aku yang aneh

kadang aku sendiri menganggap diriku aneh. aku menyayangi, sangat menyayangimu lebih dari perasaan sayangku kepada siapapun. mungkin perasaan yang berlebih itulah yang membuatku berat berpisah denganmu. sangat berat.

Mengapa justru saat kita dekat, aku kehilangan bagian dariku yang kukenal. Bagian yang seringkali menjadi penting itu tidak muncul. Saat kau butuh teman, justru sisi diriku yang oleh teman yang lain dianggap menyenangkan, ragu-ragu untuk menampakkan bentuknya: aku lupa cara menghiburmu. Memang aneh!

Berbeda jika yang kuhadapi bukan kamu. Lelucon itu mengalir saja tanpa memikirkan risiko tak mendapat respons senyuman atau tertawa cekikikan. Aku ingin bilang padamu bahwa aku juga tidak mengerti mengapa demikian.

Mengapa justru kata-kata hilang pada saat seperti itu? saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasihat bijak atau sekedar humor segar yang bisa mengungkap senyummu.

Yang aku tahu adalah aku telah jatuh hati padamu. Jika hati adalah air maka aku barangkali sudah terjun berkali-kali. Dan saluran yang bernama kehidupan telah membawa air itu kembali ke hulu, melewati tebing untuk terjun kembali, mengalir ke hilir untuk akhirnya ke laut.

Setelah dihisap oleh matahari menjadi awan, angin kemudian meniupnya kembali ke pegunungan dan memerasnya menjadi hujan. Begitu berulang-ulang.

Namun keanehan yang aku tidak mengerti adalah kini aku sendiri, kau sendiri.

Kau tahu? aku tidak pernah bisa menangani kesendirian. Tapi aku tidak ingin bersamamu hanya karena ingin menghindari sepi. Atau karena tidak ingin sendiri. Aku ingin bersamamu karena aku menemukan potongan lain dari hidupku untuk menjadikannya utuh.

Jika kita berada di ruang dan waktu yang sama, ingin rasanya aku mengirimkan rohku untuk menyesap ke tubuhmu hanya untuk mengetahui perasaanmu saat itu, saat kau melihatku. Apakah sama dengan saat aku melihatmu?

Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa. Karena cinta sudah memenuhinya. Aku bahagia meski bahagia tidak selalu sempurna. Aku mencintaimu sampai sekarang. Dan itu keanehan lainnya.

Aku ingin mengetahui apakah kesombongan yang termanivestasi dalam sikapmu selama ini adalah nyata keenggananmu padaku. Jika memang demikian maka aku akan berbalik dan meraih gagang pintu itu, melewati dan menutupnya. Kutinggalkan kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase