Sisi Positif
Bagi seorang pengkritik tak sulit untuk memberi nama negatif
bagi pemerintahan yang sekarang ini masih berkuasa. Bahkan ketika dia tidak mau
memikirkan sebuah predikat. Saat ini publik sudah mendengar istilah yang
disematkan untuk bagi pemerintahan ini. Sebut saja, rezim pasar bebas, rezim
mabuk investasi, rezim deregulas, rezim (maaf) pembohong. Anda bisa menambahkan
daftarnya.
Memang bagi seorang kritikus, apapun yang dilakukan
pemerintah selalu memiliki sisi negatif untuk dikritisi, baik karena dampaknya
pada rakyat banyak, atau karena memang tidak semestinya hal itu dilakukan.
Namun demikian, penamaan
itu tidak bisa disalahkan karena terkait dengan tingkah polah para pemangku
kekuasaan. Kini banyak yang kecewa dengan pemerintahan sekarang yang hampir
menghapus semua subsidi buat rakyat, padahal sewaktu kampanye mereka sangat
dicitrakan sebagai pemimpin yang sangat merakyat. Kini pemerintah sangat getol
menarik modal luar negeri –terutama dari China, namun tidak memberi perhatian
dan dukungan yang cukup untuk pengusaha lokal atau masyarakat yang bekerja di
sektor mikro.
Pemerintah sekarang juga gemar melepaskan sektor-sektor
produksi dan juga harga kepada kekuatan pasar. Meski jika dilihat dari sisi
ekonomi hal itu tidak bisa disalahkan, namun ada baiknya dampak negatif (karena
dalam ekonomi juga ada eksternalitas negatif) dari pasar bebas kepada rakyat juga
harus menjadi perhatian pemerintah.
Yang terbaru, demi memuluskan investor asing, pemerintah
bahkan mau merevisi syarat-syarat Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal)
demi mempersilakan investor masuk ke daerah-daerah.
Di kutub yang lain, bagi seorang pembela pemerintah, dari
manapun asalnya, baik karena dia pegawai pemerintah, menteri ataupun pendukung
presiden saat kampanye atau anggota partai pemerintah, apapun yang dilakukan
pemerintah selalu benar. Minimal mereka bisa melihat dan menjelaskan kebijakan
pemerintah dari sisi positifnya.
Optimis vs Pesimis
Akan tetapi bagi seorang pemerhati masa depan, berkomentar
dari sisi negatif atau memberi nama negatif (kepada pemerintah atau mereka yang
berkuasa) tidak memberi pengaruh apa-apa pada perubahan. Bahkan para founding fathers tidak pernah melihat
rakyat atau mengecam sesuatu dari sisi negatif tetapi membangun sisi positif.
Lihat saja tujuan bangsa Indonesia dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Para pendiri bangsa menuliskan bahwa tujuannya ‘...untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,...”. Di sana para
pemimpin bangsa tidak mengatakan “untuk menghilangkan kemiskinan, memerangi
kebodohan” karena memang waktu itu kemiskinan dan kebodohan merupakan kondisi
yang dominan di Indonesia.
Meski demikian, tidaklah berarti bahwa pemerintah tidak
boleh dikritik, atau setiap kritikan harus disejajarkan dengan ‘hate-speech’, tidak demikian.
Seorang narasumber saya pernah berkata dalam sebuah wawancara,
“Kita boleh saja mengkritik pemerintah akan tetapi jangan hal itu membuat kita jadi
pesimistis, namun sebaliknya kita tetap bisa mengembangkan opitimisme tanpa
menjadi ‘pembela buta’ pemerintah.” Dan saya kira, dia benar.
(April, 2016)
Komentar