Was-was


Seseorang akan merespons sesuatu yang datang kepada dirinya dengan kemampuan yang dia miliki. Ini sangat alami. Seorang pemimpin juga akan merespons masalah –dan memberikan solusi, dengan kemampuan yang dia miliki. Akan tetapi ada pemimpin yang memberikan solusi, yang memang mengena dan solusional, namun tak jarang ada juga yang memberikan solusi yang ala kadarnya. Dan ini soal level.
                Kini kita dihadapkan sebuah situasi yang membuat kita tidak susah menyimpulkan mana pemimpin yang berkualitas dan mana pemimpin yang ala kadarnya. Kita pun menjadi gregetan. Kita juga menjadi was-was.
Ketika demokrasi mengharuskan yang paling banyak meraih suara yang bisa menjadi pucuk pimpinan –bukan yang terbaik, ada pertanyaan yang layak kita ajukan kembali, terutama kepada diri kita sendiri. Cara terbaik adalah dengan bertanya, dari hati ke hati, apakah yang dilakukannya memang mewakili hati sebagian besar rakyatnya?
                Pemimpin –dalam hal ini Presiden –yang kita coblos gambarnya beberapa bulan lalu, lahir dari kontestasi siapa yang lebih banyak, bukan siapa yang lebih baik. Harapannya adalah, setiap kebijakannya bisa mewakili lebih banyak orang, bisa disokong lebih banyak rakyat.
                Akan tetapi peristiwa bulan lalu ketika lembaga antikorupsi akan diperlemah wewenangnya, Presiden menyetujuinya. Padahal banyak rakyat pemilihnya yang justru menolaknya.
                Cobaan kemudian tidak berhenti sampai di situ. Muncul kerusuhan di ujung timur wilayah Indonesia yang menyebabkan banyak pendatang, yang juga orang Indonesia yang menjadi korban, sebagian besarnya memutuskan kembali ke kampung kelahirannya. Seturut dengan itu pula terjadi bencana alam di salah satu kepulauan di wilayah timur Indonesia, dan akibat kejadian itu banyak rakyat jadi korban.
                Boleh dibilang, negeri ini sedang lara, sedang berduka. Layaknya orang bersedih maka ia akan berdiam diri merenungi kejadian yang barusan menimpanya. Lalu apa yang dipilih oleh pemimpin yang sekarang untuk membesarkan hati, mengurangi beban rakyatnya: merencanakan konser musik.
                Sontak banyak orang kebingungan. Entah apa yang ada dibenak pemimpin dan orang-orang yang mengajukan rencana itu. Sebagaimana lazimnya, orang yang sedang tertimpa musibah sebesar itu tidak akan menjadi tenang dengan dihibur dengan musik. Yang dibutuhkan adalah pundak untuk bersandar dan tubuh untuk dipeluk. Dan dari pemimpin seharusnya hal-hal itu bisa didapat.
                Dari pemimpin, kita juga bisa berharap mendapat solusi dari masalah yang kita hadapi saat ini. Solusi itu diberikan bukan sekadar untuk menyenangkan banyak pihak, apalagi menyamankan segelintir orang, tetapi untuk mengatasi masalah yang sedang berlangsung. Solusi yang diberikannya sudah pasti tidak akan membuat orang banyak was-was atau gregetan. Ya, orang banyak, bukan hanya segelintir orang.
                Sekarang ini istilah “orang banyak” atau “segelintir” sudah bias. Ada kalanya kepentingan orang banyak dianggap hanya untuk sekelompok kecil, dan kepentingan segelintir dinisbatkan untuk kepentingan bangsa dan negara.
                Lagi-lagi, kita harus bertanya kembali kepada diri kita, apakah segelintir itu bangsa dan negara, dan apakah orang banyak itu sekelompok kecil saja. Lagi-lagi pula kita butuh sosok pemimpin untuk membuat hal itu menjadi jelas, lewat solusi yang dikeluarkannya untuk menjawab persoalan masyarakat umum, rakyat kebanyakan.
                Lalu bagaimana kalau masalah rakyat sekarang ini adalah ketiadaan pemimpin yang seperti itu? Tentu akan makin banyak orang yang gregetan dan juga was-was.

               
               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase