ayahanda

tiga buah undangan menyergap perhatianku. ditujukan kepada keempat adikku; Zam, Syam, Sal, Tsuai. judul pada sampulnya, buru-buru mengundang air mataku keluar: Peduli Anak Yatim.

hatiku merintih membacanya. sedih di pedalaman. "Duhai Allah pertanda apakah ini?"

pikiranku menoleh ke belakang. 13 hari lalu, saat mengantar ayahanda ke haribaan-Nya. sejak saat itu kami menjadi yatim. seringkali, semenjak saat itu pikiranku resah, hati gundah dan merasa bersalah. sisanya adalah kesedihan karena menyadari orang orang yang telah mengajariku sholat, mengenal huruf al Qur'an, istiqomah; sudah tidak ada lagi.

teringat saat "dipaksa" bangun untuk sholat shubuh dengan percikan air. teringat ketegasan beliau mengajarkan huruf demi huruf al Qur'an yang sesuai dengan tajwidnya.

beliau yang tak pernah memukul anak-anaknya. kalaupun harus memukul atau menampar karena kesalahan prinsipil, beliau tak pernah melakukannya di bagian wajah anak-anaknya.

beliau yang pengalah terhadap perselisihan yang melibatkan beliau di dalamnya, baik dengan teman sepergaulan dalam hidupnya maupun dengan tetangga kenalannya. beliau yang sampai akhir hayatnya tidak pernah malu menunjukkan rasa sayang kepada istrinya: ibunda kami.

kini beliau sudah tidak ada. itulah mengapa undangan berwarna lembut itu datang kepada adik-adikku.

namun, kini kami juga masuk ke dalam golongan orang-orang yang disayangi Nabi: golongan anak-anak yatim

(11/7 hampir jam 02.00)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase