Keberpihakan Media
Beberapa waktu belakangan tepatnya di awal Desember, muncul
peristiwa besar ketika jutaan orang berkumpul dan menyatakan pendapatnya di
Jakarta, dan semuanya terjadi dengan begitu lancar dan aman. Pertemuan bahkan
disebut-sebut sebagai pertemuan umum terbesar di dunia. Akan tetapi anehnya,
media-media mainstream memilih untuk
tidak memberitakannya di halaman muka.
Jurnalistik adalah sebuah proses
dan kegiatan mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada
publik melalui media massa. Ia bekerja lewat beberapa prinsip dan juga dijaga
sederet etika. Namun demikian ketika ada peristiwa besar bahkan terbesar, ilmu
jurnalistik mengajarkan bahwa publik harus mengetahuinya dan media ‘harus’
meliputnya.
Memang keharusan untuk meliputnya
akan disesuaikan dengan kebijakan redaksi. Biar begitu mengingat besarnya
peristiwa itu dan banyaknya orang yang datang, kejadian tersebut tidak boleh
luput dari liputan. Oleh karena itu, ketika hampir semua media-media mainstream tidak meliputnya dan bahkan
mem-block-nya dengan tidak
memberitakannya, pertanyaan besar pun tak pelak muncul dari khalayak banyak.
Hal itu juga menjadi pertanyaan
dari Effendi Gazali, seorang pakar komunikasi politik. Bahkan dalam sebuah
acara talkshow terkenal di Indonesia,
dia memberikan tantangan kepada para lawan bicaranya terkait hal itu. “Apakah
ada guru jurnalistik di dunia ini yang mengajarkan kalau ada peristiwa sebesar
ini, lalu Anda boleh block sama
sekali (peristiwa itu) dan seakan-akan tidak terjadi. Dan menutup hak-hak
informasi publik?”
Keanehan ini memang banyak yang
coba menjelaskan dengan argumen bahwa hak sebuah media untuk memilih mana yang
mau diberitakan mana yang tidak. Atau dengan mengatakan, jangan memaksa semua
menu itu ada di sebuah media. Media itu, katanya, ibarat restoran dan
jurnalisme itu ilmu memasak, dan kokinya adalah wartawan. Jika tidak suka
dengan menu yang ada, pindah restoran saja.
Alasan ini sejatinya seperti
menghindarkan bahkan menjauhkan jurnalistik atau media dari tugas utamanya
yaitu memantau kekuasaan dan menyambung lidah publik. Tokoh pers nasional yang
juga pendiri salah satu harian terbesar di Indonesia PK Ojong pernah mengatakan
bahwa “tugas pers bukanlah untuk menjilat penguasa tapi untuk mengkritik yang
sedang berkuasa.”
Di tengah perkembangan teknologi
seperti sekarang ini, memang hampir tidak mungkin untuk menutupi sebuah
kejadian yang besar. Karena publik tidak lagi mengandalkan media-media
konvensional yang dulu memang menguasai arus informasi.
Akan tetapi pilihan untuk tidak
mengangkat sebuah peristiwa dan atau mem-blow
up sebuah peristiwa lainnya seperti memperlihatkan kepada publik tentang
keberpihakan sebuah media. Padahal dalam sembilan elemen jurnalistik yang
dipopulerkan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), dikatakan bahwa pers
harus berpihak kepada kebenaran, yaitu kebenaran yang fungsional. Selain itu
dikatakan pula bahwa pers harus hanya menggantungkan loyalitasnya kepada
publik, tidak kepada yang lain, apalagi penguasa.
Singkatnya media itu tidak boleh
berpihak kecuali kepada kebenaran, tidak boleh menunjukkan keloyalan kecuali
kepada publik.
Komentar