harapan lagi

terantuk pada langkah pertama, namun aku bangkit lagi. nyaris dijemput kekhawatiran karena praduga yang tak beralasan tetapi untungnya aku bertanya. ternyata buat dia itu bukan masalah. tampaknya akan makin banyak kata “maaf” yang akan aku ucapkan karena ketidaktahuanku atas gestur kata-katanya yang ranum.

Namun hari ini aku bahagia mendengar senyumnya dari seberang gagang telepon. renyah tawa kecilnya berbalut pesan bahwa aku tak bisa menemuinya lagi sebelum dia kembali ke kota B, tak terlalu aku sesali.

aku mulai menaruh harapan pada perempuan ini, sesuatu yang mungkin tidak pada tempatnya karena kami baru saja kenal. waktu dan jarak akan menjelaskan padaku apakah harapan itu bisa datang menghampiri dan perempuan itulah yang akan membukakanku pintu saat aku pulang larut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase