mengawasi pengawas

Sejak ditetapkannya beberapa petinggi Bank Indonesia menjadi tersangka pada kasus hukum, otoritas moneter terlihat mulai goyah dalam menjalankan peran-perannya sebagai pengawas perbankan, last of the lender resort atau penstabil ekonomi nasional.

Oleh karena itu, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono lah yang kemudian dipilih menjadi Gubernur BI pada April 2008. Figur Boediono yang kalem dan jauh dari kontroversi dianggap cocok untuk menjalankan misi utama memulihkan reputasi dan memperbaiki moral para pegawai BI.

Dua bulan pasca Boediono resmi berkantor di Kebon Sirih, dua orang pegawai senior BI didakwa atas tindak korupsi dan penyelewengan kekuasaan.

Dua bulan setelah itu, bencana mulai datang berurutan sejak pemerintah AS mengumumkan keadaan sistem keuangan darurat dan mengumumkan rencana penyelamatan senilai 700 miliar dollar AS. Bantuan yang besarnya lebih dari lima kali nilai inventarisasi aset Indonesia ini sontak menyedot perhatian dunia yang sejak sebulan cemas menunggu perkembangan krisis.

Ironisnya langkah AS hanya permulaan bagi petaka lanjutan yang menggoyahkan BI.

Karena sejak saat itu, otoritas perbankan kerepotan menjaga aliran likuiditas di dalam sistem keuangan dalam negeri baik rupiah maupun valuta asing.

Bank-bank menawarkan suku bunga supertinggi di depan hidung pengawas, melewati suku bunga maksimal dari lembaga penjamin simpanan (LPS). Sementara pada mata uang valas, bank menawarkan produk-produk menggiurkan jika nasabah bersedia menempatkan dollar AS dalam jumlah yang tidak sedikit.

Kondisi perbankan dan keuangan setelah itu makin merepotkan bank sentral. Perbankan tetap ngotot meningkatkan penyaluran kredit di tengah suku bunga tinggi dan di bawah ancaman krisis keuangan. Padahal pilihan kebijakan tersebut bisa mendongkrak kredit macet ke level tertinggi.

Di sisi valas, permintaan akan dollar AS yang tidak kunjung mereda membuat nilai tukar rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah terus tertekan dan bahkan sempat melemah lebih dari 30 persen pada November dibanding nilainya pada Agustus. Padahal BI sudah mengeluarkan berbagai jurus untuk menjinakkan nilai tukar.

Belum selesai mengatasi pelemahan nilai tukar -yang jika didiamkan mengundang inflasi (imported inflation) dan jika diladeni menggerus cadangan devisa-, masalah lain muncul. Bank Century gagal melakukan kliring pada 13 November.

Bank Century yang kolaps bisa menjadi awal petaka bagi otoritas pengawas perbankan, dan BI paham betul hal itu. Oleh karena itu di akhir pekan kedua November, Dewan Gubernur BI memanggil Direksi Bank Century yang ditemani beberapa petinggi Bank Mandiri. Mereka rapat semalam suntuk.

Paginya, BI memutuskan bahwa Century harus “dirawat” dan mendapatkan suntikan dana 2,5 triliun rupiah, sementara bankir Mandir bertugas menjadi “dokter jaganya”.

Mengapa lembaga pengawas yang memiliki berbagai instrumen supervisi bisa kecolongan lagi –terakhir pada kasus bank global- mengawasi tindak tanduk bank? Apakah instrumen-instrumen aturan yang telah disusun sejak Gubernur BI dijabat Burhanuddin Abdullah tidak punya taji sama sekali?

Untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, Anggota komisi XI DPR Dradjad Hari Wibowo punya jawabannya sendiri. Menurut politikus yang juga ekonom lulusan University of Queensland, Australia, sistem pengawasan di BI saat ini tengah bermasalah, juga personil pengawasnya.

“Sistemnya itu yang belum membuat orang berani mengambil tindakan, jadi perlu dibuat sistem agar mereka berani,” kata dia.

Selain itu, tidak berjalannya mutasi reguler pada pegawai-pegawai juga membuat sistem pengawasan perbankan tidak berjalan normal.

BI sendiri berjanji akan meninjau kembali personil tim pengawas untuk mencocokkan kemampuan teknis dan integritas. Hal itu dimaksudkan untuk mengurangi gap antara diagnosa dan terapi terhadap permasalahan perbankan yang muncul.

BI juga dinilai harus segera memperbaiki kinerja pengawasan perbankan, baik pelaku di industri atau produk-produk yang beredar. Selain itu pihak Kebon Sirih juga harus tegas dan tanggap terhadap pelanggaran yang ada agar tidak lagi disebut sebagai lembaga yang hebat melihat masalah tetapi kurang tegas dalam mengatasinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase