simpul suram
Kadang aku merasa ingin menghilangkan sebagian periode dalam hidupku yang aku anggap tak menyenangkan. Itu adalah suatu periode ketika aku bertemu dengan seseorang di suatu simpul kehidupan dan menganggapnya sebagai pengalaman yang –kalau boleh memilih- tidak ingin aku ulangi lagi.
Aku dilahirkan dalam lingkungan di mana tutur kata menjadi pedoman dan ukuran kesombongan seseorang. Tingkah laku menjadi acuan dari kejujuran. (Meski keberterusterangan tidak selalu muncul untuk memutuskan masalah, atau mencoba mengetahui masalah).
Aku tak terbiasa merasakan intimidasi dari orang-orang yang berkuasa dan sok berkuasa. Suatu waktu menjilat pantat atasan dan waktu lain menginjak kepala bawahan. Saat itu benar-benar bukan saat yang nyaman.
Saat itu banyak orang bodoh yang seringkali mengeluarkan kata “bodoh” dari mulutnya.
Aku pergi setelah dalam sebuah pertemuan, seorang petinggi menunjukkan jarinya ke arahku sambil mengeluarkan gertakan bernada ancaman, menjilat kata-kata dia sebelumnya bahwa tak akan ada ancaman dalam pertemuan itu.
Aku, kami, waktu itu dipaksa untuk memberikan izin kepadanya untuk mengeksekusi pegawai lain yang dianggapnya bersalah. Pertemuan itu hanya untuk memberikan legalitas kepadanya, seolah-oleh keputusan menghukum si pegawai yang dianggap bersalah adalah keputusan daru semua orang. Dia mencoba menyetir kami dalam pertemuan itu.
Aku pergi dengan perasaan lega, bahwa aku bukanlah bagian dari konspirasi menzolimi orang lain –jika si pegawai itu memang tidak bersalah. Aku merasa telah keluar dari ruangan gelap yang sekelilingnya dipasang kamera pengintai dengan alat perekam.
Sebulan berikutnya kantor itu pun bubar.
Komentar