Cara Jitu
Kita sering dibuat kagum oleh orang-orang di sekitar kita, yang
bisa menemukan cara jitu untuk menjalani hidup. Atau sering terpana oleh
mereka-mereka yang memiliki kemampuan menyusun strategi ampuh untuk mengatasi, atau
berkelit dari persoalan.
Hal-hal yang mereka lakukan untuk
menjawab masalah yang kadangkala tidak pernah terlintas di benak kita, dan terlihat
mudah –setelah kita melihat mereka melakukannya. Padahal belum tentu kita bisa
melakukannya, memikirkannya pun tidak. Tetapi yang tak bisa ditolak adalah kita
seakan tertolong oleh cara mereka karena kita berpeluang untuk menirunya.
Contoh
yang paling terbaru seperti yang dilakukan Presiden Joko Widodo yang secara
resmi meluncurkan ide pemindahan Ibukota dari DKI Jakarta, ke sebuah kota di
Kalimantan Timur. Nakhoda pemerintahan Indonesia mengajukan usulan tersebut, tepat
ketika dia memastikan diri menjalani pemerintahan untuk periode kedua.
Ide ini
sangat menarik jika dipertemukan dengan keinginan Jokowi mengatasi masalah yang
selama ini membalut Jakarta: macet, banjir, dan polusi. Pada saat masih menjadi
Walikota Surakarta dan dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta, dia menjanjikan
akan mengatasi masalah-masalah Ibukota itu, jika dia terpilih. Pada 2012, masyarakat
Jakarta akhirnya memilihnya menjadi Gubernur.
Ketika dia menemukan kenyataan
bahwa (sepertinya) sulit untuk memenuhi janji yang dikemukakan pada saat
kampanye, atau tampaknya dia pesimistis janji itu tidak bisa terlaksana, muncul
pemikiran lain. Pemikiran itu dilontarkannya pada saat dia dicalonkan menjadi
Presiden. Waktu itu dia berkata, bahwa masalah-masalah yang membelit Jakarta
akan lebih mudah dituntaskan jika dia menjadi Presiden. Pada 2014, rakyat
memilihnya menjadi Presiden.
Sekali lagi muncul kehebatannya
dalam menjawab masalah, atau setidaknya berkelit dari masalah. Ketika dia
menjadi Presiden dan melihat masalah-masalah yang sedari awal dia janjikan
untuk diselesaikan masih berlangsung, maka dia memutuskan untuk memindahkan
sumber masalahnya: Ibukota.
Boleh dibilang itu adalah cara brilian
mengatasi persoalan. Ibaratnya jika kita tidak bisa membersihkan rumah
sedangkan kita sudah kadung janji bahwa rumah tersebut akan kita bersihkan dan
juga perindah, maka pindah saja. Simpel sekali bukan.
Cara ini jelas out of the box dan tidak sembarang orang
bisa melakukannya. Para pengkritik boleh
bilang bahwa keputusan Jokowi itu adalah cerminan dia lari dari masalah, atau strategi
itu justru mengonfirmasi kegagalannya atas janji-janjinya terdahulu. Singkatnya
adalah eskapisme.
Tetapi cobalah lihat dalam sudut
pandang lain. Tidakkah kita dapatkan justru solusi itu menjadi pencapaian atas
program-program kampanyenya dahulu. Dengan memindahkan Ibukota, maka kota baru
itu berarti terbebas dari kemacetan, banjir dan juga polusi (meski poin ketiga
masih harus dikonfirmasi karena Pulau Kalimantan rentan polusi asap dari hutan
yang terbakar).
Setelah melihat dari sudut lain
itu, sekarang waktunya membayangkan. Pejamkan mata dan bayangkan bagaimana
nanti kota baru itu dibangun, bayangkan setelah semua itu diwujudkan. Hampir
bisa dipastikan tidak ada macet di sana (setidaknya untuk beberapa masa ke
depan), tidak ada banjir di sana (setidaknya untuk beberapa belas tahun ke
depan jika tidak ada penggundulan hutan), dan tidak ada polusi (setidaknya
untuk beberapa waktu ke depan jika tidak ada kebakaran hutan). Tentu semua akan
baik-baik saja di sana.
Hanya satu mungkin yang perlu
dikhawatirkan. Ketika sebagian ongkos membangun itu didapat dari utang, karena
pundi-pundi uang pemerintah tidak mencukupi, beberapa masa ke depan apakah kita
sanggup membayar utang-utang itu. Apalagi kondisi perekonomian kita masih jauh
dari mumpuni untuk mengongkosi semua itu.
Akan tetapi jangan berlebihan
tentang hal itu, karena Sang Presiden pasti sudah akan memiliki terobosan untuk
memecahkannya jika masalah itu memang muncul. Pasti ada cara breakthrough lainnya yang akan
dikeluarkannya. Percaya saja.
Komentar