Evaluasi dan Energi “Ngeles”


Menjelang akhir tahun, menjelang lembar terakhir kalender akan disobek, isu yang sering muncul adalah evaluasi. Evaluasi bukanlah kata yang mati, ia sejatinya terus bergerak sejak awal, tidak hanya menjelang suatu batas waktu tertentu.
Namun sepertinya evaluasi itu seringkali menjadi semacam ritual akhir tahun yang diwarnai oleh hura-hura, atau minimal liburan yang berbungkus rapat kerja.
Banyak cara untuk mengevaluasi diri. Di antaranya adalah dengan sikap jujur menilai diri sendiri. Kita tidak bisa mengevaluasi diri atau perusahaan kita jika kita menilai terlalu tinggi diri atau perusahaan kita, sikap yang sebaliknya juga tidak bisa. 
Saat kita membaca ulang terhadap apa yang sudah kita lakukan sebelumnya, atau setahun ke belakanga, sikap jujur harus muncul menjadi pelaku utama. Ketika kita merasakan (dan juga ada fakta lapangan) bahwa sebuah proyek yang kita kerjakan tidak berhasil, bahkan gagal, atau sebaliknya belum sempurna, bahkan menimbulkan dampak yang merugikan, kita harus jujur mengakuinya.
Evaluasi tidak akan berhasil jika kita mengeluarkan jurus “ngeles”. Jurus ini biasa dikeluarkan jika program atau rencana kita ternyata tidak berjalan sesuai rencana, atau malah gagal. Sebuah lelucon pernah mengatakan, bahwa semua jurus dari jenis beladiri apapun di dunia ini tidak ada yang sanggup menandingi jurus “ngeles”. Jadi serangan apapun bisa dihindari dan tidak akan bisa mengalahkannya.
            Energi “ngeles” akan selalu dimiliki oleh personal dan atau institusi yang ketika pilihan kebijakan atau proyeknya tak berhasil cenderung tidak mau introspeksi. Parahnya lagi adalah ketika hal itu terjadi ia cenderung menyalahkan orang lain.
            Oleh karena itu penting untuk memiliki sikap jujur, atau minimal memiliki orang lain yang bisa mengatakan apa adanya kepada kita. Dalam hal ini kita memang perlu mempunyai teman sejati. Jenis teman itu adalah teman yang selalu mengingatkan kita pada hal yang benar meskipun itu berisiko mengganggu hubungan persahabatan tersebut.
            “Teman sejati” macam itu sangat penting buat kita, alih-alih memiliki teman yang selalu memuji dan menutup mata pada kesalahan kita. Apalagi ketika kita sedang di atas angin.
            Teman yang banyak, ataupun pengikut yang melimpah tidak menjamin kita mendapatkan feedback yang berguna buat kita, buat perusahaan kita, buat institusi kita. Kalau ternyata mereka hanya unggul dalam jumlah, dan tidak memiliki manfaat dalam perbaikan diri kita.
            Jika kita berharap evaluasi bisa efektif dari masukan teman jenis itu, dan bukan “teman sejati” maka jangan harapkan ada perbaikan. Dalam konteks perusahaan, jika kita meminta masukan dari pihak lain yang hanya menyiapkan pujian bagi perusahaan maka tahun depan berpotensi tidak ada perbaikan. Dalam konteks pemerintah, jika kita meminta masukan dari para follower dan pendukung saja, hampir bisa dipastikan perbaikan yang diharapkan hanya akan mencapai angka minimal.
            Nah, dalam hal inilah kita butuh pengritik yang bisa memberikan masukan secara jujur dan apa adanya. Jika diibaratkan sebagai sebuah tubuh, kritik adalah obat dan jamu mujarab bagi tubuh. Dan pujian akan hanya akan menjadi permen atau makanan-makanan manis yang berpotensi menyebabkan diabetes.
            Jadi tidaklah berlebihan jika kita mulai meningkatkan energi evaluasi ketimbang selalu meningkatkan energi “ngeles” kita. Itu kalau kita ingin memperbaiki diri dan membuat kinerja tahun depan lebih baik.
Dan tentu saja pada akhir tahun depan nanti, kita tidak lagi mengadakan evaluasi, rapat kerja atau apapun namannya, sebatas seremonial rutin belaka.
           (DIPUBLIKASIKAN OKT - NOV 2017)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fokus dan Distraksi

Pertanda

Kamuflase