umur untuk berbahagia
Umur adalah penanda, bahkan bisa menjadi pertanda. (Perbedaan
antara keduanya tidaklah begitu penting). Sebagian orang mungkin malah
menganggap umur adalah milestone atau
sebuah benchmark, di saat sebagian
lainnya menganggap umur adalah mercusuar.
Bagi saya umur adalah bahagia. Umur, berapapun tahun yang
dilewati, dan angka yang berderet sesudah Anda dilahirkan, haruslah mengandung
kebahagiaan. Sejatinya konsep ini baru saja saya resapi. Bertahun-tahun
lamanya, umur saya jadikan sebagai penanda untuk hidup yang lebih panjang,
lebih dewasa, dan “lebih-lebih” lainnya.
Saya tanamkan pada diri ini, bahwa ketika kita bangun tidur
harus ada niat untuk berbahagia, bangun dengan senyuman bukan dengan kening
mengkerut mengingat masalah yang bakal dihadapi atau yang disisakan semalam
sebelumnya.
Ketika saya memiliki seorang istri yang cantik dan
membahagiakan, serta dua anak laki-laki yang membanggakan, saya selalu
menanamkan bahwa bangunlah dari tidur dengan kebahagiaan, dengan senyuman. Meski
sulit tapi saya selalu upayakan hal itu.
Kini ketika kami semua akan kedatangan anggota keluarga yang
baru (karena istri saya baru saja mengabarkan telat datang bulan), saya merasa
bahwa upaya untuk menanamkan bahwa setiap hari adalah waktu untuk mencapai
kebahagiaan harus lebih konsisten lagi.
Ya, usia seharusnya tidak hanya menjadi “penegur” kita
setahun sekali. Harus lebih sering dari itu. Seharusnya setiap hari berganti, kita
selalu ingat soal umur kita. Kita ingat penanda, pertanda, milestone,
benchmark, atau mercusuar kita. Dan tak lupa untuk selalu berupaya berbahagia
di dunia dan di akhirat.
Komentar