mengunjungimu

Menyapamu dari jarak sedekat ini menyadarkanku bahwa aku terlalu cepat dijemput rindu. Aku sudah pernah memiliki kehilangan, beberapa kali bahkan. Namun ketika mata ini memandang ke arah lain, dan tak ada kamu di situ, kehilangan memaksaku ke arahnya.
Kotamu yang dingin menyemangatiku seperti kakakmu yang menggebu-gebu menggelar kisah tentangmu. Aku dan kawanku yang berkunjung –setelah sehari sebelumnya menjejakkan kaki di bumi yang telah menyumbang segelembung emas di puncak monas- terkesima dengan cerita itu. Minimal kakakmu telah membukakan beberapa halaman pertama dari buku berjudul “kamu”.
Pedalamanku masih segar, meskipun perutku sempat mual ketika berkendara melewati berpuluh-puluh kelokan, di sisi ngarai, jurang sebelum akhirnya sampai di kota persinggahanmu. Kenapa aku sebut persinggahan? Karena itulah yang kamu katakan padaku sebelumnya. Karena hingga kini kau masih menghitung hari di mana kamu ingin menikmati waktumu di kota yang lain.
Aku melihatmu dari jarak sedekat ini, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan. maafkan aku, jika aku menginginkannya lagi. Seperti yang aku katakan, aku pernah memiliki kehilangan. Kehilangan yang tak mau lagi aku memilikinya, hingga aku menemukanmu.
###
Menemukanmu kemudian menghampirimu membuatku tertegun akan banyaknya kejutan-kejutan yang ada di sekelilingmu. Niatan untuk melihatmu dari dekat ternyata tidak mengenyahkan rinduku.
Menyapamu dari jarak sedekat ini menyergah kesadaranku bahwa aku harus lebih banyak lagi bersyukur. Perjalanan yang meminta waktuku sejenak ini membukakan mataku tentang anugerah terindah di hadapanku.
Kota B, 25 Juli 2009
Komentar