semestamu dan semestaku
Hati ini ternyata terlalu rapuh untuk menerima kalimatmu. Tapi
saat ini semestamu jauh lebih penting dari semestaku. Tiga kali lipat lebih
penting. Sejatinya juga di saat-saat lainnya.
Hari ini tidak ada “tetapi” kekasih, tidak dari mulutku. Hanya
di hatiku saja yang menyebut nama Tuhanmu, Tuhanku dengan istighfarku. Sampai saat
ini kekasih, hanya kau buluh perinduku, yang membuat getaran di dadaku.
Komentar