Resolusi

Setiap tahun baru datang, satu kata yang banyak digunakan orang adalah resolusi. Kata itu mengacu pada janji, rencana, tekad bulat yang ingin diwujudkan di tahun baru. Hal itu bisa dimaklumi, pasalnya setiap waktu berganti harapan selalu akan disematkan. Keyakinan kita bahwa bahwa besok matahari tetap akan terbit di tempat yang sama adalah pangkal dari terbitnya harapan, keinginan, rencana dan lainnya.
Akan tetapi ketika resolusi sudah ditorehkan maka segenap energi kita semestinya mendukung dan siap mencapai apa yang direncanakan. Kita tidak pernah tahu dalam 365 hari ke depan kita bisa menjaga kebulatan tekad kita saat menetapkan resolusi tersebut. karena tidak ada satu jaminan pun yang mengatakan bahwa resolusi itu akan bertahan sepanjang tahun.
Ada kalanya kita ter-distraksi dengan keinginan, rencana, ataupun janji lain yang tiba-tiba saja muncul di tengah jalan. Jika itu terjadi, bisa jadi kita mengubah keinginan dan janji kita itu di tengah jalan. Hal itu bukanlah sebuah tindakan yang memalukan, jika memang kondisi atau prasyarat untuk mewujudkan resolusi itu memang tidak memungkinkan karena ada sebuah perubahan besar. Perubahan itu membuat kita tidak lagi bisa mewujudkan resolusi.
Misalnya saja, kita memiliki resolusi untuk lebih sering berolahraga atau pergi ke pusat kebugaran. Namun kita tertimpa musibah, atau kita sakit keras. Maka perubahan resolusi memang dibutuhkan.
Berbeda kondisinya jika sedari awal kita memang sudah menyiapkan alasan jika nanti resolusi kita tidak terlaksana atau tidak berhasil. Padahal yang harus disiapkan adalah rencana untuk mewujudkannya, bukan menyiapkan alasan.
Ada cara untuk membedakan apakah keinginan baru, atau janji baru itu memang bagian dari perubahan yang terelakkan atau memang sedari awal janji yang kita torehkan sebelumnya hanya sekadar iseng-iseng berhadiah. Atau lebih parah lagi untuk membohongi diri sendiri (bahkan orang lain). Alasannya kita sudah tahu bahwa resolusi (janji, keinginan dan tekad) yang kita torehkan di awal tahun memang tidak akan bisa kita capai dan kita wujudkan.
Menurut Dr Anne Swinbourne -ahli psikologi perilaku di Universitas James Cook, Australia- resolusi terbaik adalah sesuatu yang mencakup sebagian dari rencana jangka panjang untuk Anda sendiri, dibanding dengan yang tidak jelas dan aspirasional. Dengan kata lain, resolusi adalah bagian dari kemampuan kita sendiri untuk mewujudkannya.
Oleh karena itu, jika kita tidak pernah tertarik dengan olahraga maka resolusi menjadi atlet yang baik kecil kemungkinan akan bertahan dan semestinya tidak dijadikan resolusi. Namun resolusi untuk menabung karena kita bermimpi melakukan perjalanan keliling dunia sebelum berusia 50 tahun akan lebih mungkin berhasil.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari resolusi adalah, buatlah janji yang kita sendiri memang berniat tulus ingin mewujudkannya bukan cuma kata-kata kosong tanpa makna yang ingin menyenangkan diri sendiri (atau pihak lain). Atau lebih parah lagi ingin menghindar dari kenyataan dan membohongi orang lain.
Pemerintah saya kira juga harus memiliki resolusi di tahun 2018 ini. Misalnya, jika ingin mendorong ekonomi rakyat kecil, seharusnya kebijakan yang dikeluarkan adalah yang pro rakyat, bukan sebaliknya. Jika ingin mendorong pertumbuhan ekonomi maka kebijakan yang diterbitkan adalah yang bisa mendorong roda ekonomi, bukan sebaliknya.
Rakyat sudah mulai bisa membedakan mana resolusi (janji, keinginan) palsu atau minimal yang tak tulus dari pemerintah dan mana yang memang sungguh-sungguh. Jika resolusi (janji, keinginan) hanya digunakan untuk kepentingan segelintir orang maka dipastikan rakyat akan dapat merasakannya.
Apalagi tahun ini musim janji tampaknya akan mulai bersemi.
(DIPUBLIKASIKAN DES 2017- JAN 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase