Zaman Bingung
Dahulu di saat informasi begitu minim didapatkan orang banyak yang terjadi adalah keluguan dan penipuan. Kini di saat informasi begitu bebas hilir mudik di hadapan kita, yang terjadi
adalah kebingungan.
Memang ironis, ketika kita berada dalam sebuah zaman yang dikenal dengan era informasi, era di mana semua pengetahuan bukan lagi sebuah hal yang langka, justru kita menjadi bingung
memperoleh kebenaran atau fakta. Sebabnya adalah ada pihak-pihak tertentu yang ingin membiaskan fakta atau kebenaran kepada ‘kebenaran’ atau ‘fakta’ versi mereka. Di zaman ini, hal itu bisa disebut
hoax.
Namun apa boleh dikata, di tengah derasnya arus informasi, sebagian orang pun mempercayai hoax itu, dan kemudian bertindak atas kebenaran palsu tersebut. Padahal menurut sebuah teori
yang dikenal sebagai Bounded Rationality, semua pandangan dan tindakan orang, ditentukan oleh apa yang mereka ketahui saat itu. Bahkan kesadaran dan rasionalitas yang
dimiliki seseorang saat berpikir pun dipengaruhi oleh informasi yang dia miliki saat itu. Kita tahu maka kita bertindak, dari suatu tindakan kita mengetahui sesuatu.
Maka dari itu ketika seseorang mengatakan sesuatu, hampir dipastikan itu adalah curahan dari pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang ia dapat dari informasi yang dia olah sendiri
dalam pikirannya.
Dalam kondisi krisis kesehatan seperti saat ini, oleh karena itu, penting kiranya memiliki seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan yang cukup atas masalah yang dihadapi rakyat
banyak. Sehingga dia bisa bertindak dan mengatakan hal-hal yang tepat yang bisa jadi solusi bagi masalah itu.
Meski begitu, ironisnya ada pemimpin yang tidak bisa membedakan apa itu mudik dan pulang kampung, pemimpin yang kerap tidak seirama apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan lalu
apa yang diputuskan. Belum lagi pemimpin-pemimpin itu saling merevisi pernyataan satu sama lain, bahkan menganulirnya. Akibatnya banyak rakyat menjadi bingung, dan sebagian lainnya menahan kegemasan.
Kebingungan masyarakat pada akhirnya berakibat mereka tidak lagi mengindahkan aturan pemerintahnya dan imbauan pemimpinnya. Masyarakat juga akhirnya memiliki logikanya sendiri dan
terpecah dalam pilihan-pilihan karena ketiadaan ketegasan aturan pemimpin.
Bahkan tindakan yang mereka pilih pada akhirnya membuat mereka menafikan nalar dan logika yang umum digunakan. Misalnya ketika wabah Covid-19 makin parah dengan ditandai oleh naiknya
jumlah penderita, yang dilakukan justru adalah mengurangi keketatan aturan untuk tetap di rumah. Ketika jumlah pasien terus meningkat, pemerintah malah bersiap membuka kembali mal dan pasar serta pabrik-pabrik seperti sedia
kala, dengan dibungkus aturan new normal.
Maka orang-orang yang sedari awal memiliki pengetahuan dan kesadaran akan masih ada ancaman serius dari wabah ini, pantas geram. Karena mereka berpikir, pengorbanan yang dilakukan
mereka selama ini, akan berakhir sia-sia. Mereka sudah mengisolasi diri, tidak keluar rumah, mengikuti protokol kesehatan yang ada. Tetapi pada akhirnya ada pihak-pihak tidak memiliki informasi yang cukup atau justru dikaburkan
pengetahuannya, kembali menjalani kebiasaan yang bisa membuat wabah kembali merajalela. Semua akan mulai lagi dari nol.
Jadi mungkin tepat apa yang dikatakan Gertrude Stein, seorang penulis Amerika Serikat. “Everybody gets so much information all day long that they lose their common sense".
Komentar