Membaca Pertanda

Sejak awal penciptaan, manusia memiliki rasa ingin tahu yang besar yang bahkan sering menjadi bumerang karena rasa itu juga menimbulkan keinginan untuk mendapatkan jawaban secepatnya.

Ribuan tahun yang lalu Ibrahim melihat bulan, bintang dan matahari yang kemudian menyimpulkan bahwa benda-benda itu adalah penguasa alam semesta.

Kemudian manusia-manusia sesudah Ibrahim mulai memperhatikan peredaran dan pergerakan benda-benda langit untuk mengampu mereka dalam menjalani kehidupan, mengelola alam. Astronomi kemudian menjadi ilmu yang paling awal disusun manusia bergandengan dengan filsafat.

Namun setelah beribu-ribu tahun berlalu, hingga saat ini manusia belum bisa membaca pertanda gejala alam berupa bencana, padahal manusia sudah memetakan isi bumi ini dari teropong yang dipasang di luar angkasa.

Di kalangan orang Jawa –tanpa menafikan suku-suku lain di Indonesia- dikenal banyak istilah yang mewakili kearifan masyarakatnya dalam membaca sinyal-sinyal alam. Banyak ungkapan yang mewakili kepekaan rasa dan kecerdasan orang Jawa dalam memaknai sasmita atau pertanda alam.

Sebenarnya tidak hanya orang Jawa, tapi setiap manusia memang cenderung untuk membaca pertanda alam. Kecenderungan itu dinilai berkaitan dengan sikap kosmologisnya yang ingin dekat bahkan bersatu dengan alam.

Namun manusia juga diciptakan dengan rasa ingin berkuasa yang besar yang bisa berubah menjadi nafsu untuk menguasai alam dan melebar kepada keinginan menguasai manusia lain. Sisi inilah yang hingga hari ini menjadi pemenang atas dan mendominasi dunia.

Revolusi industri di akhir abad 18 hingga awal abad 19 mendorong eksplorasi berlebihan terhadap alam yang justru merusak keseimbangan alam. Akumulasi keuntungan korporasi yang harus selalu lebih tinggi dari sebelumnya membuat alam gelisah dan memberi responsnya sendiri dengan menghadirkan reaksi yang kita sebut bencana alam.

Bencana alam adalah pertanda. Menurut seorang dosen filsafat Islam, bencana alam adalah sinyal kesementaraan. Kerusakan alam adalah sunatullah yang ingin memberikan pertanda proses kehidupan. Kehidupan akan bergerak pada satu titik akhir, yakni Tuhan.

Jika pergerakan wajarnya terganjal, alam akan bergerak menurut arahnya sendiri.

Lalu bagaimana kita mesti membaca pertanda dalam ranah politik dan demokrasi Indonesia ke depan di saat hampir tidak ada lagi pihak yang bisa diandalkan untuk mengkritisi pemerintah?

Benteng terakhir oposisi, PDIP, sudah mengisyaratkan akan menempatkan kadernya di posisi menteri. Sebelumnya, Ketua Partai Golkar terpilih malah sudah menunjukkan bahwa mereka tak akan jadi oposisi, dengan pergi ke Cikeas setelah musyawarah nasional berakhir.

Bagi sebagian kalangan yang concern pada kehidupan demokrasi yang ideal, tanda-tanda seperti itu bisa berarti pemerintah nyaris tanpa penyeimbang dan dianggap berpotensi menciptakan tirani kekuasaan.

Namun bagi pendukung kekuasaan, kondisi tersebut dianggap pertanda kestabilan pemerintahan yang memberi ruang penguasa untuk menjalankan program tanpa gangguan.

Tapi apa yang bisa dibaca masyarakat dengan tangan kekuasaan yang begitu besar yang dimiliki pemerintah sekarang? Seperti halnya gempa, masyarakat awam tidak akan bisa menebak apa yang terjadi dalam lima tahun ke depan. Masyarakat mungkin hanya bisa berdoa mudah-mudahan proses alami demokrasi tidak terganjal yang berisiko menimbulkan respons yang merusak. Merusak demokrasi bahkan merusak kehidupan.

(titip salam buat yang dipanggil ke Cikeas dan menjalani tes kesehatan di RSPAD)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase