Mengubah, Menerima dan Pindah

Membaca status teman di laman jejaring pertemanan membuatku tergelitik. “Jika tak suka, ubahlah; jika tak bisa mengubah, terimalah; jika tak bisa menerima, pindahlah”

Mungkin teman saya itu tidak sedang berbicara soal Sri Mulyani Indrawati yang memutuskan resign dari jabatan menteri keuangan.

Tapi saat Sri Mulyani menerima pinangan dari Bank Dunia untuk menjabat Managing Director, jabatan nomor dua di lembaga donor tersebut, dia mungkin tidak sedang menyerah apalagi pasrah.
Meskipun beberapa dari kita ada yang menyimpan sedikit kecurigaan tentang keputusan itu, apakah sebagai cari Presiden menyelamatkan Sri Mulyani atau cara Bank Dunia mengail di air keruh, tapi seperti tersirat dalam satu kalimat teman saya itu, tampaknya Sri Mulyani sudah melalui proses ikhtiar.

Lupakan dulu berbagai teori konspirasi berkembang.

Saya tidak sedang membela Sri Mulyani dengan mengatakan dia sudah ikhtiar, namun sosok seperti Ani –begitu dia biasa disapa- pastilah bukan wanita yang memutuskan sesuatu atas dasar emosional belaka.

Sebelum memutuskan untuk pindah, Sri Mulyani tengah bergumul dengan politisi yang mendesaknya bertanggung jawab atas kucuran dana Bank Century. Sebelumnya memang tengah menjalankan reformasi birokrasi di kementerian keuangan.

Dalam memperbaiki kinerja lingkungan kerjanya, mantan kepala Bappenas itu juga tengah “berperang” dengan mantan taipan yang kini menjadi pemimpin partai besar. Ani tak mau menyerah dalam menuntut perusahaan-perusahaan kakap yang ada kaitannya dengan sang taipan dalam hal perpajakan.

Banyak pihak yang menyatakan hal inilah yang menjadi sumbu kisruh di panggung politik dalam beberapa bulan terakhir. Sri Mulyani dipaksa untuk menerima desakan agar tidak mengusik-usik perusahaan sang taipan, padahal potensi pajak dari beberapa perusahaan itu sangatlah besar.

Mungkin karena tidak bisa menerima hal itu ditambah tidak ada lagi dukungan buat dirinya, mantan ketua LPEM UI itu memutuskan untuk pindah kerja.

Sri Mulyani, saya yakin sudah memikirkan segala konsekuensi yang akan diterima karena lebih memilih mengelola lembaga asing ketimbang “mengabdi” di dalam negeri. Dia yang juga pernah menjabat di IMF, saya yakin sudah memiliki pertimbangan sebelum menerima jabatan yang akan membawahi tiga wilayah dan 74 negara di dunia itu.

Dalam pandangan saya yang sempit ini, keputusan untuk pindah, resign dan menerima tawaran di tempat lain, bukanlah melulu soal faktor penarik tapi seringkali karena begitu besarnya faktor pendorong.

Faktor penarik kerap kali membuat kita mempertimbangkan untuk pindah, namun itu muncul jika faktor pendorong tidak terlalu kuat. Namun sebaliknya, faktor pendorong akan membuat keinginan “mencari yang lain” membesar tanpa terlalu memikirkan faktor penarik.

Kerap kali, yang pertama, membuat kita akan memikirkan kembali keputusan pindah jika ternyata sesuatu yang tadinya kita anggap faktor menarik lambat laun menjadi tidak menarik lagi. Biar begitu, kondisi yang keduapun tidak menjamin penyesalan tidak akan datang pada kita.

Tetapi sebagaimana tempat lama, tempat kerja baru tidak menjamin nihilnya intrik, sikut-menyikut, semangat menjatuhkan yang dibingkai dalam office politicking dan kubu-kubuan. Kendati begitu setidaknya, mungkin, Sri Mulyani memiliki ekspektasi besar terhadap Bank Dunia di mana dia bisa bekerja dalam sistem yang lebih lengkap dan fair, ketimbang di Indonesia. Sistem itulah yang akan menilai baik buruknya kinerja, bukan like and dislike serta kepentingan sesaat.

Kini yang pasti, Sri Mulyani sudah memutuskan untuk pindah dan masyarakat sedang menunggu apa yang mampu diperbuat oleh dia di World Bank, yang bisa menguntungkan Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase