Ekspektasi
Setiap bangun tidur di pagi hari, sadar atau tidak, kita sudah
menancapkan harapan atas kehidupan yang bakal kita jalani hari itu. Tetapi
ketika melewati pintu untuk keluar rumah, kita kerapkali harus melihat dan
mengalami kenyataan yang melenceng bahkan berkebalikan dengan yang kita
harapkan.
Pada
dasarnya ekspektasi adalah harapan atau sesuatu yang diinginkan terjadi. Ekspektasi
itu berisi dua hal yang akan kita bandingkan di dalam benak yaitu harapan dan
kenyataan. Dalam ranah hukum ada istilah yang bisa menggambarkan kondisi
tersebut: Teori Das Sein Das Sollen.
Teori itu mengekspresikan jarak antara realitas dan ekspetasi. Das Sein mewakili realitas yang terjadi
sedangan Das Sollen adalah apa yang
seharusnya terjadi, yang seharusnya dilakukan.
Dalam
tataran kepemimpinan, kita sering menyematkan ekspektasi ini pada seseorang. Meski
pada kenyataannya ada beberapa yang tidak sesuai dengan yang kita lihat dan
kita alami. Ketidaksesuaian itu tidak selalu harus lebih buruk atau lebih
rendah dari yang kita harapkan, bisa jadi lebih tinggi atau lebih baik.
Akan
tetapi praktik kepemimpinan tentu memiliki standar. Standar itu sesuatu yang
menjadi minimum requirement yang
semestinya dipenuhi oleh seorang pemimpin, tergantung dari tingkatannya. Pemimpin
divisi tentu harus memiliki persyaratan minimum yang lebih tinggi dari pemimpin
bagian. Dan pegawai paham akan hal itu. Pemimpin lingkungan RT tentu memiliki
kemampuan minimum yang lebih rendah dibandingkan pemimpin lingkungan RW. Dan
masyarakat paham akan hal itu.
Pemahaman
yang dimiliki masyarakat memang bukan tingkat pemahaman yang komprehensif, yang
mencakup segala bentuk tugas dan wewenang seorang pemimpin. Pemahaman
masyarakat kebanyakan hanya untuk soal-soal umum saja, dan lebih pada soal
rasa.
Di
Indonesia, saat ini kita diperlihatkan keterkaitan antara ekspektasi terhadap
pemimpin dan kenyataan yang terlihat publik. Ada seorang pemimpin yang
diekspektasikan memimpin bangsa dan negara, sebagai wakil bangsa kita di luar
negeri, dan pemegang tanggung jawab untuk menyejahterahkan rakyat Indonesia.
Namun seperti yang sebagian besar orang rasakan, ekspektasi itu tampaknya tidak
bertemu dengan kenyataan. Banyak hal yang dilakukan pemimpin itu yang dianggap
tidak sesuai dengan standar dan yang diharapkan publik.
Di saat
yang sama, muncul pemimpin daerah yang diekspektasikan memimpin sebuah
provinsi, malah bisa membawa nama RI lebih harum. Hal itu dikarenakan
keterampilannya dalam berdiplomasi dan berkomunikasi. Bahkan pemimpin itu
sering disebut Gubernur Indonesia. Sebagian besar publik memang bisa merasakan
bagaimana Si Pemimpin Daerah itu melakukan hal-hal di luar ekspektasi. Karena
diekspektasikan ia hanya harus mengelola dan membawa rakyat daerah lebih baik
dari sebelumnya.
Hal-hal seperti itu memang tidak
dipungkiri lagi muncul saat ini dan menjadi perbincangan bahkan perdebatan
publik, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Dan semua orang berhak memiliki
argumennya masing-masing dalam mengomentari dan mendiskusikan kenyataan itu.
Asal diskusinya tidak melenceng jauh dari topik dan hanya menjadi ajang
ledek-meledek, hina-menghina.
Akan
tetapi di atas semua itu, publik bisa melihat mana pemimpin yang lebih memberi
perhatian pada pencapaian visi dan mana yang lebih fokus pada peraturan dan
administrasi. Pemimpin sejatinya adalah seorang pemikir. Sementara seseorang yang
hanya berkutat pada peraturan maka dia hanya manajer adminstratif belaka.
Pemimpin
adalah mereka yang bergelut dalam pemikiran pada ide-ide, sementara ‘pemimpin’
medioker hanya tenggelam pada peristiwa-peristiwa saja dan hampir tidak
memiliki ide besar.
Komentar