Tantangan, Tuntutan, dan Respons
Resesi global sudah sampai pagar rumah kita. Itu berarti
tetangga kita sudah merasakan kesulitan ekonomi. Seperti yang dikatakan oleh
Harry S Truman, Presiden AS yang berkuasa selama dua periode dari 1945 sampai
1953, When your neighbors lose their job,
it’s a recession. When you lose your job, that’s a depression!
Ya,
banyak tetangga sudah merasakan kehilangan pekerjaan, namun kita masih cukup
beruntung. Pertumbuhan ekonomi kita, meski mulai dikritisi karena terlihat
tumbuh di level yang relatif sama dalam waktu yang panjang, namun masih bisa
mencatat angka positif.
Meski
baru menghampiri pagar rumah kita, masalah pelambanan ekonomi tidak bisa
dianggap remeh. Selain karena kalimat pada paragraf di atas, juga karena kita
bisa merasakan hal itu. kita lihat di media-media mulai memberitakan adanya
penutupan pabrik, perumahan karyawan, sederet perusahaan negara yang merugi dan
lainnya. Kemudian kita juga merasakan naiknya ongkos hidup, sebut saja iuran
jaminan kesehatan, tarif listrik, tarif tol dan lainnya.
Krisis,
resesi atau kisruh ekonomi lainnya, tidak hanya melulu diwakili oleh
angka-angka resmi yang dikeluarkan penguasa. Tetapi ia juga mewakili perasaan
masyarakat yang memang menjalani kehidupan ekonomi yang nyata.
Harry Truman, Presiden Amerika
Serikat ke-33, di atas, tidak mengatakan bahwa resesi adalah kemerosotan adalah
kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) menurun atau ketika pertumbuhan
ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.
Seperti ditulis dalam buku teori ekonomi di perguruan tinggi. Alih-alih dia malah mengatakan bahwa
ketika Anda melihat tetangga-tetangga kehilangan pekerjaan itulah resesi. Itu
lebih menggambarkan perasaan masyarakat yang lebih nyata, lebih mengena.
Sementara di Indonesia, ancaman
resesi ditanggapi pemerintah dengan meluaskan ketakutan akan simbol-simbol dan
praktik agama, dan melabelkannya dengan istilah radikal. Tentu dengan
mesin-mesin kekuasaan yang tersebar sampai ke seantero negeri, ketakutan itu
akan menemukan gemanya sampai ke dalam rumah-rumah rakyat di pelosok negeri.
Memang benar, di bidang ekonomi
ada juga langkah pemerintah yang ditujukan mengantisipasi resesi ekonomi,
tetapi gemanya kalah jauh dibanding kampanye soal radikalisasi. Padahal kalau
mau jujur, pelambanan ekonomi sudah muncul sejak 2014 ketika pemerintahan ini
mulai berkuasa.
Ketika Jokowi mulai berkantor di
Istana Negara, pertumbuhan ekonomi hanya naik sebesar 5,1 persen, padahal
targetnya adalah 5,5 persen. Tahun kedua pemerintah kembali gagal mencapai
target ketika pertumbuhan yang ditetapkan mencapai 5,7 persen, realisasinya
hanya mencapai 4,79 persen.
Dua tahun berikutnya kondisi
tidak berubah. Pada 2016 dan 2017 pertumbuhan ditargetkan sama-sama mencapai 5,2
persen namun di akhir tahun masing-masing hanya mencapai 5,0 dan 5,07 persen.
Pada 2018, harapan sempat membuncah ketika di kuartal kedua, ketika angka
pertumbuhan mencapai 5,27 persen, tertinggi di sepanjang Jokowi memegang tampuk
pemerintahan. Namun akhirnya di penghujung tahun pertumbuhan hanya mampu
menyentuh 5,17 persen, padahal targetnya 5,4 persen.
Pemerintah seperti tidak bisa
keluar dari jebakan pertumbuhan 5 persen. Padahal beberapa pengamat yang
kritis, padahal sudah menegaskan siapapun Presidennya, sejatinya pertumbuhan
ekonomi 4,75 persen hingga 5 persen sudah di tangan, dengan hanya melakukan business as usual. Sehingga timbul
keheranan yang besar ketika pemerintah yang dalam beberapa tahun lalu
mengeluarkan belasan paket kebijakan ekonomi, hanya bisa meraih pertumbuhan di
kisaran 5 persen.
Tuntutan kepada pemerintah pun
membesar, terutama untuk membereskan soal-soal ekonomi ketika resesi sudah di
depan gerbang. Akan tetapi pada akhirnya respons yang diberikan adalah hal yang
jauh dari permasalahan inti.
Komentar