daya dorong keluarga pendorong gerobak

deretan kelompok-kelompok orang di pinggir jalan itu semakin rapat. Mungkin mereka sebuah keluarga mungkin hanya sanak saudara dan beberapa tampak sendirian. Dalam gelap mereka hening menunggu cahaya lampu kendaraan yang lewat menerpa wajah mereka. Tampak wajah mereka, anak-anak, dewasa, tua, lelaki perempuan terkena lampu sorot sepeda motorku yang sudah ratusan kali melewati jalur itu. mereka ada lagi jelang beberapa hari menuju Lebaran. seperti tahun lalu, berjejer bersama dan bermalam di sisi gerobak-gerobak mereka.

aku ingin tahu apa yang ada dibenak mereka. Apa yang ada dalam pikiran mereka saat kendaraan-kendaran yang menderu di depan mereka hanya sekedar lewat dan hanya nafasnya saja yang sampai. tidakkah mereka berharap kendaraan, salah satu saja, berhenti di depan mereka malam itu?

apakah lelah mereka –setelah menempuh perjalan dari “rumah” dan “kampung halaman” yang sebenarnya- terbayar jikalau salah satu penumpang yang ada di dalam mobil turun dan memberikan bingkisan?

kenyataan yang dihadapi mereka pastinya tidak akan sebanding dengan rasa ingin tahuku. mereka tentu tidak akan berani berangkat dari “rumah” dan “kampung” hanya untuk berhadapan dengan risiko digigit malam yang dingin, tidur di sisi jalan, dan ternyata kendaraan-kendaraan itu hanya sekedar melintas saja.

tentu ada daya dorong yang luar biasa yang memaksa mereka. Tentu ada keterpaksaan yang sangat yang membuat seorang suami mengajak istri dan anak-anaknya berkendaraan gerobak menyusuri panas Jakarta hanya untuk menemukan sisi jalan tempat mereka menggantungkan harapan akan adanya mobil atau motor yang berhenti dan memberi mereka sedekah, zakat atau semacamnya. Bahkan sekedar nasi bungkus sisa acara buka puasa bersama di kantor. Tentu ada alasan yang maha mendesak.

Aku pikir daya dorong itulah yang mengalahkan risiko bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dari pilihannya datang ke tempat itu, jauh dari kampungnya.

Namun aku tak mampu menebak. pikiranku buntu, karena tak mampu berpikir dorongan macam apa yang membuat sebuah keluarga meninggalkan “rumah” atau “kampungnya” hanya untuk menemui mimpi mendapatkan sedekah, zakat atau nasi bungkus.

(Aku memberi tanda kutip pada kata rumah dan kampung karena menyangka mereka pastinya memiliki rumah dan demi tidak berprasangka buruk bahwa mereka memang sengaja mendatangi pinggir-pinggir jalan itu demi mendapatkan belas kasihan.)

dalam psikologi, seringkali insting sesorang akan mengarahkan langkahnya untuk mengambil risiko yang bahkan oleh orang lain dianggap tidak worth. oleh karena itu aku nyaris tidak percaya bahwa kedatangan orang-orang ke sisi jalan yang biasa aku lewati saat pulang kerja itu hanya untuk mendapatkan sedekah. Dan aku hampir menutup logikaku bahwa daya tarik yang tidak seberapa itu akan membuat sebuah keluarga meninggalkan rumah dan kampungnya.

Mungkin daya dorong itu berupa hilangnya harapan akan mendapatkan penghidupan di kampung mereka. Mungkin daya dorong itu berupa menyusutnya kemungkinan untuk mendapatkan uang dari lingkungannya. Mungkin seisi kampungnya tidak ada yang bisa menolong keluarga mereka. Mungkin…dan seribu kemungkinan lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase