Pragmatisme Puasa

Manusia memang pada dasarnya adalah makhluk pragmatis, yang nyaris untuk semua hal menggunakan kalkulasi rugi untung. Meskipun tidak semua perhitungan rugi dan untung itu harus berhubungan dengan uang atau hal-hal lain yang bersifat materi.

Dalam ranah ekonomi, untung rugi ini bisa diistilahkan cost and benefit, dalam akuntansi bisa disebut profit dan loss. Dalam ranah moral-agama istilah itu kemudian menjadi mudharat dan manfaat.

Mungkin karena didorong sifat pragmatis itu, memasuki bulan Ramadan yang identik dengan ibadah puasa, mesjid mendadak menjadi ramai kendati kemudian keramaian ini juga merambah ke pasar-pasar.

Bukan cuma itu, televisi juga tak ketinggalan menggelar acara yang bisa menangguk untung besar dari momen puasa. Buku-buku bertema puasa puasa pun tiba-tiba saja jadi tren baru. Bahkan –meski belum ada data resmi- tingkat kejahatan biasanya berkurang karena setiap orang yang mengaku muslim berusaha menahan diri. (Tapi kemudian tingkat kejahatan biasanya meningkat jelang lebaran –ini pun lagi-lagi tidak ada data resmi).

Orang-orang, kemudian mulai menjaga perilaku dan menahan tindakan-tindakannya minimal agar supaya tidak membatalkan puasa.

Dan saya –untuk tidak menggunakan kata “kita” sebagai alat buat men-generalisir- biasanya mulai rajin membaca al quran, berusaha untuk tidak marah dan membuat orang lain marah. (Sesuatu yang biasanya dengan ringan saya langgar). Juga sekuat tenaga melakukan sesuatu yang dianggap perbuatan baik.

Hal itu saya lakukan karena yakin bahwa setiap perbuatan baik akan dibalas berpuluh bahkan beratus kali lipat. Malahan katanya, tidurnya orang yang berpuasa dihitung sebagai kebaikan jika diniatkan untuk menghindari kumpul-kumpul atau obrolan yang tidak berguna. Itu pesan yang biasa disampaikan orang tua kepada anak-anaknya.

Dalam bulan puasa, setiap kebajikan dan amal yang dilakukan akan mendapat imbalan yang dilipatgandakan. Bahkan Sang Maha Adil menjanjikan perhitungan yang sangat menguntungkan buat kita yang berpuasa. Keuntungan yang hanya diketahui oleh Dia.

Puasa bagi orang awam adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan badan suami-isteri dari sejak fajar terbit hingga terbenam. Bagi orang shaleh puasa itu juga termasuk menahan diri (termasuk panca indera) dari amarah dan perasaan-perasaan tak elok yang ada dalam hati.

Oleh karena itu inti puasa sebagaimana diyakini para sufi adalah kesanggupan menunda kenikmatan sehingga manusia bisa mengetahui makna dari keberadaan suatu materi. Manusia cenderung tidak mengetahui arti pentingnya air segelas misalnya, jika dia tidak pernah merasa kehausan atau menahan diri untuk tidak minum.
Dengan puasa, dengan menahan diri, dengan kesanggupan menunda kenikmatan, manusia bisa dengan lugas membaca bahwa sesuatu hal lebih banyak mudharat-nya atau manfaat. Manusia bisa menilai apakah sebuah tindakan atau keputusan itu berpotensi menambah cost atau justru bisa mengais benefit. Bahkan manusia itu bisa mengelompokkan segala hal yang ditemui dalam menjalani hidup menjadi asset atau liability, dan menentukan aset tersebut berpotensi menjadi profit atau loss.

Dari sinilah manusia bisa memulai untuk berpikir pragmatis. Selamat memaksimalkan puasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase