Peluang


Banyak ahli pengembangan sumber daya manusia mengatakan bahwa orang sukses bukanlah orang-orang yang jenius atau menyandang gelar berlapis lapis. Melainkan orang yang mampu memanfaatkan peluang yang ada sekecil apapun untuk melakukan sesuatu perubahan dalam hidupnya.
Setiap kita sejatinya punya potensi untuk memanfaatkan peluang –apa pun itu dan menyulapnya menjadi sesuatu yang menguntungkan. Istilah peluang bisa diartikan sebagai satu set keadaan yang membuat sesuatu itu bisa dan mungkin dilakukan seseorang. Dalam praktik, di Indonesia, istilah ini boleh disetarakan dengan kata “kesempatan”, atau praktik mengambil keuntungan. Kita tentu sudah mahfum akan hal itu.
Akan tetapi, istilah yang tadinya berkonotasi positif kini telah tercampur dengan konotasi yang negatif. Karena dalam pengejawantahannya, kesempatan sering juga disejajarkan dengan praktik mengambil keuntungan dengan cara yang curang.
Orang Indonesia adalah orang yang paling pintar dalam memanfaatkan peluang. Bahkan mencari peluang. Oleh karena itu muncullah istilah  “curi-curi kesempatan” dan “cari-cari kesempatan”. Boleh dibilang dua istilah itu merupakan ciri dari orang Indonesia.
Tidak salah sebenarnya dengan dua istilah itu ketika ia disematkan kepada upaya dan kegigihan seseorang dalam mencari peluang untuk mendapatkan keuntungan secara ‘bersih’. Beda, ketika istilah-istilah itu disematkan kepada seseorang yang mencari peluang dengan menelikung aturan bahkan mengangkanginya.
Kalimat terakhir, saat ini, tengah menampilkan gambaran jelasnya kepada publik. Yaitu ketika pejabat puncak maskapai penerbangan nasional terbukti menyelundupkan motor gede dan sepeda mewah di dalam pesawat yang baru saja dikirimkan.
Sang Dirut tampaknya sangat percaya diri bahwa praktiknya itu akan mulus terlaksana karena tentu dia sudah memahami seluk beluk aturan terkait hal itu. Dengan bekal itu dia sudah mengalkulasi langkah selanjutnya, bagaimana menelikung aturan dan orang-orang. Bahkan boleh jadi dia merasa berada di atas aturan.
Hampir bisa dipastikan dia juga paham standard operating procedure (SOP) perusahaan dalam pembelian pesawat baru. Dia tahu SOP pemeriksaan dari pihak bea dan cukai terhadap barang-barang impor. Singkatnya, sedari awal dia mengerti bahwa tindakannya itu salah.
Namun demikian dia merasa bisa mengatasi itu semua, tentunya dengan kekuasaan dan uang yang dia punya. Sedari awal dia merasa akan lolos dari hukuman atas kesalahannya dengan menyogok beberapa petugas berwenang terkait impor barang.
Tetapi pada akhirnya sang nakhoda maskapai terkemuka itu pun tidak sukses meskipun dia berusaha memanfaatkan peluang yang ada. Dia akhirnya dicopot dari jabatannya, bersama dengan jajaran direksi lainnya. Dari keputusan itu, kemudian terbukalah kotak pandora, berisi tindakan-tindakannya yang dianggap tak patut. Dari gaya hidupnya yang hedonis yang kerap menumpang fasilitas perusahaannya, kebijakannya yang kontroversi karena dianggap tidak sesuai dengan aturan, dan kehidupan pribadinya menyangkut hubungannya dengan beberapa pegawainya.
Kini hidupnya tentu akan berubah dari pejabat publik yang mentereng menjadi pesakitan. Dia akan menjadi contoh bagaimana upaya mencari kesempatan bisa sangat menjebak, apalagi hanya demi memenuhi gaya hidup. Setidaknya dia akan menjadi permisalan negatif mengenai terminologi “memanfaatkan peluang” atau “memanfaatkan kesempatan”
Meski begitu publik tentu masih menunggu apa sanksi atau hukuman yang dikenakan kepadanya –selain pencopotan posisinya sebagai dirut. Karena biar bagaimanapun apa yang telah dia lakukan tidak sekadar melanggar aturan, SOP atau kode etik pengelola perusahaan penerbangan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase