alumni?

Sebuah keluarga mengunjungiku. bersama ketiga anaknya, suami istri itu menceritakan pengalaman yang dialami hampir sembilan tahun belakangan. Idham sang anak tertua menderita penyakit mengenaskan, pembuluh darah merahnya pecah sejak usianya tiga bulan. “Kulitnya kuning semua saat itu,” kata Septian, sang ayah.

sejak itu, Idham harus selalu ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan rutin. cuci darah, terapi dan lain-lain. aku menoleh ke anak itu, dengan seluruh iba yang aku punya. Tubuhnya lemas tak berdaya. “Dia tida bisa berdiri,” tambah sang ayah dengan kesedihan yang ditahan.

Memang bocah sembilan tahun itu kulihat hanya bisa rebah, jika harus duduk, sepertinya tulang belakangnya tidak kuat menahan tubuhnya berlama-lama. anak itu juga hanya bisa bergerak dengan pantatnya jika ingin berpindah tempat, kemudian harus segera bersandar. Dia harus dipapah untuk sekedar menegakkan badannya dan itu harus dilakukan sang ayah karena ibunya sudah tidak kuat lagi. Tangannya tergulung, jemarinya selalu mengepal, sulit dubuka. suaranya tak jelas. saat meminta minum, ayahnya segera menuangkan air ke dalam mulutnya yang terbuka, mirip seperti menuangkan air di teko ke dalam cangkir. dia tak bisa menggunakan sedotan.

kesulitan hidup tak juga berkurang. dia bercerita bahwa beberapa tahun lalu, terkena PHK dari perusahaan ekspor-impor tempat selama ini dia memastikan istrinya selalu bisa memasak di rumah, memenuhi tutup saji dengan makanan. Katanya, setelah ada pejabat bea cukai baru, perusahaannya terkena imbas aturan yang lebih ketat dan terpaksa harus ditutup.

dia sempat bekerja juga di perusahaan penyalur kendaraan bermotor roda empat, namun harus menerima kenyataan pahit: dipecat. kemudian bekerja di sebagai accounting di perusahaan yang mendistribusi miras, cuma tak lama. karena tak tahan harus bertengkar dengan batinnya yang tak nyaman bekerja di tempat yang memproduksi dan mengedarkan barang haram.

Dia mengaku satu almamater denganku, angkatan 93 jurusan akuntansi. Aku IESP angkatan 96. Dia mengetahui alamatku dari kantor sekretariat alumni universitasku yang berada di bilangan Pasar Minggu. Mungkin dia berencana mengunjungi setiap alumni, setelah upayanya meminta bantuan pada “pembesar-pembesar” organisasi alumni menemui jalan buntu.

“pada saat temu alumni, bulan puasa kemarin, pak Hendarman (S, Ketua ikatan alumni) mengajak saya ke atas panggung, beserta anak saya. Kemudian dia juga memanggil alumni dari kedokteran,” cerita dia kepada saya siang itu.

dia berharap setelah peristiwa itu, dia bisa mendapat pekerjaan dari alumni-alumni yang memang sudah menempati posisi penting di korporasinya masing-masing. Septian mengantungi banyak kartu nama “pembesar-pembesar itu setelah pertemuan dengan alumni. tetapi surat lamaran yang dia dikirim kemudian tak jua mendapatkan jawaban hingga kini.

“Padahal kalau mau, pak Handaka (S, sekjen ikatan alumni) bisa saja menerima saya bekerja di perusahaannya. Bahkan saya bersedia jadi OB,”

orang yang terakhir disebut aku tahu adalah CEO, salah satu pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta.

Bahkan yang membuatnya sedih –meskipun dia tidak mengatakannya kesedihan itu padaku- pernyataan sang dokter alumni saat satu panggung dengannya, bahwa umur anaknya itu tak lebih dari sepuluh tahun, dengan segala argumen soal penyakit dan tetek bengek kedokteran yang dimilikinya. “Saya tak pernah meminta umur anak saya ditambah oleh Yang Maha.”

Alumni yang lain, AS salah satu Direktur bank terbesar dalam penyaluran kredit, juga disambanginya dan pernah menawarkannya untuk berwirausaha, berjualan bakso. Septian sudah mengiyakannya, tetapi modal yang ditunggu-tunggunya tidak kunjung datang.

Begitu juga saat dia mengunjungi SP, ketua alumni periode sebelumnya. Setelah menunggu hampir tiga jam di kantor, lima menit waktu yang diberikan untuk menceritakan masalahnya tidak menghasilkan apa-apa.

Namun dia tetap tegar dan tabah meski dia harus menghitung setiap ongkos yang harus dikeluarkan setiap dia keluar rumah. Dia harus membayar sewa motor yang ditumpangi bersama tiga orang anak, Idham, 9 tahun; Alif, 7 tahun; dan Tiara, 5 tahun beserta istrinya, 20.000 per hari.

Dia mengisahkan, telah mangkir dari perawatan rutin yang harus dijalani Idham beberapa kali karena tidak ada dana untuk membayar semua itu. Idham diharuskan bolak-balik ke rumah Sakit Hermina di wilayah Bekasi untuk perawatan atas penyakitnya itu.

Saat ini Septian bersama keluarganya itu tinggal di rumah kontrakan di Jalan Bintara VIII RT 02 RW03 No. 3. “Tapi kami tidak tahu bisa tinggal di situ sampai kapan,” kata sang istri. “Karena dikontrakan kami sebelumnya kami diusir. Biasa mas, karena telat membayar.”

Dia menekan kata “biasa” dengan getir seolah memberitahuku bahwa mereka siap diusir lagi dan pengusiran sudah sering mereka alami.

Aku titipkan beberapa lembar uang kertas dalam amplop, sambil meminta maaf dan berkata bahwa amplop itu bukan sumbangan. Itu adalah respons dari alumni yang mengetahui kawan satu almamaternya sedang kesusahan. (namun kupikir itu hanya cukup untuk membayar sewa motor beberapa hari)

Saat pulang, Idham mengangkat tangannya kepadaku (sambil tersenyum) dan mengucapkan kata yang tak jelas sampai di telingaku. “Daa…” kata sang ibu menjelaskan.

(pada hari itu tidak ada sedikitpun perasaan yang menggiringku pada kecurigaan. sampai seorang teman menceritakan adanya peristiwa serupa beberapa bulan belakangan. biar bagaimanapun aku beruntung didatangi oleh orang yang membuatku berkesempatan untuk berbuat baik)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase