Pertanda
Manusia dibekali oleh Sang Pencipta dengan panca indera dan juga –yang terpenting–dengan hati dan pikiran. Dengan bekal itu pula, sepanjang kehidupan bergulir, manusia belajar memahami yang telah terjadi, dan mengerti yang sedang terjadi, dan mengetahui yang akan terjadi.
Namun bekal itu tidak akan memberikan arti apa-apa ketika manusia tidak mau menggunakannya. Ketika ada peristiwa yang lewat di hadapannya, sejatinya sebuah pesan sedang dipersiapkan oleh Yang Maha untuk bisa diambil manusia. Namun seringkali, karena ketidaktahuan, keegoisan, atau kesombongan manusia, pesan itu ditolaknya.
Ketika pesan itu akhirnya diambil, tantangan kepada diri sendiri tidak lah berhenti. Dua bekal terpenting –hati dan akal, dengan kesadaran penuh kita, seringkali beradau argumen mengenai pesan tersebut. Benak adalah ladang pergulatan dari kedua bekal itu. Mereka bisa berdebat berjam-jam atau bahkan berhari-hari di dalamnya, mengenai pesan apa yang seharusnya diambil.
Di sinilah nilai-nilai dan juga penilaian diri kita terhadap pesan itu berperan. Apakah kita akan mengambil pesan itu dan membungkusnya menjadi sebuah kesimpulan? Meski begitu, kita tetap menghadapi risiko bahwa kesimpulan itu bisa jadi benar, namun tidak jarang ia salah. Ketika kesimpulan yang berasal dari pesan itu benar, ia akan menjadi kebijaksanaan dan menambah wawasan pengetahuan. Sebaliknya, jika salah, maka ia belum akan menjadi kebijaksanaan, sebelum kita tahu bahwa kesimpulan yang kita ambil itu memang salah.
Untuk mengetahui kesimpulan yang kita ambil itu salah, diperlukan sebuah moment of truth untuk membalikkan itu. Tetapi lagi-lagi kita menghadapi tantangan berat pada saat menghadapi momentum kebenaran itu. Lagi-lagi ketidaktahuan, keegoisan, atau kesombongan menjadi penghalang kita untuk menerimanya dan akhirnya momentum itu kita tolak.
Kita tetap tidak mau berubah. Kita lebih memilih menggenggam kesimpulan yang salah ketimbang menerima kebenaran yang baru. Kondisi itu bisa saja didorong oleh gengsi yang terlampau besar, merasa sudah terlanjur, atau kebencian/kecintaan yang membabi buta akan suatu hal.
Pada dasarnya semua manusia diciptakan baik dan cenderung menyukai kepada kebaikan. Lazimnya kita bisa merasakan bahwa sesuatu itu benar, baik, dan sebaliknya bisa juga merasakan bahwa kesimpulan yang kita pegang itu salah. Sebabnya kita punya hati yang membisikkan itu.
Namun seringkali karena ketidaktahuan, keegoisan, atau kesombongan, kita menafikan suara hati kita. Makin sering kita menutup telinga dari suara hati kita, maka akan makin tumpul hati kita. Pada ujungnya, kita akan sulit menerima kebenaran.
Mengetahui yang benar itu penting untuk memahami yang telah terjadi, dan mengerti yang sedang terjadi, dan mengetahui yang akan terjadi. Bagaimana mungkin kita bisa mengerti apa yang tengah terjadi jika kita tidak mengetahui kebenaran mengenai apa yang terjadi. Bagaimana mungkin kita bisa memprediksi apa yang bakal terjadi jika kebenaran yang terjadi tidak kita pahami.
Jika itu saja kita belum mengerti, bagaimana kita bisa memahami bahwa ada pertanda dari setiap kejadian. Atau bagaimana kita memahami setiap kejadian, dan memikirkan apakah ada kekuasaan yang bekerja di balik setiap pertanda?
Komentar