Fokus dan Distraksi

Saya punya dua orang anak laki-laki yang saat ini masih duduk di sekolah dasar dengan selisih usia 2 tahun. Selama pelaksanaan belajar dari rumah atau disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), saya baru mengetahui bahwa fokus mereka mudah sekali teralihkan. Ketika sedang mengerjakan tugas, begitu ada suara lain di luar rumah, atau suara dering telepon atau suara lainnya, perhatiannya lantas beralih kepada sumber suara itu, dan hampir-hampir melupakan pekerjaannya. Ini merupakan hal yang baru saya ketahui. Dan bagi saya ini adalah big thing.

Pembelajaran jarak jauh bagi pelajar, bekerja dari rumah bagi pegawai telah menjadi fenomena yang biasa saat ini. Saya kemudian membayangkan apa yang bakal dihadapi kita semua di masa depan, lalu apa yang harus kita siapkan menghadapinya.

Kemampuan saya dalam menyusun rencana sangat lah terbatas, karena terbatasnya sumber daya dan sumber data. Namun dari pengalaman yang saya temui ketika menemani anak-anak saya belajar dari rumah, saya bisa memprediksi bahwa mereka akan makin memerlukan pengalaman dalam bergaul dan berkomunikasi. Mereka juga membutuhkan kemampuan untuk fokus pada apa yang mereka kerjakan.

Pemerintah, tentu tidak seperti saya. Mereka punya sumber daya yang luas dan juga sumber data yang tidak terbatas dalam menyusun rencana yang baik untuk rakyat. Dalam masa pandemi global yang merontokkan hampir semua kalangan usaha, dibutuhkan perencanaan yang lebih dari pada sekadar matang dan baik.

Proyeksi pemerintah harus bisa membaca setidaknya masa yang akan tiba beberapa waktu mendatang, agar bisa menjadi penunjuk arah bagi masyarakat, terutama pelaku bisnis. Perencanaan masa depan memang sudah menjadi strategi yang penting bagi bisnis, sekarang hal itu makin penting. Sebelumnya dalam menyusun strategi itu mengasumsikan kondisi saat ini untuk memprediksi masa depan dengan horizon 5-10 tahun ke depan.

Kini dengan kondisi saat ini yang belum bisa diprediksi, kita semua mendapat tantangan untuk menyusun strategi masa depan, agar setidaknya kita tidak melewatkan “hal-hal yang besar berikutnya” yang mungkin terjadi pada rentang masa itu.

Dalam menyusun strategi, Ernst & Young, konsultan bisnis global terkemuka, mempublikasikan laporan berjudul Megatrends 2020 and Beyond, yang menyarankan setidaknya mempertimbangkan empat kekuatan baru terkait gelombang baru yang mungkin muncul. “Kekuatan ini bukanlah hal baru. Tapi mereka berkembang dalam gelombang; setiap gelombang baru mengganggu dengan cara yang berbeda,” kata laporan itu.

Pertama adalah gelombang baru terkait teknologi, kedua gelombang baru globalisasi, ketiga gelombang baru Gen Z, keempat gelombang perubahan iklim atau lingkungan. Keempat hal itu harus jadi pertimbangan ketika kita menyusun rencana masa depan.

Ya, keempat hal itu tak pelak akan menjadi pembahasan penting dari strategi yang kita susun soal seperti apa kehidupan di masa mendatang. Pemerintah, yang saat ini memegang peranan paling penting dalam mengelola ekonomi patut untuk menyeriusi empat hal itu sebelum menerbitkan aturan-aturan.

Soalnya, akan sulit bagi publik terutama pelaku bisnis untuk menyusun rencana, ketika pemerintahnya tidak mampu memprediksi munculnya kemungkinan dan kecenderungan yang penting. Masyarakat pun akan makin sulit mengambil keputusan terbaik untuk dirinya, jika kebijakan yang dikeluarkan pemerintah seringkali mandek. Kalaupun berjalan ia melenceng.

Pemerintah mungkin belum bisa fokus menyelamatkan kepentingan rakyat dalam menggulirkan kebijakan-kebijakannya. Perhatiannya pada hal-hal yang menjadi tugasnya masih gampang teralihkan dengan kepentingan-kepentingan segelintir orang, bahkan kepentingan penguasa. Pemerintah masih seperti anak-anak saya ketika belajar.

(dipublikasikan Maret 2020)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertanda

Kamuflase