hari ini hujan turun malas-malasan, aku bersyukur. rintik-rintiknya terasa lebih dingin akhir-akhir ini. awan putih menutupi langit, tak ada tersisa warna biru. sebelum menyalakan roda dua kulihat alvin, keponakanku yang berumur lima tahun bersepeda di depan rumah. Sepeda mungil warna pink dikayuhnya hilir mudik di jalan beraspal.
tapi tidak begitu yang terjadi di Palestina. rintik-rintik hujan di sana adalah rintik-rintik kembang api dari mortir dan rudal-rudal yang berseliweran. rasanya pasti lebih panas. anak-anak kecil termangu di samping jenazah ibunya bersama beberapa korban kebiadaban Israel lainnya. atau orang tua yang menangis menggendong jenazah anak-anaknya.
anak-anak kecil dibantai, jutaan keluarga diusir dari rumahnya, kampung halamannya; tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. berdasarkan data, pada 2008 sudah 4,62 juta warga dipaksa keluar dari Palestina. Israel sedang menjalankan rencana sistematis menguasai wilayah Palestina dengan cara keji.
tahun 1917, sebelum deklarasi Balfour, saat Inggris “menghadiahkan” Israel wilayah di Timur Tengah, negara Palestina masih utuh 100 persen. (inilah yang diungkapkan Ahmadinejad bahwa Israel sebagai negara “ujug-ujug”).
kemudian tahun 1947, lebih dari separo wilayah Palestina berpindah menjadi milik Israel (Ajaib! dunia dan ‘polisi-polisinya’ diam saja). dua puluh tahun kemudian wilayah Palestina tinggal kurang dari sepertiganya saja, hanya tinggal 22 persen dan menyisakan Kota Gaza dan Tepi Barat. dan tahun ini, Israel sudah mencaplok 88 persen dari wilayah dan negara Palestina.
aku mungkin tidak tahu, konstelasi politik macam apa yang berlangsung di dunia sana. kenapa negara-negara Arab diam saja? kemana pemerintahan Palestina, Fatah? tapi yang aku rasakan dunia sedang berubah.
kini, negara yang masyarakatnya semula acuh, bahkan mendukung Israel, mulai terbuka matanya. minimal itu terjadi saat demonstrasi yang dilakukan masyarakat yang tadinya dianggap pro barat, pro Yahudi. lihat saja di Australia, Italia, bahkan di AS sendiri.
Yang hebat lagi, Venezuela telah mengusir diplomat Israel dari negaranya. sebuah langkah berani.
Zionis bergeming. dengan alasan berakhirnya gencatan senjata Desember lalu, Israel ingin menginvasi Gaza. tak cuma wilayah, potensi perlawanan yang mungkin timbul di kemudian hari juga dibumihanguskan: anak-anak!
9 Januari 2009
Komentar