Empati dan Pemimpin
Dalam sebuah workshop kepemimpinan yang saya pernah
ikuti, saya sempat mengambil kesimpulan bahwa setiap pemimpin itu memiliki
keunikan masing-masing. Tapi ia sudah dibentuk sedari awal melalui didikan dan
pengalaman, plus proses pengayaan dari diri sendiri.
Setiap
pemimpin itu memang berbeda-beda, tapi ada ciri-ciri umum yang bisa diketahui
dan dirasakan orang banyak: dia bisa merasakan masalah yang dirasakan orang
banyak dan berusaha tidak menambah bebannya. Singkatnya, pemimpin itu pasti
punya sifat empati yang tinggi.
Empati
memang bukan syarat utama seseorang itu bisa menjadi pemimpin atau tidak, namun
setidaknya jika sifat itu tidak ada maka orang itu tidak bisa disebut sebagai
pemimpin. Dia harus memiliki empati ketika orang banyak, atau rakyatnya
kesusahan maka dia bisa merasakan kesusahan itu sehingga tidak mau menambah
kesusahan, apalagi menciptakan kesusahan baru buat rakyatnya.
Ibu
saya, sewaktu saya masih kecil seringkali memberi nasehat, “Jika kamu tidak mau
dicubit maka janganlah mencubit,”. Saya kira itu adalah ungkapan pembelajaran
empati yang sangat sederhana namun sangat mengena. Karena kita bisa
membayangkan sakit yang akan kita derita ketika dicubit, sehingga menahan
keinginan kita untuk mencubit. Kita bisa memperluas pengertian itu pada
tindakan lain, memukul misalnya, atau mengejek, bahkan memfitnah atau
menyebarkan berita bohong.
Empati
memiliki arti kemampuan menghubungkan dan merasakan pikiran, emosi ataupun
perasaan orang lain. Gampangnya, bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain
ketika mengalami suatu peristiwa atau kejadian. Orang-orang yang empatik sering
dilihat oleh orang lain sebagai orang yang memahami dan mampu memberikan
dukungan kepada orang lain secara tepat dengan perasaan peka dan peduli.
Banyak
pendekatan teori kepemimpinan yang menekankan bahwa empati adalah bagian
penting dari kepemimpinan. Menurut Bass (1995), seorang transformational leader membutuhkan empati untuk menunjukkan kepada
pengikutnya bahwa mereka peduli akan kebutuhan dan pencapaian pengikutnya.
Cerita
mengenai pentingnya empati dalam sebuah kepemimpinan juga pernah dibuktikan
oleh Robert James Eaton. Dia adalah pebisnis dan pemimpin perusahaan yang
sukses terutama ketika memimpin perusahaan otomotif Chrysler.
Sewaktu
pertama kali masuk menjadi CEO di perusahaan itu, dia membentuk “Senior
Management Behavior Team”. Itu adalah suatu program yang dirancang untuk
melatih para pejabat senior perusahaan tersebut agar mereka lebih mudah
didekati, mau mendorong keterbukaan karyawannya, dan mau menyapa serta
mendengarkan keluh kesah bawahannya.
Dengan
program itu, Robert Eaton sendiri mencontohkan dirinya bagi program yang
diluncurkannya. Pada akhirnya kemudian dia sering dijuluki sebagai seorang
pemimpin yang selalu mudah dihubungi, memiliki kemampuan intuitif, dan bersedia
mendengar serta memberi petunjuk dengan empati.
Banyak
penelitian soal kepemimpinan yang menyimpulkan bahwa ketidakpekaan seseorang
terhadap orang lain, merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan
kegagalan seorang eksekutif dan pemimpin. Ada juga penelitian lain yang menunjukkan
bahwa kesediaan seseorang untuk memahami perspektif orang lain, merupakan
faktor keberhasilan yang signifikan dalam aspek kepemimpinan.
Akhir-akhir
ini, akan tetapi, kita kehilangan apa yang dinamakan empati dari pemimpin, atau
pemimpin yang empatik. Dengan hati telanjang kita bisa merasakan beberapa (jika
tidak bisa dibilang banyak) yang diputuskan oleh pemimpin justru menambah beban
buat rakyat banyak. Dengan mata telanjang kita juga bisa melihat betapa
pemimpin kita justru abai terhadap beban-beban yang mendera rakyat itu.
Mungkin
saya berlebihan dengan menyebut beban. Namun jika saya menyebut kenaikan harga
bahan bakar minyak di tengah penurunan harga minyak dunia, saya rasa tidak.
Komentar