Kebenaran Vs Pseudo Kebenaran



Zaman sekarang, ketika masyarakat tidak henti-hentinya dijejali dengan teknologi baru terutama di bidang informasi, butuh kepala yang ‘berisi’ dan hati yang jernih. Kepala yang berisi dan hati yang jernih dibutuhkan dalam menerima informasi yang belum tentu sebuah fakta dan fakta juga belum tentu kebenaran.
Dalam beberapa literatur, fakta (bahasa latin: factus) adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia. Fakta seringkali diyakini oleh orang banyak sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat, maupun karena mereka dianggap telah melaporkan pengalaman orang lain yang sebenarnya.
Sedangkan kebenaran adalah suatu sifat kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan antara suatu kepercayaan dan fakta. Atau dengan kalimat lain, kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan dengan fakta-fakta itu sendiri atau pertimbangan (judgment) dan situasi yang dipertimbangkan itu berusaha melukiskannya
                Jadi informasi yang diterima oleh panca indera kita belum tentu sebuah fakta, dan fakta yang kita terima belum tentu sebuah kebenaran. Dalam dunia serba digital sekarang ini, informasi ditumpahkan begitu derasnya sampai-sampai kita kewalahan untuk memahaminya dan kemudian menyimpulkannya sebagai fakta. Untuk kemudian menganggapnya sebagai sebuah kebenaran, tentu memerlukan daya pikir dan daya filter yang lebih hebat lagi dari kita. Dan banyak dari kita kemudian menyerah dengan derasnya fakta yang dijejalkan itu dan lalu memaksa kita untuk menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.
                Saat ini dengan teknologi Big Data, publik lebih mudah untuk menilai informasi, apakah ia sebuah fakta, terlebih lagi apakah ia sebuah kebenaran. Setiap informasi bisa dilacak kebenarannya, lebih singkat dari yang bisa kita dilakukan beberapa tahun lalu.
                Akan tetapi sebaliknya, sebagian orang juga sudah bisa mengakali hal ini. agar informasi yang diproduksinya terlihat seperti fakta dan kemudian dianggap sebagai kebenaran, maka dibuatlah informasi itu agar terbaca oleh banyak orang dan mendapat dukungan dari banyak orang. Dukungan itu, dalam era media sosial sekarang, bisa berupa like, share, follow, dan lain sebagainya.
Tidak cukup sampai situ, mereka juga mengupayakan agar informasi tersebut dikutip atau dimuat oleh media-media mainstream dan resmi. Ketika informasi itu sudah dikutip oleh media-media maka tinggal selangkah lagi informasi itu dianggap sebagai kebenaran.
                Maka dari itu, tidak lah mengherankan jika ada sebuah isu, maka akan muncul kontra-isu yang membuat sebagian publik mendapat informasi sebaliknya dari isu tersebut. Bahkan ketika isu itu sudah berubah menjadi kebenaran, tepatnya pseudo-kebenaran.
                Misalnya saja, mengenai serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA). Ketika begitu banyak informasi yang terkonfirmasi menjadi fakta dan lalu menjadi kebenaran, pihak yang berseberangan memunculkan kontra-isu mengenai hal itu. Jika dikatakan bahwa TKA sudah mulai merebut lapangan pekerjaan penduduk lokal, atau dikatakan bayaran yang didapatnya lebih besar, maka akan muncul informasi bahwa tidak ada TKA yang melakukan hal itu. Hebatnya lagi kontra isu itu digulirkan begitu masif lewat saluran-saluran resmi, bahkan hingga ke media-media mainstream. Akhirnya sebagian meyakini bahwa isu itu tidak benar, dan pendapat publik pun terbelah.
                Dalam hal ini, media seharusnya menjadi filter bagi informasi yang belum tentu menjadi kebenaran sebelum ia dilemparkan ke publik. Akan tetapi, kata seorang wartawan senior,  ketika banyak media masih mengandalkan iklan yang disiram oleh korporasi-korporasi besar, maka kebebasan dan independensi ruang redaksinya selalu mendapatkan ujian. Dan tidak berlebihan jika informasi yang dilemparnya ke publik pun tidak mesti ditelan mentah-mentah.

(DIPUBLIKASIKAN MAR-APR 2018) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase