis ini, sms dari adikku yang lain sampai. Kak, tadi sepatunya sam yang pake. maafin sam soalnya ga bilang.
perasaanku terhuyung-huyung memikirkan apa yang aku lontarkan pada adikku beberapa jam lalu. tak ada sedikitpun dari kata-kata itu yang bisa mendekatkan aku pada kata “bijak” dan “penyabar”.
Komentar