sepotong kisah ibu

tak ada perempuan yang lebih hebat yang pernah kulihat selain ibuku.
daya ingatnya tetap kuat saat menceritakan pengalaman ataupun rantai keluarga.
kesabarannya bagai laut tak bertepi yang kadang memperlihatkan ombak.

berikut sepotong kisahnya yang di ceritakannya padaku. (yang dalam hati kujanjikan untuk menerbitkannya dalam bentuk buku)...

Ibuku mesti berjalan lebih dari 3 kilometer ke sekolahnya sambil membawa makan siangnya. Namun jangan membayangkan 3 km itu dengan keadaan sekarang yang jalan-jalannya telah beraspal. Dulu jalan tanah yang dilaluinya diselimuti debu tebal yang jika hujan, debu itu berubah menjadi kubangan yang becek. Ibuku harus melompat ke atas daun-daun lebar yang jatuh dari pohon di kanan kiri jalan tersebut untuk menghindari jalan yang becek.

Makanan yang dibungkus daun pisang, berisi nasi panas dan ikan teri itu diberikan oleh seorang kerabat di tengah jalan menuju sekolahnya. Makanan itu dimakan saat masih berada di jalan sepi dilindungi pohon melinjo yang menyelimuti jalan-jalan itu. Baru ketika memasuki jalan yang agak besar dan sering digunakan oleh gerobak-gerobak sapi pengangkut barang, ibu memasukkan makanannya ke dalam tas. Malu jika dilihat orang.

Ibuku bersekolah di siang hari. Paginya beliau harus bangun sebelum shubuh dan membantu ibunya menyiapkan barang dagangan di warung kecilnya di depan rumah. Setelah sholat, mengiris bawang, menggoreng bahan-bahan dagangan melayani pembeli adalah tugas rutin yang harus dilakukan. Menjelang siang, tugas selanjutnya menanti: berbelanja di pasar yang berjarak 5 kilometer untuk menyiapkan barang dagangan keesokan harinya. Baru jam 12 beliau menyelesaikan semua dan bersiap untuk pergi ke sekolah.

Seringkali beliau harus menumpang gerobak sapi yang melintas dan duduk dibelakang bersama rumput-rumput yang dibawa karena kelelahan menjalani aktifitas pagi sampai siangnya. Saat itu hampir tiap hari beliau berdoa agar tiba di sekolah sebelum bel dibunyikan, meski hampir tiap hari bel itu terdengar saat ibuku masih beberapa ratus meter lagi dari pintu gerbang. Saat itu bel sekolah bisa terdengar sampai jarak setengah kilometer dari sumbernya karena rumah-rumah masih sangat jarang.

“Alhamdulillah ibu masih belum terlambat walaupun guru sudah ada di depan kelas,” kemudian guru itu bertanya, alasan keterlambatannya. “Ibu jawab, habis dari pasar bu,”

Tetapi tanya jawab seperti itu seringkali terjadi.

Nenekku, telah ditinggal mati suaminya sejak ibuku masih sangat kecil. Ketiadaan orang tua lelaki membuat ibuku telah bekerja keras sejak beliau masih sangat muda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase