simpul suram

Kadang aku merasa ingin menghilangkan sebagian periode dalam hidupku yang aku anggap tak menyenangkan. Itu adalah suatu periode ketika aku bertemu dengan seseorang di suatu simpul kehidupan dan menganggapnya sebagai pengalaman yang –kalau boleh memilih- tidak ingin aku ulangi lagi.

Periode tersebut bukanlah sebuah pengalaman pahit. Hanya saja pertemuanku dengan seseorang atau kelompok, atau pengalamanku berada dalam sebuah institusi, dalam suatu waktu tersebut, aku rasakan tidak cocok dengan sifatku. Sehingga aku buru-buru menutup kemungkinan untuk bersama mereka lagi.

Aku dilahirkan dalam lingkungan di mana tutur kata menjadi pedoman dan ukuran kesombongan seseorang. Tingkah laku menjadi acuan dari kejujuran. (Meski keberterusterangan tidak selalu muncul untuk memutuskan masalah, atau mencoba mengetahui masalah).

Aku tak terbiasa merasakan intimidasi dari orang-orang yang berkuasa dan sok berkuasa. Suatu waktu menjilat pantat atasan dan waktu lain menginjak kepala bawahan. Saat itu benar-benar bukan saat yang nyaman.

Saat itu banyak orang bodoh yang seringkali mengeluarkan kata “bodoh” dari mulutnya. Ada yang mengeluarkan semua yang dia ketahui, seolah-olah dia mengetahui semuanya. dari telingaku yang tak lebar ini, dulu perintah aku terima dengan nada kemarahan. namun kata-kata kasar membuat aku berpikir sejenak, siapa yang sebenarnya cocok dengan kata-kata itu. meski kuikuti juga mau itu. semata-mata karena atasanku bukan kesadaran yang terbit.

Aku selalu merindukan akhir pekan dan menjalani hari-hari dengan penuh kekhawatiran. Saat itu dering telepon seringkali menjadi sirene kewaspadaan akan datangnya ancaman, bahkan aku sempat takut dengan bunyi ringtone handphone-ku sendiri. Aku merasa sedikit tenang jika pekan sudah mencapai hari Jumat.

aku menjalani hari-hari kerja sambil terus merindukan minggu dan melewatkan akhir pekan mengkhawatirkan senin.

Aku pergi setelah dalam sebuah pertemuan, seorang petinggi menunjukkan jarinya ke arahku sambil mengeluarkan gertakan bernada ancaman, menjilat kata-kata dia sebelumnya bahwa tak akan ada ancaman dalam pertemuan itu.

Aku, kami, waktu itu dipaksa untuk memberikan izin kepadanya untuk mengeksekusi pegawai lain yang dianggapnya bersalah. Pertemuan itu hanya untuk memberikan legalitas kepadanya, seolah-oleh keputusan menghukum si pegawai yang dianggap bersalah adalah keputusan daru semua orang. Dia mencoba menyetir kami dalam pertemuan itu.

Aku pergi dengan perasaan lega, bahwa aku bukanlah bagian dari konspirasi menzolimi orang lain –jika si pegawai itu memang tidak bersalah. Aku merasa telah keluar dari ruangan gelap yang sekelilingnya dipasang kamera pengintai dengan alat perekam.

Sebulan berikutnya kantor itu pun bubar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase